Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI covid-19 membuat banyak orang terbelah dalam dua kutub besar saat melihat masa depan, yakni optimisme dan pesimisme. Mereka yang optimistis memandang pandemi korona layaknya kawah candradimuka. Seperti kata Winston Churchill, orang-orang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.
Pada kutub yang lain, orangorang pesimistis memandang pandemi covid-19 yang tidak berkesudahan dengan murung. Bagi mereka, korona sudah setara labirin, sebuah sistem jalur yang rumit, berliku-liku, serta memiliki banyak jalan buntu. Ia sudah seperti tempat yang digunakan untuk mengurung Minotaur, makhluk mitos Yunani.
Namun, seperti yang kerap diulas di forum ini, harapan akan tumbuh dalam ruang optimisme. Banyak lipatan sejarah kita yang menunjukkan bahwa optimisme itu lebih dari separuh jalan keluar. Sisanya, ikhtiar keras dan cerdas. Modal optimisme membuat kita memenangi pertempuran, bahkan perang besar.
Persis seperti kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus yang yakin pandemi dapat berakhir pada 2022 karena kita sudah memiliki ‘senjatanya’, yakni vaksin. Dia mengatakan pandemi segera berakhir jika kesenjangan distribusi vaksin global dapat lekas diatasi.
Optimisme ‘bersyarat’ itu pula yang terlihat di forum Jumpa Pakar saat perayaan ulang tahun ke-52 harian ini, kemarin. Para ekonom yang hadir memandang kita sudah berada di rel yang benar dalam mengendalikan covid-19. Pandangan ‘benar’ yang dimaksud ialah kebijakan yang mendahulukan pengendalian pandemi ketimbang mengatasi mandeknya ekonomi.
Fithra Faisal Hastiadi, ekonom muda UI, misalnya, menyebutkan bahwa ekonomi akan selamanya mandek selama kita tidak mampu mengendalikan covid-19. Maka, sebut Direktur Eksekutif Next Policy itu, jalan yang ditempuh pemerintah dengan mendahulukan pengendalian pandemi sangat tepat. Kombinasi menginjak gas dan menarik rem terbukti membuat ekonomi kita mulai menggeliat.
Fithra dan lembaganya telah menganalisis seberapa besar dampak covid-19 terhadap perekonomian kita jika dibandingkan dengan sejumlah gangguan ekonomi lain. Di periode awal hingga tengah pandemi, gangguan covid-19 terhadap ekonomi mencapai lebih dari 18%. Angka itu lebih tinggi daripada gangguan ekspor, indeks harga konsumen, fluktuasi harga minyak, dan gangguan ekonomi lainnya yang rata-rata di rentang 9% hingga 14%.
Alhasil, efek pandemi covid-19 terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi kita juga paling tinggi di beberapa kuartal, hingga minus 0,76%. Angka tersebut juga lebih tinggi daripada kontraksi akibat gangguan atas indeks harga konsumen (-0,66%), gangguan ekspor (sekitar -0,48%), dan gejolak harga minyak (membuat kontraksi 0,46%). Maka, harapan akan perbaikan ekonomi yang lebih cerah di tahun ini dan tahun depan kian menemukan pijakan konkret.
Harapan itu serupa dengan optimisme bersyarat dari Dirjen WHO, Tedros Adhanom. Syarat dan ketentuan berlaku itu terletak pada merata atau tidaknya vaksinasi global. Bila kesenjangan vaksinasi covid-19 bisa diatasi pertengahan 2022 ini, pandemi korona amat mungkin bisa diakhiri di penghujung 2022. Rumus itu berlaku pula bagi vaksinasi di Tanah Air.
Jika kita menengok data, hingga pekan ini, Indonesia sudah menyuntikkan vaksin dosis pertama kepada 66% penduduknya, sedangkan untuk vaksin hingga dua dosis, angkanya masih lebih rendah, yakni sekitar 46% dari populasi. Jika melihat tren angka rata-rata vaksinasi harian, amat mungkin syarat kekebalan kelompok 70% warga sudah divaksinasi dua dosis bisa terpenuhi di pertengahan tahun ini.
Optimisme itu berpijak pada fakta bahwa Indonesia masih terus- menerus mendapatkan kiriman vaksin, khususnya dari skema unilateral. Pada saat bersamaan, pengembangan vaksin Merah Putih milik anak negeri juga terus menunjukkan kemajuan. Pada akhir tahun ini ditargetkan sudah mendapatkan izin penggunaan darurat untuk mulai bisa disuntikkan kepada masyarakat.
Jadi, cahaya terang itu sudah kian tampak. Kesempatan kita untuk cepat pulih dan melaju kencang sudah menjelang. Labirin covid-19 sudah bisa kita pecahkan, meski ada sejumlah hal harus kita bereskan. Kita ingin keluar dari jebakan labirin sekaligus selamat karena keluar dari pintu yang benar.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved