Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Kapolri Nasrani

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
12/1/2021 05:00
Kapolri Nasrani
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

LISTYO Sigit Prabowo, Jenderal Nasrani Kedua yang ditunjuk jadi Kapolri. Begitu judul berita fajar.co.id yang saya baca. Terus terang judul tulisan ini terinspirasi dari judul berita tersebut.

Ramai diberitakan Presiden Jokowi mengajukan nama Listyo Sigit sebagai calon Kapolri kepada DPR. Terdapat lima calon Kapolri. Mereka ialah Gatot Eddy Pramono, Boy Rafli Amar, Listyo Sigit Prabowo, Agus Andrianto, dan Arief Sulistyanto. Tak perlu disebut pangkat dan jabatan mereka, meski itu menunjukkan prestasi dan kemampuan mereka karena yang lebih penting jangan-jangan agama daripada prestasi dan kemampuan.

Judul berita yang saya kutip, juga judul tulisan ini, yang harus repot-repot menyebut agama sang kandidat Kapolri seakan menunjukkan identitas lebih penting daripada kualitas. Sebelumnya, beredar di berbagai grup aplikasi pertukaran pesan nama-nama jenderal polisi beragama nasrani. 

Aksi unjuk rasa bertubi-tubi menolak Ahok yang Tionghoa dan nasrani menjadi Gubernur DKI Jakarta juga menunjukkan identitas lebih utama daripada kualitas. Kapolda Jawa Timur Nico Afinta sempat ditolak pemuda Madura karena identitas nasraninya bukan karena rendah kualitasnya. Listyo Sigit Prabowo sempat ditolak ulama Banten ketika menjadi Kapolda Banten karena identitas nasraninya bukan karena jeblok prestasinya.

Bila saja yang jadi Kapolri muslim, agamanya tidak disebutkan dalam judul berita. Taruhlah Boy Rafli Amar jadi Kapolri, judul berita kiranya tidak akan seperti ini: Boy Rafli Jenderal Muslim Kesekian yang Ditunjuk Jadi Kapolri.

Di masa Orde Baru tidak ada yang berani membicarakan agama pejabat secara terbuka. Orang membicarakan agama pejabat diam-diam. Orang bisa dituduh subversif bila membicarakan agama pejabat secara terbuka. 

Banyak menteri di kabinet Pak Harto nasrani. Presiden Soeharto mengangkat LB Moerdani yang Katolik sebagai Panglima ABRI. Pak Harto mengangkat Widodo Budidarmo yang nasrani sebagai Kapolri. Serupa berita yang saya kutip, bila Presiden Jokowi mengajukan Listyo Sigit sebagai Kapolri, dia menjadi Kapolri nasrani kedua setelah Widodo Budidarmo.

Di penghujung pemerintahan Orde Baru, umat menuntut apa yang disebut Robert W Hefner dan Martin van Bruinessen sebagai proporsionalitas. Umat menuntut proporsionalitas tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga dalam jabatan publik di politik, militer, dan birokrasi. Umat merasa orang Kristen dan muslim nominal alias Islam KTP menduduki, bahkan menguasai posisi kunci di politik, birokrasi, dan militer.

Presiden Soeharto kiranya mengakomodasi tuntutan akan proporsionalitas itu. Pak Harto mengangkat banyak menteri dari kalangan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Pak Harto mengangkat Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI. Feisal kemudian diidentifikasi sebagai ABRI hijau atau ABRI Islam sebagai antitesis ABRI merah putih atau ABRI nasionalis. Pak Harto mengakomodasi tuntutan proporsionalitas itu untuk mendapat sokongan umat Islam demi mempertahankan kekuasaannya yang sudah berurat berakar.

Para presiden di masa Reformasi yang lebih demokratis jika dibandingkan dengan masa Orde Baru mengangkat sejumlah menteri dari kalangan minoritas, baik minoritas agama, etnik, maupun gender. Presiden-presiden kita di masa Reformasi itu melakoni proporsionalitas sesungguhnya. Itulah demokrasi. Bukankah kalangan minoritas yang menempati posisi kunci di pemerintahan, birokrasi, militer, dan kepolisian, bisa dihitung dengan jari?

Boleh dikatakan tidak ada protes ketika para presiden era Reformasi mengangkat pejabat dari kalangan minoritas. Tidak ada kiranya yang mempersoalkan apalagi menolak pejabat dari kalangan minoritas.

Mempersoalkan identitas mulai terjadi pada Pemilu Presiden 2014. Dibikin hoaks bahwa calon presiden Joko Widodo beragama nasrani keturunan Tionghoa Singapura. Di baliknya terkandung pesan untuk tidak memilih atau menolak Jokowi sebagai presiden karena dia nasrani dan Tionghoa.

Berawal dari situ kita doyan mempersoalkan identitas pejabat atau calon pejabat. Penolakan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, Nico Afinta sebagai Kapolda Jatim, dan Listyo Sigit sebagai Kapolda Banten terjadi pasca-Pilpres 2014.

Akhirul kalam, siapapun yang kelak jadi kapolri, apakah dia muslim atau nasrani, Presiden Jokowi pastilah menunjuknya bukan karena identitas agamanya, melainkan karena kualitas kinerjanya. Pun, Presiden sudah memikirkan aspek proporsionalitasnya. Kita harus menghormati pilihan presiden karena mengangkat kapolri hak prerogatif presiden dengan persetujuan DPR. Itulah demokrasi.
 



Berita Lainnya
  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.