Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KECERDASAN buatan (Artificial Intelligence/AI) yang lahir dari imajinasi John McCarthy kini berkembang melebihi batas yang pernah dibayangkan generasinya. Mesin mampu belajar, menganalisis, menulis, bahkan memberi jawaban seakan-akan ia memahami isi jiwa manusia.
Namun, teknologi sejenius apa pun tetap berdiri sebagai ciptaan manusia. Sedangkan manusia adalah ciptaan Allah, Sang Maha Pencipta yang meniupkan ruh ke dalam diri hamba-Nya. Di sinilah letak perbedaan ontologis yang tidak bisa disejajarkan oleh algoritma apa pun.
Dalam seminar yang menghadirkan Prof Quraish Shihab dan Dr TGB M Zainul Majdi, kesimpulan itu kembali ditegaskan: AI bekerja tanpa ruh sedangkan manusia bekerja dengan ruh yang dipandu oleh Ilahi.
Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam gagasannya tentang adab menegaskan krisis terbesar manusia modern bukanlah kekurangan informasi tetapi kekacauan dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Baginya teknologi menjadi masalah bukan karena kecerdasannya tetapi karena manusia kehilangan kemampuan menyikapi kecerdasan itu dengan adab.
Al-Attas menulis: “Kesadaran diri adalah pusat dari kemanusiaan. Tanpa kesadaran akan Tuhan, manusia kembali menjadi benda.” AI tidak memiliki kesadaran. AI tidak mengenal Tuhan. AI tidak memiliki kecemasan eksistensial atau pergulatan moral. Maka ketika manusia menyerahkan seluruh pertimbangannya kepada mesin, ia sedang mengurangi martabatnya sendiri.
Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, sufi besar dari Tarim, selalu menekankan kekuatan manusia bukan pada akalnya tetapi pada jiwa yang hidup. Beliau menulis dalam An-Nashaih ad-Diniyyah: “Hidupkan hatimu dengan dzikir karena hati yang mati tidak mengenali cahaya.”
AI mampu menganalisis ratusan kitab tasawuf tetapi ia tidak dapat merasakan cahaya itu. AI dapat menyusun doa tetapi tidak dapat merasakan nikmat sujud. AI dapat berbicara tentang cinta tetapi tidak mampu mencintai. Empati, simpati, air mata, pengampunan, dan pengorbanan semua itu bukan produk data tetapi pengalaman jiwa.
Muhammad Iqbal, penyair dan filosof besar dunia Islam, menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mampu mencipta masa depannya sendiri.
Iqbal berkata: “Tuhan memberikan manusia kehendak agar ia menjadi mitra dalam penciptaan sejarah.” AI tidak memiliki kehendak. AI tidak memiliki keberanian eksistensial. AI tidak memiliki tanggung jawab moral. Ia hanya mengikuti perintah, algoritma, dan pola. Ia bukan subjek moral dan tidak akan pernah menjadi subjek moral.
Oleh karena itu, ketika manusia kehilangan kehendak, ketika ia menyerahkan arah hidup sepenuhnya kepada mesin, ia sedang menghilangkan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya: kebebasan spiritual untuk memilih baik dan buruk.
Dunia yang semakin otomatis membutuhkan manusia yang semakin sadar.
Dunia yang semakin cepat membutuhkan manusia yang semakin dalam.
Dunia yang semakin cerdas membutuhkan manusia yang semakin bijak.
Inilah alasan mengapa para sufi dan pembaru modern senada: manusia hanya menjadi manusia ketika ia menjaga akhlak, kesadaran, dan hubungan dengan Tuhannya. World Economic Forum boleh berbicara tentang soft skills empati, kreativitas, komunikasi tetapi para arif billah sudah lebih dulu mengingatkan semuanya bersumber pada kesucian hati. AI dapat menggantikan profesi, tetapi tidak dapat menggantikan akhlak. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat mempermudah perjalanan ruhani. AI dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak dapat membantu manusia menemukan makna.
Syed Naquib al-Attas mengingatkan "krisis manusia modern adalah krisis kehilangan diri.” Al-Haddad menegaskan “jiwa yang lalai adalah jiwa yang padam.” Iqbal mengajak manusia "mencipta masa depan dengan cahaya kehendak.” Dan kini, di era AI, pesan para tokoh itu semakin bergema.
Pertanyaannya bukan apakah AI menggantikan manusia. Pertanyaannya apakah manusia masih menjaga cahaya di dalam dirinya? Karena AI dapat menjadi alat sangat cerdas tetapi hanya manusia dengan ruh, akhlak, cinta, dan kesadarannya yang mampu menjadi makhluk bercahaya.
KECERDASAN buatan (AI) kini melampaui sekadar asisten digital atau pengolah teks.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan pers harus menjaga kepercayaan publik di tengah disinformasi dan AI. Kolaborasi media, pemerintah, dan platform digital jadi kunci ruang informasi sehat.
Di sektor pendidikan, BenQ fokus mendukung metode Bring Your Own Device (BYOD) yang memungkinkan integrasi perangkat pribadi siswa ke dalam ekosistem digital sekolah secara aman.
Aplikasi gaya hidup Muslim, Muslim Pro, resmi meluncurkan rangkaian fitur terbaru yang dirancang khusus untuk menunjang kegiatan ibadah selama bulan Ramadan.
Tanpa pengawasan yang tepat, agen AI yang mampu mengambil keputusan dan memproses data sensitif secara mandiri dapat memicu kerusakan fatal.
Isu-isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam World Privacy Day Conference (WPDC) 2026 yang digelar pada 28 Januari 2026 di BINUS University Alam Sutera.
Intip bocoran iPhone 18 Pro Max 2026. Hadir dengan chip A20 Pro 2nm, kamera variable aperture, dan desain under-display Face ID terbaru.
Fokus diskusi mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), smart mobility, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan keterampilan masa depan.
Setelah miliaran tahun, JADES-ID1 akan berevolusi dari protogugus menjadi gugus galaksi masif seperti yang kita lihat jauh lebih dekat dengan Bumi.
Kombinasi identifikasi jenis dan asal-usul geografis kayu akan sangat membantu dalam kepastian legalitas pemanfaatan kayu.
Menurut tangkapan layar yang dibagikan oleh Paluzzi, Meta akan memperingatkan pengguna bahwa jika mereka keluar dari daftar Teman Dekat.
Pengguna Android dapat mengunggah file melalui aplikasi Google Drive yang umumnya sudah terpasang secara bawaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved