Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kerugian Bisnis di Indonesia Akibat Serangan Siber Meningkat Drastis Menjelang 2026

Basuki Eka Purnama
11/12/2025 12:07
Kerugian Bisnis di Indonesia Akibat Serangan Siber Meningkat Drastis Menjelang 2026
Ilustrasi(Freepik)

LANSKAP keamanan siber Indonesia diprediksi menghadapi tantangan terbesarnya menjelang 2026. Laporan Cyber Threat Predictions 2026 dari Fortinet mengungkapkan bahwa kerugian bisnis akibat serangan siber akan meningkat tajam, didorong oleh berkembangnya ekosistem kejahatan digital yang kini beroperasi menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Menurut Vice President of Marketing and Communications, APAC, Fortinet, Rashish Pandey, dalam ekosistem kejahatan modern, data pribadi dan data perusahaan telah menjadi komoditas paling bernilai, melampaui nilai minyak dan emas.

“Pelaku menyerang siapa saja yang mudah ditembus. Mereka tidak peduli apakah Anda perusahaan besar atau kecil. Jika Anda lengah, Anda akan menjadi korban,” tegas Rashish Pandey.

Data Lebih Berharga dari Uang Tunai

Fortinet mencatat adanya pergeseran fokus ancaman. Kerugian kini tidak hanya berasal dari pencurian uang atau gangguan sistem, tetapi utamanya dari eksploitasi data, perusakan reputasi, dan sabotase kompetisi bisnis.

MI/HO--Vice President of Marketing and Communications, APAC, Fortinet, Rashish Pandey

Motivasi pelaku semakin beragam. Selain berorientasi finansial dan politik, model bisnis cybercrime-as-a-service kini memungkinkan siapa pun membeli paket serangan berbasis AI dengan harga terjangkau. Hal ini membuat serangan tidak pandang bulu, menargetkan korporasi besar, UMKM, hingga individu yang rentan.

Salah satu kerugian terbesar adalah kebocoran data sensitif, informasi pelanggan, data transaksi, atau strategi bisnis, yang dapat digunakan untuk pemerasan atau pengambilalihan identitas. 

Kebocoran ini juga memicu kerugian reputasi yang sulit diperbaiki. Hilangnya kepercayaan publik, rusaknya citra perusahaan, dan pemberitaan negatif sering kali menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih parah dibanding kerugian finansial langsung.

Perlindungan Data Masih Terabaikan

Country Director, Fortinet Indonesia Edwin Lim menambahkan bahwa ancaman ini diperparah oleh kurangnya prioritas perusahaan Indonesia dalam melindungi aset datanya. 

Di tengah percepatan digitalisasi, banyak organisasi hanya berfokus pada keamanan jaringan dasar, padahal data adalah target utama.

“Data adalah mata uang baru dalam dunia digital. Serangan yang terlihat sederhana, seperti kebocoran daftar kontak pelanggan saja, bisa memiliki dampak luar biasa besar bagi perusahaan,” ujar Edwin Lim.

Kerusakan kompetisi bisnis juga menjadi faktor kerugian yang meningkat. Pelaku sering melakukan perusakan atau manipulasi situs, hingga pencurian informasi penting, untuk menjatuhkan pesaing, terutama di industri yang sangat kompetitif seperti e-commerce dan layanan teknologi.

Indonesia Harus Bersiap Melawan AI dengan AI

Edwin menilai, meski perusahaan telah banyak berinvestasi pada teknologi, tantangan terbesar Indonesia berada pada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan proses internal. Banyak organisasi memiliki perangkat yang baik, tetapi tanpa operator terlatih yang mampu menggunakannya secara optimal.

Rashish Pandey menambahkan bahwa menjelang 2026, serangan berbasis AI akan menjadi lebih cepat, berskala lebih besar, dan lebih sulit dideteksi. Pada titik ini, pertahanan manusia tidak lagi memadai.

“Masa depan pertahanan akan melibatkan pertarungan antara AI dengan AI, bukan lagi manusia melawan AI,” jelasnya.

Oleh karena itu, organisasi harus beralih ke sistem pertahanan siber modern yang mampu memproses data ancaman secara real-time dan merespons secara otomatis. 

Edwin Lim menekankan pentingnya membangun pertahanan menyeluruh yang mengintegrasikan teknologi, proses yang kuat, dan budaya kesadaran keamanan yang proaktif, bukan reaktif, untuk menjamin keberlanjutan bisnis. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik