Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
GRUP kasidah asal Semarang, Nasida Ria, kembali menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan zaman.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, kelompok musik religi lintas generasi ini justru mengambil langkah progresif: memanfaatkan teknologi AI dalam eksplorasi kreatif mereka melalui kolaborasi dengan Google lewat platform Google Gemini.
Kolaborasi ini menjadi pertemuan dua dunia berbeda, yakni kasidah yang lekat dengan tradisi dan nilai religius, serta teknologi AI yang identik dengan inovasi dan masa depan digital.
Namun dari pertemuan tersebut lahir pendekatan kreatif yang terasa segar tanpa meninggalkan identitas.
“Alhamdulillah, seneng banget. Akhirnya kita bisa kolaborasi kembali dengan Google. Dan pastinya tahun ini lebih wow dari kemarin,” ujar Afuwah, personel Nasida Ria, dalam sesi bincang santai di acara peluncuran kolaborasi.
Bagi Nasida Ria, kerja sama ini memang bukan yang pertama. Namun keterlibatan AI dalam proses kreatif tetap menghadirkan pengalaman baru yang sebelumnya tak terbayangkan.
“Sebenarnya enggak ya. Soalnya kan AI ini teknologi baru. Sedangkan dari dulu kita musiknya seperti ini. Begitu ada kemasukan AI, luar biasa,” ungkap Nazla, personel Nasida Ria, menggambarkan rasa takjubnya terhadap transformasi tersebut.
Dalam proyek tahun ini, konsep yang diangkat adalah multiverse yang menghadirkan lima semesta visual berbeda seperti sci-fi, anime, e-drama, gaming, hingga art of war.
Dari berbagai konsep tersebut, Nasida Ria merasa paling dekat dengan tema science fiction.
“Menurut kami sendiri yang paling masuk sama karakter Nasida Ria itu yang multiverse sci-fi,” kata Nazla.
Meski bertema futuristik, konten sci-fi yang diangkat justru membumi. Visualnya menggambarkan suasana Ramadan menjelang Lebaran, orang-orang mudik membawa koper dan oleh-oleh, perjalanan jauh, hingga mobil mogok di jalan.
“Itu sangat memungkinkan banget terjadi pada saat mudik. Jadi menurut kami itu yang paling relate banget sama Nasida Ria,” jelas Nazla.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar efek visual canggih, melainkan medium baru untuk menerjemahkan cerita keseharian ke dalam format yang lebih imajinatif. Tradisi kasidah yang selama ini hadir dalam panggung dan audio kini berkembang ke ranah visual digital yang interaktif.
Nazla juga menekankan bahwa penggunaan Gemini bukan hanya untuk kebutuhan kampanye, tetapi benar-benar membantu aktivitas harian.
“Silakan coba pakai Gemini. Karena Gemini tuh bisa membantu keseharian kita, pekerjaan kita setiap hari,” ujarnya kepada awak media.
Menurutnya, kekuatan Gemini terletak pada kemampuannya menyajikan jawaban yang tidak terbatas pada teks.
“Kalau misalnya kita tanya Gemini, jawabannya enggak cuma sekadar jawaban. Tapi ada visualnya, ada gambarnya, ada videonya. Jadi kita enggak perlu mikir-mikir gitu.”
Bagi grup yang telah berkarya sejak era analog, kemudahan ini menjadi lompatan signifikan. Ide-ide kreatif, desain visual, hingga inspirasi konten Ramadan kini bisa dieksplorasi lebih cepat dan variatif.
Dari sisi mitra teknologi, pemilihan Nasida Ria bukan tanpa alasan. Grup ini dianggap merepresentasikan lintas generasi yang selaras dengan semangat teknologi yang inklusif dan tidak terbatas usia.
Perwakilan Google dalam sesi yang sama menyebut bahwa teknologi seharusnya terintegrasi dalam berbagai ide dan kreativitas masyarakat, tanpa memandang latar belakang atau umur.
Indonesia sendiri disebut memiliki antusiasme tinggi terhadap fitur visual berbasis AI. Minat terhadap konten audio-visual yang besar membuat kolaborasi ini terasa relevan, terutama di momentum Ramadan yang identik dengan kreativitas kartu ucapan, konten religi, dan ekspresi digital.
Langkah Nasida Ria memanfaatkan AI memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus diam di tempat. Adaptasi terhadap teknologi justru memperluas jangkauan pesan yang telah mereka bawa selama puluhan tahun.
Di tengah gaya hidup yang semakin terdigitalisasi, kolaborasi lintas generasi dan lintas teknologi menjadi kebutuhan. Nasida Ria memilih untuk tidak hanya mempertahankan warisan, tetapi juga mengeksplorasi medium baru.
Dari kasidah panggung menuju dunia multiverse digital, perjalanan ini menjadi simbol bahwa identitas tradisional dapat tetap kokoh sambil membuka diri terhadap inovasi. Ketika tradisi bertemu AI, yang tercipta bukan sekadar tren sesaat, melainkan evolusi kreatif yang relevan dengan zaman. (Z-1)
KEMENTERIAN Agama menetapkan 6 grup kasidah terbaik dari 32 provinsi dalam Festival Seni Budaya Islam 2025. Mereka akan tampil pada Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII
Rumah dan Baju Barumu dari Batas Senja menggambarkan momen subtil namun mendalam ketika keterbatasan ekonomi menjadi ujian bagi sepasang kekasih.
Melalui liriknya, Wali menggunakan metafora dua peristiwa besar dalam sejarah Islam, Perang Badar dan Perang Uhud, untuk menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat modern.
Berbeda dengan lagu religi pada umumnya yang kerap identik dengan perayaan momentum tertentu, Menuju Cahaya dari Marcell Siahaan justru menitikberatkan pada proses personal yang mendalam.
Sebagai pembuka dari edisi deluxe ini, Laufey telah merilis single terbaru berjudul How I Get.
Melalui No. 1 Priority, Jey Denise menegaskan identitasnya sebagai musisi independen yang produktif dan mampu menyatukan pengalaman personal dengan tema universal yang menginspirasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved