Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Percaya Media Arus Utama

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
19/1/2022 05:00
Percaya Media Arus Utama
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MASIH layakkah kita memercayai media arus utama di tengah kendali informasi di tangan media sosial? Secara subjektif, saya menjawab harus percaya. Bukan sekadar 'masih'. Harus itu aktif. Mencerminkan ikhtiar. Membuka ruang kesadaran.

Saya menjawab seperti itu karena dua hal. Pertama, karena saya memang bergelut di media arus utama dan karenanya perlu membela diri. Sikap apologetika tersebut saya ambil karena ada kerisauan akan masa depan media arus utama yang kian digerogoti media sosial dalam sebuah ladang 'pertempuran' yang tidak adil dan berimbang.

Tidak berimbang karena media arus utama harus berdarah-berdarah dengan biaya tidak murah, dengan jalan serbatidak mudah untuk menampilkan informasi investigatif, misalnya. Di sisi lain, dengan mudah dan murahnya media sosial memublikasikan hasil laporan media arus utama tersebut di berbagai kanal tanpa kompensasi memadai. Tidak ada hak publikasi (publisher rights) yang adil terhadap media arus utama.

Hanya segelintir negara yang sudah mengatur soal publisher rights ini. Australia salah satunya. 'Negeri Kanguru' itu tidak mau membiarkan yang kuat menggilas yang mulai lemah dalam sebuah pertandingan yang tidak sepadan. Australia tidak mau ada yang punah karena 'dimusnahkan' secara tidak adil.

Alasan kedua mengapa kita harus percaya media arus utama: karena di tengah 'tsunami' informasi, media arus utama punya alur pertanggungjawaban yang jelas. Ada gatekeeper (penjaga gerbang) berlapis yang membuat informasi di media arus utama relatif terjaga dari kesalahan atau kesesatan informasi.

Kalaupun ada bias pandang, kesalahan data, atau kesalahan kutip, ada mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Tentu kaidah tersebut tidak dimiliki media sosial. Secara normatif, media sosial memang tidak menuntut akuntabilitas yang ketat dan tinggi. Longgarnya media sosial tersebut menjadi musabab banyaknya misinformasi, disinformasi, bahkan malainformasi.

Tidak mengherankan bila dalam tiga tahun terakhir, mulai ada arus balik kepercayaan publik terhadap media arus utama. Tingkat kepercayaan pada media arus utama di Indonesia juga terus meningkat dan berada di posisi tertinggi di dunia.

Survei Edelman Trust Barometer 2021 yang diluncurkan pada 13 Januari 2021 menunjukkan tingkat kepercayaan pada media arus utama di Indonesia meningkat tiga poin dari 69 pada tahun sebelumnya menjadi 72 poin. Angka itu merupakan yang tertinggi di dunia setelah Tiongkok (70), India (60), Singapura (62), dan Malaysia (62). Secara global, tingkat kepercayaan pada media meningkat dua poin dari 49 menjadi 51.

Gambaran tidak jauh berbeda juga ditunjukkan hasil survei Dewan Pers tentang kepercayaan publik terhadap media arus utama dalam menyajikan informasi terkait pandemi covid-19. Survei yang melibatkan 1.020 responden di 34 provinsi itu menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap informasi covid-19 yang disajikan media arus utama ada di rentang 70% hingga 86%.

Gambaran tersebut berbeda jika dibandingkan dengan empat hingga enam tahun lampau saat media sosial sangat mendominasi terpaan informasi. Puncaknya terjadi pada 2015 saat angka kepercayaan publik terhadap media arus utama mencapai titik terendah. Survei Edelman Trust Barometer Report merekam pada tahun itu tingkat kepercayaan publik terhadap media hanya 51%. Padahal, pada 2010 masih sangat tinggi, yakni 86%.

Kiranya kepercayaan publik yang mulai pulih ini patut disyukuri. Juga, dijaga. Harapan besar publik kepada nilai keakuratan dan kepercayaan ini mesti dibayar lunas dengan sajian informasi yang lebih lengkap dan mendalam. Mesti ada klarifikasi, konfirmasi, dan disiplin verifikasi yang menjadi harga mati bagi media arus utama. Jurnalisme data yang presisi untuk kepentingan universal mesti diutamakan. Ini akan jadi pembeda pada data di media sosial yang cenderung untuk kepentingan kelompok. Di media arus utama, data mesti menjadi sumber referensi baru.

Jika media arus utama taat asas, ditambah adanya aturan yang adil, usia hanyalah angka. Zaman hanyalah penanda perubahan. Namun, napas dan takdir sejarah media arus utama akan hidup seterusnya. Tidak berubah jadi arus pinggiran.

Jadi, dari 'mimbar' Podium ini, saya ingin menyeru, percayai media arus utama. Termasuk, percaya pada Media Imdonesia, yang hari ini berulang tahun ke-52. Panjang umur Media Indonesia, panjang umur media arus utama, panjang umur hal-hal baik.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik