Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KECERDASAN buatan (Artificial Intelligence/AI) yang lahir dari imajinasi John McCarthy kini berkembang melebihi batas yang pernah dibayangkan generasinya. Mesin mampu belajar, menganalisis, menulis, bahkan memberi jawaban seakan-akan ia memahami isi jiwa manusia.
Namun, teknologi sejenius apa pun tetap berdiri sebagai ciptaan manusia. Sedangkan manusia adalah ciptaan Allah, Sang Maha Pencipta yang meniupkan ruh ke dalam diri hamba-Nya. Di sinilah letak perbedaan ontologis yang tidak bisa disejajarkan oleh algoritma apa pun.
Dalam seminar yang menghadirkan Prof Quraish Shihab dan Dr TGB M Zainul Majdi, kesimpulan itu kembali ditegaskan: AI bekerja tanpa ruh sedangkan manusia bekerja dengan ruh yang dipandu oleh Ilahi.
Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam gagasannya tentang adab menegaskan krisis terbesar manusia modern bukanlah kekurangan informasi tetapi kekacauan dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Baginya teknologi menjadi masalah bukan karena kecerdasannya tetapi karena manusia kehilangan kemampuan menyikapi kecerdasan itu dengan adab.
Al-Attas menulis: “Kesadaran diri adalah pusat dari kemanusiaan. Tanpa kesadaran akan Tuhan, manusia kembali menjadi benda.” AI tidak memiliki kesadaran. AI tidak mengenal Tuhan. AI tidak memiliki kecemasan eksistensial atau pergulatan moral. Maka ketika manusia menyerahkan seluruh pertimbangannya kepada mesin, ia sedang mengurangi martabatnya sendiri.
Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, sufi besar dari Tarim, selalu menekankan kekuatan manusia bukan pada akalnya tetapi pada jiwa yang hidup. Beliau menulis dalam An-Nashaih ad-Diniyyah: “Hidupkan hatimu dengan dzikir karena hati yang mati tidak mengenali cahaya.”
AI mampu menganalisis ratusan kitab tasawuf tetapi ia tidak dapat merasakan cahaya itu. AI dapat menyusun doa tetapi tidak dapat merasakan nikmat sujud. AI dapat berbicara tentang cinta tetapi tidak mampu mencintai. Empati, simpati, air mata, pengampunan, dan pengorbanan semua itu bukan produk data tetapi pengalaman jiwa.
Muhammad Iqbal, penyair dan filosof besar dunia Islam, menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mampu mencipta masa depannya sendiri.
Iqbal berkata: “Tuhan memberikan manusia kehendak agar ia menjadi mitra dalam penciptaan sejarah.” AI tidak memiliki kehendak. AI tidak memiliki keberanian eksistensial. AI tidak memiliki tanggung jawab moral. Ia hanya mengikuti perintah, algoritma, dan pola. Ia bukan subjek moral dan tidak akan pernah menjadi subjek moral.
Oleh karena itu, ketika manusia kehilangan kehendak, ketika ia menyerahkan arah hidup sepenuhnya kepada mesin, ia sedang menghilangkan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya: kebebasan spiritual untuk memilih baik dan buruk.
Dunia yang semakin otomatis membutuhkan manusia yang semakin sadar.
Dunia yang semakin cepat membutuhkan manusia yang semakin dalam.
Dunia yang semakin cerdas membutuhkan manusia yang semakin bijak.
Inilah alasan mengapa para sufi dan pembaru modern senada: manusia hanya menjadi manusia ketika ia menjaga akhlak, kesadaran, dan hubungan dengan Tuhannya. World Economic Forum boleh berbicara tentang soft skills empati, kreativitas, komunikasi tetapi para arif billah sudah lebih dulu mengingatkan semuanya bersumber pada kesucian hati. AI dapat menggantikan profesi, tetapi tidak dapat menggantikan akhlak. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat mempermudah perjalanan ruhani. AI dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak dapat membantu manusia menemukan makna.
Syed Naquib al-Attas mengingatkan "krisis manusia modern adalah krisis kehilangan diri.” Al-Haddad menegaskan “jiwa yang lalai adalah jiwa yang padam.” Iqbal mengajak manusia "mencipta masa depan dengan cahaya kehendak.” Dan kini, di era AI, pesan para tokoh itu semakin bergema.
Pertanyaannya bukan apakah AI menggantikan manusia. Pertanyaannya apakah manusia masih menjaga cahaya di dalam dirinya? Karena AI dapat menjadi alat sangat cerdas tetapi hanya manusia dengan ruh, akhlak, cinta, dan kesadarannya yang mampu menjadi makhluk bercahaya.
Langkah ini diambil OpenAI untuk mendukung keberlanjutan akses gratis serta mendanai peluncuran paket langganan murah bertajuk ChatGPT Go.
FILM drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah (Sci-fi), Esok Tanpa Ibu segera tayang di bioskop, dibalut dengan pendekatan teknologi Artificial Intelligence (AI)
Masuknya AI ke dalam proses kerja sering kali memicu kekhawatiran sekaligus memperlebar celah keterampilan (skill gap) di kalangan karyawan.
Fitur AI Google Photos kini mampu menghapus objek, mengedit foto dengan teks, dan mengganti latar, menjadikannya alternatif Photoshop yang praktis.
X berjanji akan melakukan perbaikan sistem internal agar fitur AI mereka, Grok, tidak disalahgunakan.
Kesadaran akan pentingnya kesiapan data mulai muncul di seluruh spektrum perusahaan, baik skala besar maupun menengah.
Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami terhadap inovasi dan kolaborasi, memastikan bahwa mata uang Indonesia tetap aman, tepercaya, dan siap menghadapi masa depan.
Masuknya AI ke dalam proses kerja sering kali memicu kekhawatiran sekaligus memperlebar celah keterampilan (skill gap) di kalangan karyawan.
Brian menjelaskan bahwa logam tanah jarang merupakan material strategis yang menjadi kunci dalam pengembangan industri kendaraan nasional (mobnas),
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Kerja sama dengan BRIN disebut akan menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil karya dalam negeri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved