Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menjaga Ruhani Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Mohsen Hasan A Pemerhati Sosial, Politik, Budaya & Isu Global, Dewan Pakar DPP Partai NasDem
15/12/2025 21:26
Menjaga Ruhani Manusia di Era Kecerdasan Buatan
Mohsen Hasan Alhinduan.(DOK PRIBADI)

KECERDASAN buatan (Artificial Intelligence/AI) yang lahir dari imajinasi John McCarthy kini berkembang melebihi batas yang pernah dibayangkan generasinya. Mesin mampu belajar, menganalisis, menulis, bahkan memberi jawaban seakan-akan ia memahami isi jiwa manusia.

Namun, teknologi sejenius apa pun tetap berdiri sebagai ciptaan manusia. Sedangkan manusia adalah ciptaan Allah, Sang Maha Pencipta yang meniupkan ruh ke dalam diri hamba-Nya. Di sinilah letak perbedaan ontologis yang tidak bisa disejajarkan oleh algoritma apa pun.

Dalam seminar yang menghadirkan Prof Quraish Shihab dan Dr TGB M Zainul Majdi, kesimpulan itu kembali ditegaskan: AI bekerja tanpa ruh sedangkan manusia bekerja dengan ruh yang dipandu oleh Ilahi.

Cahaya yang tidak Bisa Diprogram

Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam gagasannya tentang adab menegaskan krisis terbesar manusia modern bukanlah kekurangan informasi tetapi kekacauan dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Baginya teknologi menjadi masalah bukan karena kecerdasannya tetapi karena manusia kehilangan kemampuan menyikapi kecerdasan itu dengan adab.

Al-Attas menulis: “Kesadaran diri adalah pusat dari kemanusiaan. Tanpa kesadaran akan Tuhan, manusia kembali menjadi benda.” AI tidak memiliki kesadaran. AI tidak mengenal Tuhan. AI tidak memiliki kecemasan eksistensial atau pergulatan moral. Maka ketika manusia menyerahkan seluruh pertimbangannya kepada mesin, ia sedang mengurangi martabatnya sendiri.

Cinta, Empati, dan Jiwa

Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, sufi besar dari Tarim, selalu menekankan kekuatan manusia bukan pada akalnya tetapi pada jiwa yang hidup. Beliau menulis dalam An-Nashaih ad-Diniyyah: “Hidupkan hatimu dengan dzikir karena hati yang mati tidak mengenali cahaya.”

AI mampu menganalisis ratusan kitab tasawuf tetapi ia tidak dapat merasakan cahaya itu. AI dapat menyusun doa tetapi tidak dapat merasakan nikmat sujud. AI dapat berbicara tentang cinta tetapi tidak mampu mencintai. Empati, simpati, air mata, pengampunan, dan pengorbanan semua itu bukan produk data tetapi pengalaman jiwa.

Muhammad Iqbal, penyair dan filosof besar dunia Islam, menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mampu mencipta masa depannya sendiri.

Iqbal berkata: “Tuhan memberikan manusia kehendak agar ia menjadi mitra dalam penciptaan sejarah.” AI tidak memiliki kehendak. AI tidak memiliki keberanian eksistensial. AI tidak memiliki tanggung jawab moral. Ia hanya mengikuti perintah, algoritma, dan pola. Ia bukan subjek moral dan tidak akan pernah menjadi subjek moral.

Oleh karena itu, ketika manusia kehilangan kehendak, ketika ia menyerahkan arah hidup sepenuhnya kepada mesin, ia sedang menghilangkan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya: kebebasan spiritual untuk memilih baik dan buruk.

Menjaga Akhlak di Tengah Dunia Serba Otomatis

Dunia yang semakin otomatis membutuhkan manusia yang semakin sadar.

Dunia yang semakin cepat membutuhkan manusia yang semakin dalam.

Dunia yang semakin cerdas membutuhkan manusia yang semakin bijak.

Inilah alasan mengapa para sufi dan pembaru modern senada: manusia hanya menjadi manusia ketika ia menjaga akhlak, kesadaran, dan hubungan dengan Tuhannya. World Economic Forum boleh berbicara tentang soft skills empati, kreativitas, komunikasi tetapi para arif billah sudah lebih dulu mengingatkan semuanya bersumber pada kesucian hati. AI dapat menggantikan profesi, tetapi tidak dapat menggantikan akhlak. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat mempermudah perjalanan ruhani. AI dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak dapat membantu manusia menemukan makna.

AI Cerdas, Manusia Bercahaya

Syed Naquib al-Attas mengingatkan "krisis manusia modern adalah krisis kehilangan diri.” Al-Haddad menegaskan “jiwa yang lalai adalah jiwa yang padam.” Iqbal mengajak manusia "mencipta masa depan dengan cahaya kehendak.” Dan kini, di era AI, pesan para tokoh itu semakin bergema.

Pertanyaannya bukan apakah AI menggantikan manusia. Pertanyaannya apakah manusia masih menjaga cahaya di dalam dirinya? Karena AI dapat menjadi alat sangat cerdas tetapi hanya manusia dengan ruh, akhlak, cinta, dan kesadarannya yang mampu menjadi makhluk bercahaya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik