Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Parlemen Iran Tantang Trump: Kami Beri Pelajaran yang tidak Terlupakan

Irvan Sihombing
13/1/2026 13:51
Parlemen Iran Tantang Trump: Kami Beri Pelajaran yang tidak Terlupakan
Ilustrasi(Anadolu)

ESKALASI ketegangan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat mencapai titik didih baru. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump terkait ancaman serangan militer Washington ke wilayah Teheran.

Disiarkan oleh media pemerintah IRIB pada Senin (12/1/2026), Ghalibaf secara terbuka menantang keberanian Trump.

"Saya telah mendengar ancaman Anda. Para pejuang Iran siap memberikan pelajaran yang tidak akan pernah Anda lupakan. Datanglah dan saksikan bagaimana seluruh kekuatan Anda di Timur Tengah akan hancur lebur," tegas Ghalibaf dalam pidatonya, sebagaimana dilaporkan Sputnik.

Latar Belakang Ancaman Donald Trump

Perselisihan ini dipicu oleh pernyataan Donald Trump pada akhir Desember 2025 lalu. Saat itu, Trump menegaskan akan mendukung agresi militer jika Iran kedapatan melanjutkan program pengembangan nuklir dan rudal balistiknya.

Situasi kian memanas saat gelombang demonstrasi melanda internal Iran. Trump kembali menebar ancaman akan menyerang titik-titik strategis Teheran jika pemerintah setempat melakukan tindakan brutal terhadap para pengunjuk rasa. Di sisi lain, Trump menawarkan bantuan kepada rakyat Iran yang ia sebut tengah memperjuangkan kebebasan.

Krisis Domestik: Inflasi dan Kekacauan Ekonomi

Gejolak di Iran sendiri bermula pada Desember akibat krisis ekonomi yang parah. Pelemahan nilai tukar mata uang Rial terhadap dolar menyebabkan lonjakan inflasi yang tak terkendali. Masyarakat memprotes ketidakstabilan ekonomi yang memicu meroketnya harga kebutuhan pokok di pasar.

Tekanan publik ini bahkan membuahkan gejolak di sektor perbankan. Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya di tengah desakan massa yang menuntut perbaikan sistem finansial.

Eskalasi Demonstrasi dan Pemblokiran Internet

Intensitas unjuk rasa semakin meningkat tajam sejak 8 Januari 2026, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang kini bermukim di pengasingan. Pemerintah Iran menanggapi gerakan massa yang kian masif dengan memutus total akses jaringan internet di seluruh penjuru negeri.

Bentrok berdarah antara warga sipil dan aparat kepolisian dilaporkan terjadi di berbagai kota termasuk Teheran, Kerman, Zahedan, dan Birjand. Meski terdapat laporan mengenai jatuhnya korban jiwa dari kedua belah pihak, pada Senin (12/1/2026), otoritas keamanan Iran mengeklaim bahwa situasi di lapangan mulai berangsur pulih dan dapat dikendalikan. Beberapa pejabat Iran bahkan menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik "pengunjuk rasa bersenjata" yang menyerang fasilitas publik di sejumlah daerah.

Aksi Pro-Pemerintah dan Tanggapan Publik

Selain protes anti-pemerintah, sejumlah gelombang demonstrasi pro-pemerintah juga berlangsung di beberapa kota. Para pendukung pemerintah berkumpul di Lapangan Enghelab dekat Universitas Teheran dengan mengibarkan bendera Iran, mengecam kekerasan yang terjadi di ruang publik dan secara tegas menolak "intervensi asing" terhadap urusan dalam negeri. Mereka tetap mendesak pemerintah untuk menyelesaikan masalah ekonomi sambil menunjukkan dukungan terhadap stabilitas nasional.

Operasi Keamanan dan Penangkapan

Otoritas keamanan Iran meningkatkan pengamanan secara drastis untuk merespons situasi tersebut. Kementerian Intelijen Iran menyampaikan pada Senin (12/1/2026) bahwa 273 pucuk senjata api telah diamankan dan 3 orang ditahan dalam operasi penyergapan terhadap sebuah truk kargo internasional yang melewati wilayah Iran.

Selain itu, penangkapan dilakukan terhadap jaringan teroris beranggotakan lima orang yang terkait partai etnis Kurdi terlarang di Khorramabad, serta 15 individu yang diduga berafiliasi dengan saluran televisi oposisi berbahasa Persia yang beroperasi dari luar negeri. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya