Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Puasa tanpa Razia

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
05/4/2022 05:00
Puasa tanpa Razia
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RASANYA kita patut merunduk lebih dalam menyambut Ramadan kali ini. Bulan puasa yang membahagiakan terasa lebih bahagia karena banyak hal yang membuatnya lebih bahagia.

Ramadan ialah bulan yang membahagiakan disabdakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti diriwayatkan Muslim, beliau berkata, “Orang yang berpuasa meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya.”

Karena itulah, Ramadan ialah bulan yang selalu dinanti. Rindu umat Islam tak terperi untuk bertemu dengannya lagi dan lagi. Meski semua bulan sama, cinta umat Islam kepada bulan puasa lebih dari yang lain.

Ramadan bulan yang sarat nikmat. Di bulan ini, Alquran diturunkan. Di bulan ini, pahala dilipatgandakan. Di bulan ini pula rahmat, keberkahan, dan ampunan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah, dihamparkan.

Ramadan ialah sumber mata air kegembiraan dan kenikmatan. Kegembiraan, juga kenikmatan, kiranya berlipat di Ramadan ini.

Kita lebih bergembira karena Ramadan tahun ini bisa dirayakan seperti biasanya. Pandemi covid-19 dalam dua tahun terakhir menyandera semua segi kehidupan, tak terkecuali ibadah Ramadan. Akibat keganasan virus korona, Ramadan 1441 Hijriah atau 2020 Masehi dan 1442 Hijriah/2021 Masehi mesti dijalani dengan banyak rambu-rambu.

Selama dua tahun itu, salat tarawih berjemaah di masjid dibatasi, bahkan dilarang. Salat tarawih berjemaah di masjid memang mendatangkan pahala berlipat. Akan tetapi, demi mencegah mudarat menyebarnya korona, ia ditiadakan. Pun ibadah-ibadah lain di tempat-tempat ibadah.

Akibat amuk covid-19, mudik juga dilarang. Mudik memang amat berfaedah untuk menjalin silaturahim dan mendistribusikan rezeki. Namun, karena berpotensi memperparah musibah pandemi, pemerintah tak mengizinkannya.

Kini, tarawih berjemaah di masjid dan mudik diperbolehkan lagi. Tentu saja juga salat Idul Fitri nanti. Itulah kebahagiaan tiada tara. Kebahagiaan karena kita kembali berkesempatan menjemput lebih banyak pahala, juga karena kita kembali bisa melakukan injeksi sosial.

Rasanya kita patut bersujud lebih lama untuk mensyukuri nikmat-Nya. Nikmat bahwa kemenangan dalam perang panjang melawan covid-19 telah menjelang. Nikmat bahwa oleh karena itu, kita bisa lagi menjalankan puasa secara lebih bahagia.

Kebahagiaan semakin lengkap karena puasa kali ini tak lagi diwarnai razia. Setidaknya sampai dua hari (menurut pemerintah) atau tiga hari pertama puasa (menurut Muhammadiyah), tak terdengar kabar sweeping warung-warung makan.

Kenapa kabar itu membahagiakan? Karena razia warung makan di saat Ramadan ialah sesuatu yang menyedihkan. Menyedihkan karena jelas membuat mereka yang dirazia bersedih lantaran tak bisa mendapatkan rezeki. Lebih dari itu, tidak ada dasar apa pun untuk memaksa warung makan tutup di waktu siang selama Ramadan.

Dulu, kita menyaksikan banyak kisah pilu ketika warung-warung makan di-sweeping karena buka siang hari di bulan puasa. Pelakunya bisa dari ormas, bisa pula aparat. Yang paling heboh ialah tatkala Satpol PP Kota Serang merazia warung dan menyita dagangan Saeni pada 2016. Emak-emak berusia 53 tahun itu menangis dan memohon jualannya tak diangkut. Namun, telinga aparat terlalu rapat untuk mendengar isaknya.

Ada dalih, melarang warung makan buka siang hari untuk menghormati orang yang berpuasa. Kata mereka, itulah bentuk toleransi. Pertanyaannya, penting dan perlukah penghormatan seperti itu?

Tenggang rasa semestinya datang dari hati. Bukan dipaksa atau karena terpaksa. Menghormati orang berpuasa karena dipaksa atau terpaksa tiada guna. Ia toleransi semu dan kita tentu tidak menginginkan itu.

Banyak yang berpendapat melarang warung makan buka siang hari di bulan puasa ialah bentuk lemahnya iman. Saya sepakat. Masa sih kita tergoda untuk makan hanya karena melihat orang makan di warung makan? Masa sih keteguhan kita untuk menahan lapar dan haus setipis tirai yang menutupi warung makan?

Ada pula yang berpendapat, melarang dan merazia warung makan di siang hari saat Ramadan sama saja tak malu pada orang miskin. Saya juga sepakat itu.

Seperti Gus Miftah bilang, orang miskin rutin menahan lapar, bahkan tidak jarang tak makan, tapi mereka tak pernah mengusik warung makan. Mereka woles saja. "Dia lewat restoran sepanjang tahun, dia tidak pernah emosi. Kita hanya sebulan menahan itu (makan) kenapa kita emosi, kita harus malu.”

Puasa ialah ibadah yang membahagiakan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga buat orang lain. Percuma kita bergembira menjalankan puasa, tetapi ada yang lara di luar sana.

Penegasan Majelis Ulama Indonesia bahwa warung makan tak perlu tutup di siang hari selama Ramadan layak kita apresiasi. Larangan MUI kepada masyarakat agar tak melakukan razia patut kita dukung. Untuk MUI daerah atau pemda yang masih mengharamkan warung makan buka siang hari, semoga segera mendapat pencerahan.

Puasa masih panjang. Mudah-mudahan kebahagiaan kian kentara, semakin paripurna. Selamat berpuasa.



Berita Lainnya
  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.