Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAIAN itu tidak bebas nilai. Kita tidak berpakaian atau bertelanjang atas nama hak asasi manusia dalam arti suka-suka kita. Dalam berpakaian beroperasi beraneka kuasa. Ada kuasa kultur, politik, ekonomi, ideologi, atau agama, yang mengatur tubuh kita berpakaian.
Bahkan, terjadi pertarungan di antara kuasa-kuasa itu. Gerakan memakai kebaya sebagai budaya Indonesia sesungguhnya tengah melawan maraknya pemakaian cadar yang katanya bukan ajaran Islam, melainkan budaya Arab. Terjadi pertarungan antara kuasa budaya dan kuasa agama dalam tata cara berpakaian.
Ada perempuan berjilbab karena dia jualan jilbab. Ini namanya kuasa ekonomi menggerakkan orang berpakaian. Yang merepotkan barangkali kalau lelaki berjualan jilbab lalu memakai jilbab. Sebetulnya atas nama hak asasi manusia suka-suka lelaki itu memakai jilbab.
Akan tetapi, dalam diri lelaki penjual jilbab itu, sekalipun tidak mengenakan jilbab, ada kuasa yang beroperasi, bisa kuasa budaya atau kuasa agama. Budaya patriarki maupun agama mengatur perempuan harus menutupi serapat mungkin auratnya. Agama memang cenderung patriarkis.
Mungkin saja ada perempuan berjilbab ketika dia menjadi calon anggota legislatif. Dia berpikiran, di tengah meningkatnya religiositas masyarakat, orang cenderung mencoblos foto caleg di surat suara yang kelihatan religius, dan jilbab dianggap sebagai ukuran religiositas seseorang. Padahal yang menggerakannya berjilbab ialah kuasa politik. Ketika tidak terpilih, bukan tidak mungkin dia melepas jilbabnya.
Tak sedikit perempuan berjilbab karena mode, karena jilbab sedang tren. Ini namanya kuasa budaya menggerakkan orang berjilbab. Mereka biasanya menganggap jilbab atau pakaian bukan ukuran kesalehan.
Pun, ada perempuan berjilbab karena pernikahan, mungkin karena mertuanya pemuka atau tokoh agama. Bila bercerai, perempuan itu mencopot jilbabnya. Ini namanya kekuasaan sosiokultural mengatur tubuh berpakaian.
Pada awalnya kekuasaan yang beroperasi dalam cara kita berpakaian ialah kultur, budaya. Akan tetapi, budaya dipengaruhi klimat, iklim. Itulah sebabnya pakaian paus, rabi, dan pak haji serupa karena ketiga agama turun di Timur Tengah yang berklimat padang pasir. Rabi pun berjanggut serupa habib.
Begitu pula Cleopatra, suster Katolik, dan perempuan muslim sama-sama berjilbab. Bahkan, Cleopatra dan perempuan Yahudi dahulu kala juga bercadar serupa perempuan muslim bercadar. Cadar sesungguhnya budaya Timur Tengah.
Namun, agama kemudian mengodifikasi kultur menjadi ajaran agama dalam tingkat berbeda-beda. Kristianitas dan Yahudi hanya mewajibkan pemuka agama mereka mengenakan pakaian seperti yang mereka kenakan sekarang.
Akan tetapi, Islam, menurut tafsir tertentu, mewajibkan semua pemeluknya berpakaian serupa yang dicontohkan Nabi dan diajarkan Kitab Suci. Lelaki yang berjanggut dan bercelana cingkrang serta perempuan bercadar karena merasa itu kewajiban agama sesungguhnya tengah berada dalam kuasa agama.
Bisa saja, tidak selalu, ada kuasa ideologi tersembunyi dalam diri laki-laki yang bercelana cingkrang dan berjanggut atau perempuan bercadar. Kuasa ideologi itu, misalnya, tersembunyi dalam diri lelaki bercelana cingkrang dan berjanggut penikam Wiranto. Pun dalam diri istrinya yang bercadar.
Mereka yang bercadar atau bercelana cingkrang karena kuasa ideologi berpotensi hendak mengganti ideologi Pancasila. Kita harus mewaspadai mereka. Meski demikian, kita tak boleh menggeneralisasi bahwa semua yang bercadar atau bercelana cingkrang berada di bawah pengaruh kuasa ideologi dan hendak mengganti Pancasila. Generalisasi hanya memproduksi stigmatisasi.
Bila ingin mewaspadai aparat sipil negara yang bercadar atau bercelana cingkrang, identifikasi kuasa apakah yang tersembunyi dalam pikiran dan tubuh mereka. Negara mesti melakukan deradikalisasi kepada mereka yang bercadar atau bercelana cingkrang karena kuasa ideologi.
Bila deradikalisasi tidak mempan, lalu mereka melakukan perbuatan radikal, misalnya ujaran kebencian atas nama agama apalagi teror, tangkap saja mereka. Gitu aja kok repot.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved