Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
RESESI mungkin tercium dari dapur. Begitu mantan Menteri Keuangan Chatib Basri melukiskan kondisi perekonomian di saat krisis. Ingatan yang paling dekat dengan resesi ekonomi di negeri ini ialah tentang warung-warung tenda yang menjamur pada malam hari di pelbagai belahan Tanah Air pada 1997-1998.
Orang harus bertahan hidup, salah satunya dengan membuka warung tenda untuk menjual makanan. "Gambaran yang mirip kita temui hari ini, ketika pandemi covid-19 memukul ekonomi. Kita melihat bagaimana media sosial dipenuhi tawaran dari para penjual makanan. Berbagai 'dapur' muncul. Pembatasan fisik memaksa warung-warung tenda berubah menjadi warung-warung online. Esensinya sama: menawarkan makanan," kata Chatib.
Resesi, di samping membawa kecemasan, memacu kreativitas. Salah satunya melalui usaha informal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) membenarkan bukti anekdotal ini: per Agustus 2020 (enam bulan dalam pandemi), persentase pekerja penuh turun dari 71,04% menjadi 63,85% dari total penduduk bekerja. Sementara itu, pekerja informal meningkat menjadi 60,47% pada Agustus 2020 dari 55,88% pada Agustus 2019.
Namun, produksi kreativitas tersebut belum mampu mengikis gunungan kabar buruk. Parade kabar buruk itu terus menggumpal, menjadi teror, lalu mengancam rasa aman. Saking banyaknya kabar buruk, sedikit saja kabar baik terasa melegakan.
Di tengah situasi penuh ancaman akan kesehatan, juga ekonomi, adanya sedikit saja harapan menjadi patut dirayakan. Kabar bahwa kita telah mengamankan dosis vaksin, mulai menggeliatnya perekonomian, dan kian menurunnya kurva positif covid-19 membuat sedikit rasa aman itu kembali datang.
Di Bali, misalnya, orang mulai bisa tersenyum saat melihat rombongan kecil turis datang. Hawa geliat pariwisata mulai mereka rasakan kendati baru sedetik-2 detik. Maklum, sekitar 90% perekonomian Bali bertumpu pada pariwisata, terutama turis asing.
Setahun terakhir ialah kabar buruk, sangat buruk, bahkan lebih buruk daripada dampak serangan bom di Pulau Dewata itu beberapa tahun lalu. Saat bom Bali, pariwisata terpukul, tapi cuma lima bulan. Saat pandemi, pariwisata Bali mati suri hingga satu tahun. Tingkat keterisian hotel hanya 7% hingga 10%. Lebih dari seribu hotel tutup, lebih dari 60 hotel dijual karena berat di ongkos pemeliharaan.
Karena itu, rasa aman mesti diciptakan dan ditumbuhkan lagi. Saya sepakat dengan Sekretaris Kementerian Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso yang mengatakan kunci paling penting dalam menghadapi pandemi covid-19 dari sisi perekonomian ialah penciptaan rasa aman. Tanpa munculnya rasa aman, berbagai dukungan pemerintah hanya berdampak minim. Enggak nendang.
"Selama setahun, semua kebijakan sudah kita gulirkan, tapi pada akhirnya, kunci utamanya adalah bagaimana membangun rasa aman. Membangun rasa aman pada masyarakat, pelaku ekonomi, sehingga mau beraktivitas," kata Susiwijono dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Peta Okupasi Logistik dan Supply Chain, Selasa (9/3).
Tanpa ada rasa aman, insentif dalam bentuk apa pun dari pemerintah akan sulit menggerakkan perekonomian. Betul bahwa geliat ekonomi kian terasa. Ekspor meningkat, pasar mulai bergerak, perdagangan daring terus tumbuh. Namun, rasa waswas masih ada. Covid-19 masih dirasakan kehadirannya, bahkan mungkin di depan pintu rumah kita.
Lalu, bagaimana menciptakan rasa aman itu? Jawabnya sederhana: melawan rasa bosan. Pandemi telah mengajarkan bahwa hidup dalam disiplin protokol kesehatan ialah pelindung utama dari ancaman bahaya, sekaligus menghadirkan rasa aman.
Penerapan protokol kesehatan akan terus melekat meski vaksinasi telah dilakukan. Itulah yang menjadi palagan pertempuran melawan rasa bosan. Kisah Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan dalam 'membunuh' kebosanan saat harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat ialah kisah nyata yang patut ditiru. Vietnam dan Tiongkok bahkan telah memanen buah kesabaran melawan rasa bosan itu, yakni perekonomian yang tumbuh positif.
Karena peperangan ini masih bakal berlangsung lama, butuh pula tenaga dan kesabaran ekstra sebagai amunisinya. Siap-siap saja melawan rasa bosan setidaknya hingga pertengahan tahun depan. Ini bukan kabar buruk, melainkan bagian dari kewaspadaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved