Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Sok Gaya Kaya

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
17/3/2022 05:00
Sok Gaya Kaya
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

NASIHAT bijak ditulis Suhardi dalam buku The Life’s Gold. Pada halaman 188 disebutkan kalau ingin menjadi kaya, jadilah kaya benaran, bukan sok gaya yang hanya menjadikan Anda terlihat kaya dari luar.

Tidak sedikit orang yang sok gaya kaya. Mereka memamerkan kekayaan di hadapan publik pada masa pandemi covid-19 pula. Pada saat banyak orang menanggung derita kesehatan dan perekonomian, orang-orang sok gaya kaya berseliweran di dunia maya. Tidak punya simpati apalagi empati.

Benarlah kata Thomas J Stanley dalam bukunya berjudul Stop Acting Rich yang dikutip Suhardi, hanya sedikit yang memang benar-benar kaya, kebanyakan hanya terlihat kaya. Orang yang terlihat kaya belum tentu kaya.

Mereka yang kebanyakan hanya terlihat kaya itulah yang kini menyesaki atmosfer negeri ini. Tanpa malu-malu mereka menyebut diri sebagai crazy rich, ada pula yang menyebut diri sebagai sultan. Di antara mereka sudah ada yang berurusan dengan hukum, menjadi tersangka karena tipu-tipu untuk terlihat kaya.

Orang-orang yang sesungguhnya superkaya ternyata tidak tertarik memamerkan kekayaan mereka. Sosiolog Rachel Sherman, misalnya, mewawancari 50 orangtua di New York dengan pendapatan minimal Rp4 miliar per tahun. Kesamaan di antara mereka ialah merobek label harga barang yang dibeli. Tujuan dari membuang label ini sendiri agar label itu tidak diketahui orang lain, terutama para asisten rumah tangga yang ada di rumahnya.

Bayangkan, asisten rumah tangga saja tidak boleh mengetahui harga barang yang dibelinya. Sebaliknya di negeri ini, mereka yang mengaku diri sebagai superkaya itu memanfaatkan seluruh saluran media sosial untuk pansos alis panjat sosial.

Penelitian Fajar Bayu Aji dari Universitas Indonesia sangat menarik. Hasil penelitian Refleksi Kritis atas Degradasi Autentisitas Masyarakat Media dimuat di Jurnal Komunikasi, April 2020. Peneliti menemukan adanya keterhubungan antara kapitalisme, media sosial, dan degradasi autentisitas.

Disebutkan dalam hasil penelitian itu bahwa media sosial telah memfasilitasi sedemikian rupa masyarakat untuk pamer. Ini terjadi dalam dua bentuk, yakni melalui komoditas barang dan pengalaman. Masyarakat pamer yang difasilitasi oleh media sosial ini kemudian mendegradasi sedemikian rupa autentisitas masyarakat karena dorongan untuk terus mengejar bayang-bayang atau ilusi.

Mengejar ilusi alias pamer itulah yang dilakukan Doni Salmanan, crazy rich asal Bandung yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ia memberikan saweran Rp1 miliar kepada Youtuber Reza Arap yang sedang live streaming game Ragnarok X.

Ketika Reza bertanya alasan memberikan donasi, Doni Salmanan menjawab, “Dari dulu Doni suka dengan konten-konten Reza Arap. Saya donasi benar-benar ikhlas dari hati saya, gak ada niat apa-apa atau gimana, ya. Saya suka melihat ekspresi kamu, itu menghibur kita semua."

Lain lagi cara pamer Indra Kesuma, crazy rich asal Medan yang juga sudah menjadi tersangka. Gara-gara tidak bisa tidur pada subuh pukul 03.00 WIB, Indra membeli Tesla Model 3 di situs jual beli online Tokopedia. "Efek gak bisa tidur, jadi beli Tesla deh pukul 03.00, belinya dari Tokped (ini beneran ya serius)," tulis dia di akun Instagram-nya.

Perilaku Doni dan Indra mengonfirmasi hasil penelitian dari Psychology Today bahwa generasi sekarang bisa menjadi generasi paling narsis sepanjang sejarah, pemicunya ialah media sosial.

Narsis, pamer harta, tentu saja perbuatan tidak terpuji. Menjadi tidak terpuji jika orang menjadi budak media sosial. Mereka yang menyebut diri sebagai crazy rich itu sesungguhnya ialah orang-orang yang tidak menjadi tuan atas harta, tetapi mereka menjadi budak harta.

Kiranya tepat peringatan Paus Fransiskus agar manusia tidak mabuk oleh harta atau bersikap materialistis. Dia menyeru agar lebih banyak ketenangan hati dalam dunia yang terobsesi dengan ‘konsumerisme dan hedonisme, kekayaan dan pemborosan’.

Tidak kalah pentingnya tentu saja bijak bermedia sosial sehingga kita tidak menjadi budak media sosial. Rekomendasi penelitian Fajar Bayu Aji ialah pentingnya bersikap bijak dengan media sosial dengan menggunakannya sesuai keperluan dan tetap menjaga jarak dengan media sosial supaya masyarakat media dapat bersikap kritis dan mempertahankan autentisitas dirinya dengan tetap mengutamakan relasi humanitas di atas relasi komoditas.

Mudah saja membedakan orang kaya benaran dan pura-pura kaya seperti yang diulas di situs ojk.go.id. Orang kaya benaran malas membahas kekayaan dengan membicarakannya kepada orang lain atau menampilkannya di media sosial. Sebaliknya, orang yang hanya berpura-pura kaya akan selalu bersemangat dan dengan sukarela menghabiskan banyak waktunya untuk sekadar menunjukkan dan melebih-lebihkan kekayaannya kepada orang lain di sekitarnya. Tipe orang seperti ini namanya sok gaya kaya.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.