Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Disiram Minyak Dunia

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
09/3/2022 05:00
Disiram Minyak Dunia
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEKAN lalu, di forum ini saya menulis bahwa tidak ada yang diuntungkan perang, bahkan negara yang sedang berperang itu sendiri. Hari-hari ini, saya makin yakin bahwa hanya kerugian demi kerugianlah yang dituai dari perang.

Serangan Rusia ke Ukraina, yang terus-menerus terjadi, dengan cepat menggoreskan luka global yang dalam. Warga dunia, termasuk Indonesia, mulai merasakan dampak superperih akibat perang Rusia-Ukraina tersebut. Harga minyak mentah dunia jenis brent untuk pengiriman Mei, misalnya, sudah menembus lebih dari US$129 per barel. Itu harga tertinggi dalam kurun satu setengah dekade terakhir.

Bahkan, sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa melambung melampaui US$150 per barel jika perang Rusia-Ukraina tidak kunjung dihentikan. Sejak ketegangan di negara bekas Uni Soviet itu terjadi, harga minyak sudah naik 60%. Kondisi itu tak lepas dari rencana Amerika dan sekutu mereka melarang impor minyak dari Rusia.

Padahal, Rusia ialah negara dengan produksi minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Data British Petroleum Statistical Review of World Energy 2021 menunjukkan Rusia memproduksi 524,4 juta ton minyak atau 12,6% dari total produksi minyak global 2020. Produksi itu setara dengan lebih dari 10,5 juta barel minyak mentah per hari.

Bagi Indonesia, naiknya harga minyak dunia lebih menjadi musibah ketimbang berkah. Dalam beberapa dekade terakhir, konsumsi minyak nasional hampir dua kali lipat produksi. Konsumsi minyak kita sekitar 1,45 juta barel per hari. Di sisi lain, produksi minyak nasional hanya 800 ribu barel per hari.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia pasti keteteran menghadapi situasi melambungnya harga 'emas hitam' dunia itu. Cadangan devisa kita juga pasti tergerus. Fiskal kita juga terganggu karena defisit APBN bakal membengkak. Pasti ada biaya puluhan triliun rupiah untuk menambah biaya subsidi minyak. Apalagi, dalam APBN, patokan harga minyak dunia disahkan pada angka US$63 per barel.

Di lapangan, naiknya harga minyak mentah langsung berimbas pada naiknya harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Harga BBM nonsubsidi di SPBU sudah naik lebih dari 15% dalam sepekan terakhir. Bisa diprediksi, harga BBM masih akan melambung pada April hingga Mei mendatang. Naiknya harga BBM pasti berefek domino pada naiknya harga-harga kebutuhan lainnya, yang dalam sebulan terakhir memang sudah naik.

Sebagian masyarakat yang sudah kencang ikat pinggangnya sudah sulit lagi untuk dianjurkan mengencangkan ikat pinggang. Mereka malah merindukan pelonggaran ikat pinggang karena virus korona makin terkendali. Namun, yang muncul justru meranggasnya daya beli karena 'disiram' melonjaknya harga minyak dunia.

Serangan Rusia ke Ukraina juga membuat harga gandum dan beras dunia mulai terkerek. Harga gandum dunia sudah mencapai US$11 per bushel, level harga tertinggi sejak 2008. Rusia sebagai pemasok gandum terbesar dunia mulai menahan pasokan mereka.

Dengan pasokan gandum yang mengetat seperti itu, dunia mulai berpaling ke beras. Alhasil, harga beras dunia mulai naik 4,2% menjadi US$16,89 per 100 pounds. Harga beras juga melaju naik 11% dalam dua pekan terakhir. Padahal, beras merupakan komoditas 'panas', khususnya bagi Indonesia. Naiknya harga beras yang tidak terkendali memicu ketidakstabilan politik.

Naiknya harga beras juga berpotensi diikuti kenaikan harga-harga komoditas pertanian lainnya. Itu terjadi lantaran harga pupuk dunia juga kian mendaki. Lagi-lagi, itu juga buah dari perang Rusia-Ukraina. Sejak 2 Februari hingga 1 April, Rusia melarang ekspor amonium nitrat, bahan utama pupuk nitrogen, demi memproteksi petani dalam negeri mereka.

Tahun lalu, Tiongkok juga menyetop pasokan fosfat ke pasar global, juga dengan alasan memproteksi petani mereka. Dampaknya, harga pupuk urea dan NPK yang bersumber dari fosfat meroket hingga 100%. Ujung-ujungnya, harga kebutuhan pangan berbasis pertanian akan susah turun.

Kiranya, ancaman kepedihan akibat pemuasan nafsu serakah yang tidak kunjung padam ini belum akan berakhir dalam waktu singkat. Meja-meja perundingan masih kosong-melompong. Belum tebersit niat bermufakat mengakhiri perang.

Yang riuh justru teriakan 'kemenangan' bersabung dengan jeritan kesengsaraan. Bara masih panas menyala. Yang ada masih tekad bulat untuk melumat. Apakah 'kiamat' memang sudah dekat?

 



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik