Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Oki dan KDRT

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
05/2/2022 05:00
Oki dan KDRT
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA tidak heran mengapa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di negeri ini menunjukkan tren mendaki dalam hampir dua dekade terakhir. Tidak heran bukan berarti memaklumi. Ketidakterkejutan saya dipicu oleh masih banyaknya anggapan KDRT tidak layak diumbar ke publik. KDRT Itu aib domestik yang lebih baik ditutupi.

Anggapan itu bukan saja hidup di kalangan umum, melainkan juga menancap di pikiran sebagian kaum terdidik. Pun, hadir dalam argumentasi sebagian selebritas dan sejumlah penceramah agama. Jelas, pihak yang dirugikan dalam anggapan 'purba' semacam ini ialah kaum perempuan.

Kasus terakhir dan viral ialah ceramah Oki Setiana Dewi. Dalam ceramahnya yang tersebar luas di media sosial, artis yang juga penceramah itu bicara tentang istri yang baru dipukul suaminya. Tak lama, ibunda sang istri datang ke rumah. Namun, sang istri tidak menceritakan kejadian itu kepada ibunya demi melindungi aib sang suami.

Sang suami yang sempat deg-degan istrinya bakal mengadu kepada mertuanya, sontak luluh. Intinya, ceritanya happy ending, meski tidak dijelaskan bagaimana nasib istri yang menjadi korban kekerasan tersebut. Oki sempat berkata pula terkadang istri yang mendapat tindakan KDRT oleh suami suka melebih-lebihkan cerita.

Tidak mengherankan jika ceramah itu menuai kecaman. Ada yang menyebut, 'kok tega-teganya seorang perempuan tidak memiliki empati terhadap perempuan. Malah menuduh perempuan kerap melebih-lebihkan cerita'. Begitu respons negatif datang bertubi-tubi, Oki meminta maaf. Ia siap memperbaiki diri.

Ucapan Oki itu seakan menormalkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Dari ceramah itu, ada tiga poin yang membuat kaum perempuan kian tersudut. Pertama, tidak masalah suami memukul istri. Kedua, istri tidak boleh menceritakan kekerasan yang dialaminya karena hal itu merupakan aib rumah tangga. Ketiga, tidak memercayai korban dan menilai cerita KDRT kerap dilebih-lebihkan para istri.

Ceramah Oki tentu bukan kasus tunggal. Ada sejumlah ujaran serupa, disampaikan orang berbeda, dengan pesan yang kurang lebih sama. Bahkan, ada yang 'meneror' dengan menakut-nakuti bakal disiksa di neraka bila istri suka membuka aib dan 'menentang' suami. Sebaliknya, surga sudah menanti bagi para istri yang 'patuh' dan menyimpan rapat-rapat 'aib keluarga' itu.

Logika sesat nan menyesatkan itu hidup bertahun-tahun dengan menjadikan teks-teks dalam dalil agama yang sebenarnya bukan seperti itu pengertiannya. Dalam banyak literatur agama, yang terjadi justru ditegaskan bahwa KDRT dilarang. Malah, larangan itu sangat keras.

Dalam praktik nyata (best practice) di Islam, misalnya, yang ada malah sebaliknya. Dalam khotbah terakhirnya sebelum wafat, misalnya, Nabi Muhammad menyampaikan pesan benderang kepada kaum suami untuk melindungi dan mengasihi istri dan anak-anak mereka. Sebelum menyampaikan pesan itu, Nabi pun sudah mempraktikkannya terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sejarah perjalanan menyampaikan ajaran Tuhan, berkali-kali pula Nabi dilapori praktik KDRT yang dilakukan sejumlah suami pada masa itu. Alih-alih 'meneror' sang pelapor dan mengatakan itu aib, Nabi justru memanggil suami untuk dinasihati agar tidak mengulang tindakan kekerasan tersebut.

Tidak ada perkataan Muhammad yang lebih jelas tentang tanggung jawab suami terhadap istrinya, selain tanggapannya ketika ditanya. Kata Nabi, "Beri dia makanan saat kamu mengambil makanan, beri dia pakaian ketika kamu membeli pakaian, jangan mencaci wajahnya, dan jangan memukulinya."

Tafsir keagamaan yang berpihak kepada perempuan ini akan membantu memutus salah satu mata rantai KDRT. Jika tidak segera diputus, tren KDRT yang terus mendaki kian sulit dihentikan. Komnas Perempuan mencatat, selama 17 tahun, sepanjang 2004-2021, ada 544.452 kasus kekerasan dalam rumah tangga atau ranah personal. Kasus-kasus yang tercatat itu meliputi kekerasan terhadap istri, kekerasan terhadap anak perempuan, kekerasan terhadap pekerja rumah tangga, dan kekerasan relasi personal lainnya. Dari jenis-jenis KDRT itu, kekerasan terhadap istri selalu menempati urutan pertama dan selalu berada di atas 70%.

Ceramah Oki, walaupun isinya negatif, kiranya bisa menjadi panggilan untuk bangkit (wake up call) bagi semuanya untuk mengakhiri KDRT. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dibenarkan dalam agama, termasuk suami menampar istri. Menceritakan bukan untuk membuka aib, melainkan untuk bersama-sama memutus rantai kekerasan dalam perkawinan.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.