Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Semoga Pak Jokowi Marah Lagi

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
29/3/2022 05:00
Semoga Pak Jokowi Marah Lagi
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MARAH hal yang lumrah. Siapa pun boleh marah ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak disukai atau mengecewakan hati. Termasuk presiden.

Karena itu, tidak ada yang luar biasa sebenarnya ketika Presiden Joko Widodo marah dalam acara Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia di Bali, Jumat (25/3). Yang hadir dalam acara itu komplet. Ada menteri, ada kepala daerah, ada pejabat BUMN. Di hadapan mereka, Jokowi berterus terang bahwa dirinya geregetan, kesal, jengkel, marah.

Kemarahan Jokowi dipicu masih adanya kementerian, pemerintah daerah, dan BUMN yang gemar membeli barang impor. Dia sampai memerinci barang-barang itu. Buku tulis, ballpoint, CCTV, sepatu dan seragam TNI-Polri, traktor pertanian, hingga tempat tidur rumah sakit dia sebutkan. Beberapa menteri kena semprot. Belakangan Polri memastikan 98% seragam yang mereka kenakan buatan dalam negeri. Tinggal 2% yang impor karena tidak diproduksi di dalam negeri.

Dari gestur, dari raut wajah, dari pilihan kata-kata, Jokowi marah betul kali ini. Hadirin yang mencoba bertepuk tangan dilarang. Ancaman untuk mengganti menteri yang tetap doyan produk luar negeri dilontarkan.

Jokowi marah sejatinya bukan hal yang baru. Pada Mei 2020, dia meluapkan kejengkelannya saat membuka rapat terbatas. Pemantiknya, penyaluran bansos tunai berbelit-belit dan lambat sampai ke penerima.

Sebulan kemudian, Jokowi kembali marah. Dia kesal bukan kepalang karena masih ada anak buahnya yang tak punya sense of crisis dalam krisis akibat pandemi covid-19. Saat membuka Sidang Kabinet Paripurna, dia langsung membuka pidatonya dengan nada tinggi.

"Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa enggak punya perasaan? Suasana ini krisis!" ketus Jokowi ketika itu. Dia juga mengancam akan melakukan perombakan kabinet jika diperlukan.

Di bulan yang sama, Jokowi lagi-lagi marah. Penyebabnya, proses pemberian intensif bagi tenaga kesehatan yang menangani covid-19 terlalu berbelit.

Tak cuma Jokowi yang bisa marah. Presiden sebelumnya, SBY, beberapa kali juga marah. Pada 2008, SBY marah-marah karena dalam rapat kabinet para menteri malah ngerumpi.

Pada 2013, SBY marah lagi. Pangkal masalahnya, harga bawang naik. Dia menginstruksikan jajarannya untuk bekerja secara serius dan tak hanya pencitraan di depan media.

Masalah kebakaran hutan dan lahan juga pernah memicu amarah SBY. Dua kali malah. Pertama pada 2006, dia marah karena para menteri menjadikan bencana asap sebagai bahan candaan sebelum rapat di istana. Kemudian, 2014, SBY marah karena ada menteri koordinator dan gubernur terkait justru absen dalam rapat penanggulangan bencana asap.

Gus Dur yang dikenal humoris, menurut orang terdekatnya, Wimar Witoelar, pun pernah memarahi kabinetnya dalam rapat. Hanya saja, kemarahan Gus Dur tak terekam karena saat itu Youtube belum seramai sekarang. Begitu pula dengan Presiden Soekarno, Pak Harto, BJ Habibie, dan Megawati Soekarnoputri.

Marah kerap dianggap sebagai emosi negatif yang perlu dihindari. Namun, sebagai sifat alami manusia, marah mustahil dihilangkan. Yang terpenting ialah bagaimana mengelola amarah sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Apalagi bagi seorang presiden.

Presiden juga manusia. Wajar jika dia marah. Yang penting bukan pemarah. Tidak suka marah-marah. Bahaya kalau presiden darting, darah tinggi. Seluruh rakyat berisiko jadi korban jika pemimpinnya gagal mengontrol emosi. Bung Hatta pernah bilang, jika ada pemimpin pemarah, sebaiknya ditanyakan saja kepada ahli jiwa.

Eloknya, marah seorang pemimpin juga tidak kebablasan. Tidak dengan kata-kata kotor, kata-kata kasar. Tidak baik mulut pemimpin tidak tertib.

Marah punya sisi positif. Marah bahkan dianggap sebagai ekspresi perlawanan atas kemandekan. Malcolm X pernah berkata, ''Ketika mereka marah, mereka tengah membuat perubahan.''

Akan tetapi, sekali lagi, marah yang baik ialah marah yang tahu waktu dan tempat. Kalau mengutip tulisan Herry Tjahjono berjudul Pemimpin Pemarah, pemimpin yang hebat juga memerlukan kompetensi kemarahan yang memadai. Ada tiga aspek yang perlu dipahami. Pertama, spirit kemarahan harus jelas, yakni untuk mendobrak status quo.

Kedua, sifat kemarahan mesti genuine dan objektif. Pemimpin marah karena memang harus marah. Tidak dibuat-buat. Bukan untuk pencitraan. Bukan untuk menunjukkan seolah membela rakyat. Pemimpin marah bukan pula berlandaskan subjektivitas, bukan karena sentimen.

Ketiga, tujuan kemarahan. Aspek itu sangat penting karena kemarahan harus dimaksudkan untuk menghasilkan perubahan. Anger is a decisive tool, kemarahan yang menghasilkan keputusan efektif, keputusan yang bisa memecahkan persoalan, memberikan jalan keluar.

Jika beli produk asing masih menjadi hobi kementerian/lembaga, pemda, atau BUMN, kiranya Presiden Jokowi pantas menumpahkan kejengkelannya. Melampiaskan kemarahannya. Instruksi untuk mencintai dan menggunakan produk bangsa sendiri sudah lama diberikan. Kalau sampai sekarang masih ada orang dalam yang mengabaikan, keterlaluan betul mereka.

Namun, marah saja tidaklah cukup. Presiden harus memastikan agar kemarahannya tak sia-sia. Harus ada perubahan. Jangan mau lagi enggak direken anak buah sendiri.

Jokowi lumrah marah karena masalah produk impor. Kemarahan itu pula yang juga kita tunggu terkait dengan kekarut-marutan minyak goreng. Semoga Pak Jokowi marah lagi. Siapa tahu benang kusut yang sudah berbulan-bulan akhirnya terurai dan jeritan emak-emak bisa disudahi.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik