Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Berkelit di Masa Sulit

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
05/3/2022 05:00
Berkelit di Masa Sulit
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BEBERAPA hari terakhir ini mulai bermunculan tulisan tentang 'kiat menambal uang belanja di tengah kenaikan harga-harga kebutuhan pokok'. Kiat-kiat itu disampaikan para konsultan keuangan melalui sejumlah portal berita. Tujuannya agar pembaca mendapatkan inspirasi dan referensi jurus berkelit di masa sulit.

Bagi sebagian orang, isi dari konsultasi gratis itu tidak baru. Lebih-lebih lagi bagi rumah tangga 'gaek' yang sudah bertubi-tubi dihantam melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Beragam kiat tersebut bisa dianggap basi. Buang-buang waktu.

Saran agar mengganti goreng-gorengan dengan rebus-rebusan, beralih dari daging sapi ke ayam dan ikan, memperkecil irisan tahu dan tempe sebelum dibacem, mungkin malah bisa membuat pening keluarga lawas ini. Bisa dianggap menggarami lautan. Makin membuat hidup lebih 'asin'.

Namun, bagi keluarga baru, lebih-lebih yang baru merasakan era kesulitan sekali ini, nasihat keuangan itu cukup membantu. Minimal bisa menjadi semacam balsam pereda pening sementara waktu. Namun, sampai kapan pereda sakit kepala itu efektif berfungsi?

Jawabannya tergantung sejauh mana pemangku kebijakan di negeri ini mampu mengatasi keadaan. Naga-naganya keadaan belum bisa dikendalikan. Jurus mengguyur pasokan sejumlah kebutuhan pokok belum ampuh memaksa harga-harga turun.

Loh, kok bisa? Bisa saja kalau pemangku kebijakan, khususnya Kementerian Perdagangan, melihat kenaikan harga kebutuhan utama ini melulu dari perspektif pasokan dan permintaan. Dalam sudut pandang kacamata kuda seperti itu, ketika pasokan terpangkas, sedangkan permintaan tetap (bahkan meningkat), obatnya pasti: mengguyur pasokan.

Itulah yang dilakukan saat harga minyak goreng melambung tinggi. Indonesia sebagai pemilik lahan sawit terbesar di dunia, nyatanya tetap engap-engapan dihantam harga minyak goreng tinggi. Hingga pekan ini, guyuran minyak goreng ke pasar dengan anggaran triliunan rupiah itu belum bisa menstabilkan harga.

Meski pemerintah telah memberikan subsidi dan menentukan harga eceran tertinggi (HET) baru, kebijakan itu nyatanya belum efektif.

Terbukti di sejumlah daerah di Indonesia harga minyak goreng masih di atas HET Rp11.500 per liter untuk minyak curah, di atas Rp13.500 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana, dan lebih dari Rp14 ribu per liter untuk minyak goreng kemasan premium.

Dari hasil riset Ombudsman RI di Provinsi Riau, Sumatra Selatan, dan DKI Jakarta, misalnya, harga minyak goreng curah masih dibanderol Rp12 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Di Lampung, operasi pasar sudah digencarkan, tapi harga belum turun signifikan. Fakta bahwa selalu ada yang bermain di lahan becek, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, memancing di air keruh, tidak sepenuhnya diantisipasi.

Para pemain ini menempuh sejumlah cara. Saat mereka sudah menikmati subsidi harga dari pemerintah, mereka memborong barang lalu menahan distribusi barang itu di gudang. Barang pun kian langka di pasaran. Barang baru dikeluarkan lewat pintu belakang dengan harga tinggi, untuk dinikmati selisih harganya.

Negeri ini tidak selalu kalah oleh kasus yang kasatmata dan bukan kali ini saja terjadi tersebut. Persoalannya tidak melulu masalah pasokan dan permintaan. Pada 2018 dan 2019, misalnya, operasi besar-besaran tim Satgas Pangan sukses memberangus para pemain curang tersebut, terutama saat hari besar keagamaan. Dampaknya, harga kebutuhan pokok stabil dalam kurun tersebut, bahkan di kala hari raya yang biasanya diikuti naiknya harga-harga.

Rakyat rindu kerja sama dan ketegasan tim seperti itu. Apalagi, belitan kesulitan karena kepungan harga sudah ke mana-mana. Masalah minyak goreng belum selesai, harga tahu dan tempe juga ikut-ikutan naik karena lonjakan harga kedelai. Terbaru, harga daging sapi dan harga gula pasir juga ikut-ikutan melambung.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan lagi balsam, bukan sekadar jurus berkelit, melainkan sudah infus dan oksigen berlimpah untuk menyambung napas. Menggerakkan tim Satgas Pangan (yang di dalamnya ada anggota kepolisian) terbukti bisa menjadi cara ampuh jangka pendek hingga menengah untuk mengatasi keadaan. Ia bisa mengubah balsam menjadi infus dan oksigen untuk sementara waktu.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.