Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Puasa tanpa Razia

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
05/4/2022 05:00
Puasa tanpa Razia
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RASANYA kita patut merunduk lebih dalam menyambut Ramadan kali ini. Bulan puasa yang membahagiakan terasa lebih bahagia karena banyak hal yang membuatnya lebih bahagia.

Ramadan ialah bulan yang membahagiakan disabdakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti diriwayatkan Muslim, beliau berkata, “Orang yang berpuasa meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya.”

Karena itulah, Ramadan ialah bulan yang selalu dinanti. Rindu umat Islam tak terperi untuk bertemu dengannya lagi dan lagi. Meski semua bulan sama, cinta umat Islam kepada bulan puasa lebih dari yang lain.

Ramadan bulan yang sarat nikmat. Di bulan ini, Alquran diturunkan. Di bulan ini, pahala dilipatgandakan. Di bulan ini pula rahmat, keberkahan, dan ampunan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah, dihamparkan.

Ramadan ialah sumber mata air kegembiraan dan kenikmatan. Kegembiraan, juga kenikmatan, kiranya berlipat di Ramadan ini.

Kita lebih bergembira karena Ramadan tahun ini bisa dirayakan seperti biasanya. Pandemi covid-19 dalam dua tahun terakhir menyandera semua segi kehidupan, tak terkecuali ibadah Ramadan. Akibat keganasan virus korona, Ramadan 1441 Hijriah atau 2020 Masehi dan 1442 Hijriah/2021 Masehi mesti dijalani dengan banyak rambu-rambu.

Selama dua tahun itu, salat tarawih berjemaah di masjid dibatasi, bahkan dilarang. Salat tarawih berjemaah di masjid memang mendatangkan pahala berlipat. Akan tetapi, demi mencegah mudarat menyebarnya korona, ia ditiadakan. Pun ibadah-ibadah lain di tempat-tempat ibadah.

Akibat amuk covid-19, mudik juga dilarang. Mudik memang amat berfaedah untuk menjalin silaturahim dan mendistribusikan rezeki. Namun, karena berpotensi memperparah musibah pandemi, pemerintah tak mengizinkannya.

Kini, tarawih berjemaah di masjid dan mudik diperbolehkan lagi. Tentu saja juga salat Idul Fitri nanti. Itulah kebahagiaan tiada tara. Kebahagiaan karena kita kembali berkesempatan menjemput lebih banyak pahala, juga karena kita kembali bisa melakukan injeksi sosial.

Rasanya kita patut bersujud lebih lama untuk mensyukuri nikmat-Nya. Nikmat bahwa kemenangan dalam perang panjang melawan covid-19 telah menjelang. Nikmat bahwa oleh karena itu, kita bisa lagi menjalankan puasa secara lebih bahagia.

Kebahagiaan semakin lengkap karena puasa kali ini tak lagi diwarnai razia. Setidaknya sampai dua hari (menurut pemerintah) atau tiga hari pertama puasa (menurut Muhammadiyah), tak terdengar kabar sweeping warung-warung makan.

Kenapa kabar itu membahagiakan? Karena razia warung makan di saat Ramadan ialah sesuatu yang menyedihkan. Menyedihkan karena jelas membuat mereka yang dirazia bersedih lantaran tak bisa mendapatkan rezeki. Lebih dari itu, tidak ada dasar apa pun untuk memaksa warung makan tutup di waktu siang selama Ramadan.

Dulu, kita menyaksikan banyak kisah pilu ketika warung-warung makan di-sweeping karena buka siang hari di bulan puasa. Pelakunya bisa dari ormas, bisa pula aparat. Yang paling heboh ialah tatkala Satpol PP Kota Serang merazia warung dan menyita dagangan Saeni pada 2016. Emak-emak berusia 53 tahun itu menangis dan memohon jualannya tak diangkut. Namun, telinga aparat terlalu rapat untuk mendengar isaknya.

Ada dalih, melarang warung makan buka siang hari untuk menghormati orang yang berpuasa. Kata mereka, itulah bentuk toleransi. Pertanyaannya, penting dan perlukah penghormatan seperti itu?

Tenggang rasa semestinya datang dari hati. Bukan dipaksa atau karena terpaksa. Menghormati orang berpuasa karena dipaksa atau terpaksa tiada guna. Ia toleransi semu dan kita tentu tidak menginginkan itu.

Banyak yang berpendapat melarang warung makan buka siang hari di bulan puasa ialah bentuk lemahnya iman. Saya sepakat. Masa sih kita tergoda untuk makan hanya karena melihat orang makan di warung makan? Masa sih keteguhan kita untuk menahan lapar dan haus setipis tirai yang menutupi warung makan?

Ada pula yang berpendapat, melarang dan merazia warung makan di siang hari saat Ramadan sama saja tak malu pada orang miskin. Saya juga sepakat itu.

Seperti Gus Miftah bilang, orang miskin rutin menahan lapar, bahkan tidak jarang tak makan, tapi mereka tak pernah mengusik warung makan. Mereka woles saja. "Dia lewat restoran sepanjang tahun, dia tidak pernah emosi. Kita hanya sebulan menahan itu (makan) kenapa kita emosi, kita harus malu.”

Puasa ialah ibadah yang membahagiakan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga buat orang lain. Percuma kita bergembira menjalankan puasa, tetapi ada yang lara di luar sana.

Penegasan Majelis Ulama Indonesia bahwa warung makan tak perlu tutup di siang hari selama Ramadan layak kita apresiasi. Larangan MUI kepada masyarakat agar tak melakukan razia patut kita dukung. Untuk MUI daerah atau pemda yang masih mengharamkan warung makan buka siang hari, semoga segera mendapat pencerahan.

Puasa masih panjang. Mudah-mudahan kebahagiaan kian kentara, semakin paripurna. Selamat berpuasa.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik