Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Narasi Besar Pelemahan KPK

Usman Kansong
11/5/2021 05:00
Narasi Besar Pelemahan KPK
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ANAK sekolahan atau anak kuliahan sering kali menyalahkan penguji atau soal ujian bila tak bisa menjawab soal ujian tersebut, kalau tak lulus ujian tersebut. Ini serupa tak pandai menari lantas lantai dipersalahkan.

Itulah yang terjadi dengan para pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi yang tak lulus tes wawasan kebangsaan untuk keperluan alih status sebagai aparatur sipil negara. Mereka menyalahkan soal ujian. Mereka mengatakan soal atau pertanyaan ujian janggal. Mereka menyalahkan penguji, yakni Badan Kepegawaian Negara, KPK, termasuk negara.

Mereka yang tidak lulus mengklaim diri sebagai orang hebat dan berintegritas, yang wawasan kebangsaannya tak perlu diragukan. Mereka menuding tes wawasan kebangsaan sekadar upaya menyingkirkan mereka.

Kalau hebat, kok, tak lulus? Ketidaklulusan mereka membuktikan klaim mereka hebat dan berintegritas cuma sepihak. Ibarat iklan detergen yang mencuci sendiri, mereka memuji diri sendiri.

Mereka disokong tim sorak lantas membangun narasi tes wawasan kebangsaan upaya melemahkan KPK. Padahal, tes wawasan kebangsaan jamak dilakukan untuk mereka yang akan menjadi ASN atau bekerja di lingkungan pemerintahan.

Mereka dan tim hore juga mengatakan pengalihan status pegawai KPK menjadi ASN sebagai upaya melemahkan KPK. Bila berstatus ASN, mereka tidak independen lagi. Padahal, pengalihan status pegawai KPK menjadi ASN merupakan pelaksanaan sejumlah undang-undang tentang KPK berikut peraturan pemerintah serta peraturan KPK.

Narasi pelemahan KPK dibangun sejak revisi Undang-Undang KPK digulirkan dan kemudian disahkan. Narasi itu sukses memantik unjuk rasa besar-besaran di sejumlah kota di Indonesia.

Sejumlah tokoh mendesak Presiden menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Namun, Presiden tidak memenuhi desakan tersebut. Presiden menolak menerbitkan perppu.

Narasi pelemahan KPK juga dialamatkan kepada fakta adanya penyidik KPK periode sekarang yang menerima suap. Padahal, di periode kepemimpinan sebelumnya ada penyidik yang juga menerima suap.

Lalu narasi pelemahan KPK ditujukan kepada fakta pimpinan KPK bertemu dengan pimpinan partai politik. Padahal, di kepemimpinan KPK sebelumnya juga ada pimpinan KPK yang bertemu dengan pimpinan parpol.

Bila itu semua dipandang kelemahan atau pelemahan, kelemahan atau pelemahan itu sudah terjadi sejak dulu, bukan baru terjadi setelah diundangkannya Undang-Undang KPK hasil revisi.

Sejumlah orang kemudian menggugat Undang-Undang KPK ke Mahkamah Konstitusi. MK menolak permohonan uji formil Undang-Undang KPK yang diajukan eks pimpinan KPK. MK memutuskan pengesahan Undang-Undang KPK sudah sesuai dengan prosedur formal.

MK menerima sebagian gugatan uji materi Undang-Undang KPK. MK mengabulkan uji materi bahwa penyadapan dan penggeledahan tidak memerlukan izin Dewan Pengawas. MK memutuskan KPK tetap memiliki kewenangan menghentikan penyidikan dan penuntutan terhadap perkara korupsi yang penyidikan dan penuntutannya tidak selesai dalam jangka waktu paling lama dua tahun sejak penerbitan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan.

Keputusan MK semestinya menyudahi pembentukan opini atau narasi besar pelemahan KPK. Daripada membangun narasi negatif pelemahan KPK, lebih baik membangun dan mendorong narasi positif penguatan KPK.

Namun, mereka kiranya tak rela menerima dengan hati lapang dan pikiran terbuka keputusan MK itu. Mereka hingga kini terus membangun narasi pelemahan KPK melalui tes wawasan kebangsaan dan pengalihan status pegawai KPK menjadi ASN.

Lalu, Feri Amsari, pakar hukum Universitas Andalas, mengunggah di media media sosial pertemuan Ketua KPK Firli Bahuri dengan seorang komisaris Pelindo. Feri menarasikan seolah Ketua KPK berjumpa dengan pejabat BUMN yang sedang beperkara di KPK. Padahal, Firli bertemu dengannya yang ketika itu berkapasitas sebagai pemimpin media. Pun, Pelindo ada empat perusahaan dan Pelindo tempat komisaris itu bertugas bukan Pelindo bermasalah secara hukum. Pertemuan dengan Firli itu dihadiri sejumlah pemimpin media lain.

KPK sendiri melakukan kontranarasi pelemahan KPK itu dengan kerja. KPK menangkap dua menteri, banyak kepala daerah, serta tersangka korupsi lainnya. KPK mencegah dan menangkal Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin yang diduga terlibat kasus korupsi Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial.



Berita Lainnya
  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.