Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Nasionalisme ala Ukraina

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
04/3/2022 05:00
Nasionalisme ala Ukraina
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA tidak hendak ikut berpendapat siapa sesungguhnya yang salah siapa yang benar dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Banyak sudah analisis yang mengemuka, tetapi bagi saya, perang tetaplah perang. Ia cara paling primitif untuk menyelesaikan konflik yang ujung-ujungnya hanya menghadirkan lara.

Sebagai pihak yang memulai perang, Rusia tentu punya alibi tersendiri. Mereka menginvasi Ukraina, katanya demi melindungi keamanan negara mereka. Kata mereka, karena Ukraina yang sangat dekat Barat dan hendak bergabung dengan NATO merupakan ancaman serius mereka.

Itu alasan yang klise. Alasan yang biasa dilontarkan siapa pun yang memantik perang. Ia pembenaran yang sulit diterima kebenarannya oleh dunia internasional.

Ukraina tentu juga punya alasan untuk terlibat perang. Mereka terpaksa berperang untuk membela kehormatan dan kedaulatan bangsa. Alasan ini juga biasa dikemukakan siapa pun yang diajak perang. Ia pembenaran yang ada benarnya. Ia lebih bisa diterima masyarakat dunia.

Biarkan alasan berperang dengan alasan. Yang kita harapkan, perang di lapangan segera berkesudahan. Yang kita inginkan, Rusia dan Ukraina selekasnya menyatukan argumentasi untuk merajut kesepakatan damai.

Tidak ada sisi baik dari perang. Perang merugikan siapa pun. Yang kalah jadi abu, yang menang jadi arang. Itulah yang dialami Rusia dan Ukraina.

Meski superior, bukan berarti Rusia tak tekor. Ratusan tentara mereka tewas. Banyak mesin perang yang canggih dan mahal hancur. Ukraina tentu lebih parah lagi. Ribuan tentara dan warga sipil jadi korban. Infrastruktur yang ada luluh lantak.

Terlalu naif sebenarnya untuk mengatakan ada blessing in disguise, berkah di balik musibah perang di Ukraina. Namun, itulah yang bisa kita lihat. Meski terlalu kecil ketimbang musibah yang mahabesar, berkah itu tampak dari membuncahnya nasionalisme rakyat Ukraina.

Ukraina boleh saja kalah segala-galanya dari Rusia. Namun, mereka bukan tipe bangsa inferior. Mereka tetap punya keberanian luar biasa. Rakyat biasa pun kehilangan rasa takut untuk menghadapi musuh.

Berbagai rekaman menayangkan warga sipil dengan gagah berani menghadang kendaraan tempur Rusia. Seorang nenek tampak 'menceramahi' serdadu Rusia yang tengah berjaga. Ada pula seorang petani yang dengan traktornya 'mencuri' tank Rusia yang mogok.

Itulah wujud nyata dari nasionalisme. Itu pula yang diperlihatkan banyak pesohor Ukraina. Para atlet berbondong-bondong mewakafkan jiwa raga membela negara. Mereka rela menanggalkan kemapanan dan kenyamanan untuk hidup menderita, berperang di medan laga.

Sebut saja Yuriy Vernydub. Dia pelatih klub sepak bola Moldova kejutan di Liga Champions Eropa musim ini, Sheriff Tiraspol. Ada juga Oleg Luzhny, eks bintang Arsenal dan timnas Ukraina yang bergabung dengan tentara teritorial untuk melawan Rusia.

Tak ketinggalan petenis Sergiy Stakhovskiy dan petinju Vasyl Lomachenko. Lomachenko yang masih aktif bertarung siap memindahkan ring tinju ke medan perang. Dia bertekad memukul KO tentara Rusia.

Mantan petinju kelas berat Vitali Klitschko pun turun gunung. Begitu pula adiknya, Wladimir Klitschko. Petinju pemegang empat sabuk juara, Oleksandr Usyk, tak mau membuang waktu untuk membela tanah airnya selepas melawan Anthony Joshua di Inggris.

Dia terbang pulang dan mendaftar sebagai relawan pertahanan. "Teman, kita semua harus bersatu dan melalui ini semua karena kita menghadapi tantangan yang luar biasa sukar," seru Usyk di Instagram-nya.

Tak hanya laki-laki, perempuan ikut menyodorkan diri. Salah satunya Anastasiia Lenna, wanita cantik yang pernah mewakili Ukraina di ajang Miss Grand International 2015.

Model sekaligus pembawa acara televisi yang berbasis di Kyiv itu membagikan video di Instagram story. 'Latihan. Penjajah akan mati di tanah kita! Semua dunia melihat ini! Tunggu dan lihat apa yang akan terjadi', tulisnya dalam unggahan.

Hans Kohn mendefinisikan nasionalisme sebagai suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Kohn ialah filsuf dan sejarawan Amerika yang memelopori studi akademis nasionalisme.

Di Ukraina, nasionalisme sedang dimuliakan. Juga patriotisme. Rakyat Ukraina tengah berkompetisi untuk membuktikan kesetiaan dan cinta mati mereka kepada negeri.

Saya jadi berandai-andai, akankah pameran nasionalisme dan patriotisme serupa Ukraina juga akan dipentaskan di negeri ini jika diinvasi? Amit-amit invasi itu terjadi.

Namun, pertanyaan seperti itu kiranya layak diapungkan jika menilik kehidupan kita bernegara yang terus saja terbelah, yang sesama anak bangsa justru saling memusuhi.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.