Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Mengalahkan Kebosanan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
13/3/2021 05:00
Mengalahkan Kebosanan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RESESI mungkin tercium dari dapur. Begitu mantan Menteri Keuangan Chatib Basri melukiskan kondisi perekonomian di saat krisis. Ingatan yang paling dekat dengan resesi ekonomi di negeri ini ialah tentang warung-warung tenda yang menjamur pada malam hari di pelbagai belahan Tanah Air pada 1997-1998.

Orang harus bertahan hidup, salah satunya dengan membuka warung tenda untuk menjual makanan. "Gambaran yang mirip kita temui hari ini, ketika pandemi covid-19 memukul ekonomi. Kita melihat bagaimana media sosial dipenuhi tawaran dari para penjual makanan. Berbagai 'dapur' muncul. Pembatasan fisik memaksa warung-warung tenda berubah menjadi warung-warung online. Esensinya sama: menawarkan makanan," kata Chatib.

Resesi, di samping membawa kecemasan, memacu kreativitas. Salah satunya melalui usaha informal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) membenarkan bukti anekdotal ini: per Agustus 2020 (enam bulan dalam pandemi), persentase pekerja penuh turun dari 71,04% menjadi 63,85% dari total penduduk bekerja. Sementara itu, pekerja informal meningkat menjadi 60,47% pada Agustus 2020 dari 55,88% pada Agustus 2019.

Namun, produksi kreativitas tersebut belum mampu mengikis gunungan kabar buruk. Parade kabar buruk itu terus menggumpal, menjadi teror, lalu mengancam rasa aman. Saking banyaknya kabar buruk, sedikit saja kabar baik terasa melegakan.

Di tengah situasi penuh ancaman akan kesehatan, juga ekonomi, adanya sedikit saja harapan menjadi patut dirayakan. Kabar bahwa kita telah mengamankan dosis vaksin, mulai menggeliatnya perekonomian, dan kian menurunnya kurva positif covid-19 membuat sedikit rasa aman itu kembali datang.

Di Bali, misalnya, orang mulai bisa tersenyum saat melihat rombongan kecil turis datang. Hawa geliat pariwisata mulai mereka rasakan kendati baru sedetik-2 detik. Maklum, sekitar 90% perekonomian Bali bertumpu pada pariwisata, terutama turis asing.

Setahun terakhir ialah kabar buruk, sangat buruk, bahkan lebih buruk daripada dampak serangan bom di Pulau Dewata itu beberapa tahun lalu. Saat bom Bali, pariwisata terpukul, tapi cuma lima bulan. Saat pandemi, pariwisata Bali mati suri hingga satu tahun. Tingkat keterisian hotel hanya 7% hingga 10%. Lebih dari seribu hotel tutup, lebih dari 60 hotel dijual karena berat di ongkos pemeliharaan.

Karena itu, rasa aman mesti diciptakan dan ditumbuhkan lagi. Saya sepakat dengan Sekretaris Kementerian Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso yang mengatakan kunci paling penting dalam menghadapi pandemi covid-19 dari sisi perekonomian ialah penciptaan rasa aman. Tanpa munculnya rasa aman, berbagai dukungan pemerintah hanya berdampak minim. Enggak nendang.

"Selama setahun, semua kebijakan sudah kita gulirkan, tapi pada akhirnya, kunci utamanya adalah bagaimana membangun rasa aman. Membangun rasa aman pada masyarakat, pelaku ekonomi, sehingga mau beraktivitas," kata Susiwijono dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Peta Okupasi Logistik dan Supply Chain, Selasa (9/3).

Tanpa ada rasa aman, insentif dalam bentuk apa pun dari pemerintah akan sulit menggerakkan perekonomian. Betul bahwa geliat ekonomi kian terasa. Ekspor meningkat, pasar mulai bergerak, perdagangan daring terus tumbuh. Namun, rasa waswas masih ada. Covid-19 masih dirasakan kehadirannya, bahkan mungkin di depan pintu rumah kita.

Lalu, bagaimana menciptakan rasa aman itu? Jawabnya sederhana: melawan rasa bosan. Pandemi telah mengajarkan bahwa hidup dalam disiplin protokol kesehatan ialah pelindung utama dari ancaman bahaya, sekaligus menghadirkan rasa aman.

Penerapan protokol kesehatan akan terus melekat meski vaksinasi telah dilakukan. Itulah yang menjadi palagan pertempuran melawan rasa bosan. Kisah Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan dalam 'membunuh' kebosanan saat harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat ialah kisah nyata yang patut ditiru. Vietnam dan Tiongkok bahkan telah memanen buah kesabaran melawan rasa bosan itu, yakni perekonomian yang tumbuh positif.

Karena peperangan ini masih bakal berlangsung lama, butuh pula tenaga dan kesabaran ekstra sebagai amunisinya. Siap-siap saja melawan rasa bosan setidaknya hingga pertengahan tahun depan. Ini bukan kabar buruk, melainkan bagian dari kewaspadaan.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik