Jumat 07 Januari 2022, 05:00 WIB

Memulihkan Tawa

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Memulihkan Tawa

MI/Ebet
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group.

TERTAWA itu menyehatkan. Ia juga murah, bahkan bisa didapat dengan cuma-cuma. Namun, sudah lama manusia di seantero dunia sulit untuk tertawa. Begitu pula kita.

Banyak manfaat yang bisa didapat dari tertawa. Tertawa ialah vitamin bagi banyak organ tubuh. Tertawa mampu meningkatkan jumlah sel imun. Dengan tertawa, aliran oksigen dalam pembuluh darah meningkat. Tekanan darah pun terjaga, jantung lebih sehat pula.

Boleh percaya, boleh juga percaya banget, bila sering tertawa, wajah akan tampak lebih cerah, lebih glowing, dan awet muda. Belum cukup, tertawa diyakini dapat membantu menurunkan berat badan. Teorinya, dengan tertawa kalori dalam tubuh berkurang, lemak ikut terbakar.

Itu untuk raga. Buat jiwa, tertawa juga banyak faedahnya. Para ahli kesehatan menyebut ketika tertawa tubuh kita akan menghasilkan hormon endorfin. Endorfin adalah pereda nyeri alami tubuh, yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap stres atau ketidaknyamanan. Dengan tertawa, stres atau depresi terobati.

Karena itu, berbahagialah mereka yang masih bisa dan suka tertawa. Tentu bukan yang tanpa sebab. Jika suka tertawa tanpa jelas, apa yang membuat tertawa justru berbahaya. Jangan-jangan ada yang sakit dalam jiwanya.

Tidak semua orang bisa leluasa tertawa. Tertawa serta-merta bisa menjelma sebagai barang langka. Contohnya, di Korea Utara baru-baru ini.

Di negeri komunis itu, tertawa baru saja dinyatakan sebagai barang haram. Maklumat ini berlaku selama 11 hari. Mulai 17 Desember 2021, tepat pada peringatan 10 tahun kematian Kim Jong-il, rakyat Korea Utara dilarang tertawa.

Kim Jong-il adalah mantan Pemimpin Korea Utara sekaligus ayah Pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong-un. Mendiang sangat dihormati, juga ditakuti. Sama seperti putranya.

Seluruh rakyat Korea Utara harus ikut berkabung. Semua harus tampak bersedih. Bagi yang ketahuan tertawa akan dicap sebagai penjahat kelas paus, penjahat ideologis. Jangan tanya seberapa berat hukumannya. Berat, berat sekali. Tujuh turunan bisa menangis.

Dunia, termasuk kita, juga sudah lama sepi dari gelak tawa. Bedanya, kita puasa tertawa bukan karena dipaksa penguasa untuk tidak tertawa. Kita jarang tertawa lantaran sekitar dua tahun sudah kita hidup dalam duka karena amuk virus korona.

Dalam suasana duka, tak elok kita tertawa. Jika ada yang masih gemar tertawa dalam suasana seperti itu, kiranya ia orang yang tunaempati, atau bahkan tak tahu diri.

Kini, almanak telah bersulih. Situasi juga berganti. Seiring dengan keberhasilan kita meredam sepak terjang korona, ada semburat cahaya bahwa kehidupan kita tidak akan lagi bermuram durja.

Dengan taktik antara gas dan rem, covid-19 sejauh ini bisa kita penetrasi. Dengan strategi menyeimbangkan dua orang di ujung ayunan yang berseberangan, pemerintah berhasil mengendalikan pandemi dan membangkitkan kembali ekonomi.

Dengan vaksinasi yang terus mendekati syarat terwujudnya kekebalan komunal, kiranya kita semakin kuat untuk melawan virus jahat. Benar bahwa ancaman varian anyar berlabel omikron berada di depan mata, tetapi semoga ia tak terlalu berbahaya.

Perekonomian terang kian menggeliat. Pemerintah optimistis ekonomi tahun ini terus bertumbuh menjadi lebih baik ketimbang tahun lalu. Kalangan pengusaha dan sebagian besar pengamat pun seirama.

Tak ketinggalan dengan masyarakat. Sigi terkini Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut, mayoritas rakyat optimistis dalam menatap perkembangan ekonomi 2022. Sebanyak 62,2% responden menilai perekonomian nasional akan membaik dalam setahun ke depan.

Optimisme terpancar pula dari wajah para pelajar. Mereka yang sekian lama terpenjara di tembok kamar bisa kembali ke sekolah untuk benar-benar belajar. Senang betul mereka.

Optimisme ialah sepertiga dari keberhasilan. Selebihnya tergantung pada ikhtiar dan doa. Ikhtiar kita bersama, doa kita bersama.

Setelah sekian purnama kita hidup dalam impitan kedukaan akibat korona, tak berlebihan kiranya kita mulai memulihkan tawa untuk menyambut kembalinya asa. Penulis AS Norman Cousins bilang, “Tertawa ialah satu di antara bentuk joging batin. Ia menggerakkan organ internal. Ia meningkatkan respirasi. Ia ialah pemicu harapan besar.”

Ujian memang belum sepenuhnya usai, tetapi setidaknya kita telah unjuk bukti sebagai bangsa yang tangguh. Ketangguhan itulah yang akan menopang kita menuntaskan tantangan secara paripurna.

Sudah kaku rahang ini, sudah membeku otak kita. Seperti kata penyair Inggris, Lord Byron, biarkan tawa yang menjadi obatnya. Terpenting, kita tidak terlena, tidak mabuk dalam euforia.

Baca Juga

MI/Ebet

Saga Djokovic

👤Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 18 Januari 2022, 05:00 WIB
PUPUS sudah ambisi Novak Djokovic untuk unjuk gigi lagi di Australia Terbuka...
MI/Ebet

Menimbang DKI-1

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 17 Januari 2022, 05:00 WIB
INGAR bingar bursa calon Gubernur DKI Jakarta 2024 tidak kalah serunya dengan bursa calon presiden. Sebab, peraih kursi DKI-1 berpeluang...
MI/Ebet

NU dan Perempuan

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Sabtu 15 Januari 2022, 05:00 WIB
TRADISIONAL dan modern dalam beberapa kasus menjadi sekadar simbolis. Ada orang atau kelompok yang secara ornamental dicap tradisional,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya