Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Wacana Usang Tiga Periode

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
14/1/2022 05:00
Wacana Usang Tiga Periode
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

WACANA masa jabatan presiden tiga periode ternyata belum juga mereda. Pun dengan dorongan penambahan masa jabatan Presiden Joko Widodo yang sebelumnya gencar disuarakan sejumlah kalangan.

Penegasan Presiden Jokowi berulang kali bahwa dirinya menolak masa jabatan presiden tiga periode tak mampu menyurutkan hasrat para pihak untuk terus mengapungkan wacana itu. Pernyataan Jokowi bahwa dirinya ogah masa baktinya ditambah tak mampu pula meredam keinginan pihak-pihak tertentu akan ide penambahan itu.

Ide itu memang tak lagi disuarakan dengan blak-blakan. Sikap tegas Jokowi membuat mereka malu-malu, tidak selantang dulu. Namun, kehendak masih ada. Belum sirna sepenuhnya.

Meski sudah jelas-jelas ditolak, kendati jelas-jelas mendapat penentangan khalayak, wacana jabatan presiden tiga periode tetap saja dipelihara. Ia bahkan masih dijadikan objek jajak pendapat. Terkini, Indikator Politik Indonesia yang melakukannya pada 6-11 Desember 2021.

Sigi melibatkan 2.020 responden dengan jumlah sampel basis 1.220 orang yang tersebar proporsional di 34 provinsi dan dilakukan penambahan 800 responden di Jawa Timur. Responden ialah masyarakat berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah alias yang punya hak pilih dalam pemilu.

Hasilnya, dukungan masa jabatan presiden tiga periode meningkat. Mereka yang sangat setuju 5,2% dan setuju 33,4%.

Memang, yang tidak setuju masih lebih dominan. Namun, mereka yang sependapat lebih tinggi ketimbang survei sebelumnya. Pada November 2021, umpamanya, yang sangat setuju 4,2% dan setuju 31,4%. Lalu, September 2021, yang sangat setuju cuma 2,8% dan setuju 31,4%.

Saat ditanya jika Jokowi maju kembali untuk ketiga kalinya, yang setuju bertambah pula. Sebanyak 6,7% sangat setuju dan 33,3% setuju. Bandingkan dengan November 2021, yang sangat setuju 5,7% dan setuju 32,7%. Pada September, yang sangat setuju 4,6% dan setuju 22,9%.

Perihal penambahan masa jabatan Jokowi hingga 2027 agar penanganan covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional bisa dituntaskan juga disurveikan. Untuk pertanyaan ini, 4,5% responden menjawab sangat setuju, 31% setuju, 32,9% kurang setuju, 25% tidak setuju sama sekali.

Saya lega, masyarakat yang tidak setuju masa jabatan presiden tiga periode dan menolak penambahan masa jabatan Jokowi tetap juara. Saya juga tak terusik meski jumlah yang setuju meningkat. Saya lebih terusik kenapa gagasan ini masih saja diwacanakan.

Apalagi, entah kebetulan atau tidak, pada saat bersamaan Menteri Investasi/Kepala BPKM Bahlil Lahadalia mengklaim para pengusaha setuju jika Pilpres 2024 diundur. Klaim yang mengundang banyak reaksi. Dia diingatkan tugasnya ialah investasi ekonomi, bukan investasi politik.

Sah-sah saja lembaga survei menyurvei pendapat terkait dengan wacana itu. Akan tetapi, untuk apa? Iseng? Saya rasa tidak. Masak lembaga-lembaga survei papan atas memilih objek asal-asalan?

Survei telah menjadi instrumen modern dalam demokrasi untuk memetakan pendapat publik. Namun, ia bukan untuk memengaruhi opini publik. Saya khawatir, jika terus dilakukan, publik justru akan terpengaruh oleh hasil survei semacam itu.

Wacana masa jabatan presiden tiga periode dan penambahan masa jabatan Presiden Jokowi, sudah usang. Usang karena UUD 1945, konstitusi kita, secara jelas telah menggariskan bahwa masa jabatan presiden maksimal hanya dua periode. Titik, tak pakai koma.

Kita tidak lagi berbangsa seperti di era Orde Lama yang presidennya, Bung Karno, oleh MPRS diangkat menjadi presiden seumur hidup pada 1963. Kita tidak lagi bernegara di era Orde Baru yang presidennya, Pak Harto, menjabat berkali-kali. Bahkan, sampai enam kali lebih.

Saat ini kita hidup dalam tatanan reformasi. Zaman yang dirancang untuk memuliakan prinsip-prinsip demokrasi. Salah satunya ya itu tadi, pembatasan masa jabatan presiden yang termaktub di Pasal 7 UUD 1945 hasil amendemen pertama. Isinya, Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

Tegas dan lugas. Setegas dan selugas bahwa masa jabatan Jokowi yang kini memasuki periode kedua hanya 10 tahun. Tidak boleh lebih. Tidak bisa ditambah, bahkan barang sehari.

Karena bukan kitab suci, konstitusi memang boleh direvisi. Kita pun sudah merevisinya sebanyak empat kali. Tapi, revisi dilakukan demi perbaikan, bukan pemburukan. Merevisi kembali UUD 1945 untuk menambah periode jabatan presiden jelas pemburukan demokrasi.

Lagi pula, buat apa konstitusi direvisi jika aktor utamanya menolak bermain. Jokowi bahkan menyebut yang ngomong  presiden tiga periode artinya tiga. “Satu, ingin menampar muka saya. Kedua, ingin cari muka padahal saya sudah punya muka. Ketiga, ingin menjerumuskan. Itu saja,” cetusnya, awal Desember lalu.

Sebagus apa pun seorang presiden, dia harus diganti jika sudah saatnya diganti. Kita tak perlu sangsi akan kemampuan para calon pengganti. Kita bangsa besar, punya stok banyak pemimpin besar.

Pembatasan masa jabatan presiden ialah salah satu masterpiece, karya agung, dan reformasi. Ia tak boleh dirusak oleh siapa pun, dengan cara apa pun, dan demi kepentingan apa pun. Ia sudah selesai.

Wacana masa jabatan presiden tiga kali dan penambahan masa bakti Jokowi mesti diakhiri. Jadi bahan ngerumpi di warung kopi saja ia tak layak, apalagi menjadi objek sigi.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.