Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Toko Natal Betlehem Tutup, Kota semakin Sepi, Dijepit Israel

Ferdian Ananda Majni
25/12/2025 12:32
Toko Natal Betlehem Tutup, Kota semakin Sepi, Dijepit Israel
Warga Kristen Palestina.(Al Jazeera)

SELAMA beberapa generasi, perayaan Natal menjadi denyut utama kehidupan ekonomi keluarga Giacaman di Betlehem, Tepi Barat, Palestina. Keluarga ini mengelola Christmas House, salah satu toko paling dikenal di Alun-Alun Manger, tepat di jantung kota Betlehem. 

Toko tersebut selama bertahun-tahun menjual patung kelahiran Yesus, ornamen Natal, rosario, salib, serta beragam perlengkapan keagamaan lain yang seluruhnya dipahat secara manual dari kayu zaitun lokal di bengkel keluarga mereka. Namun, dalam dua tahun terakhir, toko itu tak lagi beroperasi. 

Pintu Christmas House tetap tertutup rapat sebagaimana disampaikan Jack Issa Giacaman kepada Middle East Eye (MEE). Ia kini menjadi pengelola utama usaha keluarga tersebut.

"Anda tidak melihat siapa pun di sekitar. Sayangnya selama beberapa tahun terakhir Israel mengubah Betlehem menjadi penjara besar," kata Giacaman.

Menjelang Natal, suasana Alun-Alun Manger nyaris tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Hanya segelintir warga lokal terlihat berfoto di dekat pohon Natal yang dihiasi bintang besar serta ornamen merah dan emas. Di luar itu, kawasan yang biasanya dipenuhi peziarah dan wisatawan tampak lengang.

Sebagian besar toko tutup. Para pemandu wisata berjalan mondar-mandir di depan Gereja Kelahiran Yesus, menawarkan barang dagangan mereka tanpa harapan nyata.

"Setiap Sabtu beberapa wanita Filipina dan India datang. Mereka bekerja di Israel. Namun, itu tidak cukup. Semua tutup," ujar Asaad Jaqaman, pemilik toko suvenir lain di kawasan tersebut.

"Tutup, karena mengapa kita harus buka? Tidak ada yang datang, tidak ada orang, tidak ada apa-apa. Apa yang akan kita lakukan? Terkadang saya buka karena bosan. Situasinya menyedihkan," ucapnya.

Ekonomi Terpuruk, Ancaman Kian Berat

Kemerosotan ekonomi yang melanda Betlehem sejak pandemi covid-19 kini dibarengi ancaman yang jauh lebih besar. Kota ini terjepit di antara tembok pemisah Israel, dikelilingi permukiman Israel di perbukitan, serta dikekang oleh puluhan pos pemeriksaan dan gerbang keamanan.

Dalam kondisi tersebut, identitas Kristen dan Palestina di Betlehem hidup di bawah tekanan yang semakin intens.

Ketika negara Israel didirikan, umat Kristen mencakup sekitar 85% populasi provinsi Betlehem. Namun, pada 2017, angka itu anjlok menjadi sekitar 10%.

Tekanan terhadap Betlehem meningkat drastis sejak Februari 2023, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerahkan kewenangan administratif atas Tepi Barat kepada Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, tokoh ultranasionalis dari Partai Zionisme Religius dan juga seorang pemukim.

Sejak itu, situasi terus memburuk. Keruntuhan ekonomi akibat pandemi disusul perang di Gaza, serta pengetatan represi Israel di Tepi Barat.

"Kami mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga lain setiap dua minggu sekali," kata Pendeta Munther Isaac kepada MEE.

"Keluarga-keluarga Kristen pergi. Orang-orang menyerah pada prospek kehidupan yang bermartabat di tanah air mereka," tambahnya.

Ladang Penggembala Direbut Pemukim

Pekan ini membawa kabar buruk tambahan. Smotrich mengumumkan legalisasi 19 permukiman Israel yang sebelumnya dianggap ilegal di berbagai wilayah Tepi Barat.

"Rakyat Israel kembali ke tanah mereka, membangunnya dan memperkuat cengkeraman mereka di atasnya," tulis Smotrich di media sosial.

Salah satu permukiman tersebut adalah Yatziv atau Kandang dalam bahasa Ibrani yang terletak beberapa kilometer di timur Betlehem, di desa Beit Sahour. Desa ini merupakan salah satu dari sedikit komunitas Kristen yang masih bertahan di Tepi Barat.

Bulan lalu, buldoser mulai memasuki wilayah Beit Sahour untuk persiapan lahan, memicu ketakutan mendalam di kalangan penduduk.

"Ada rasa teror. Kesedihan dan duka yang mendalam. Luka itu masih terbuka. Kami secara aktif kehilangan tanah kami. Kami tidak dapat membayangkannya," kata Dalia Qumsieh kepada MEE.

Beit Sahour memiliki makna simbolis besar dalam tradisi Kristen sebagai lokasi tempat malaikat menyampaikan kabar kelahiran Yesus kepada para gembala. 

Namun, bagi warga Palestina, kehadiran pemukim membawa konsekuensi yang sudah sangat dikenal.

Cara hidup tradisional hancur. Jalan-jalan Apartheid dibangun, membelah lanskap. Petani dan penggembala diusir. Peralatan pertanian dirusak. Kekerasan dan intimidasi pemukim menjadi rutinitas harian.

"Ladang penggembala sekarang terletak di antara dua pemukiman. Kami terjebak," kata Qumsieh.

"Keberadaan kami sebagai penduduk asli di tanah ini pada dasarnya terancam," sebutnya.

"Kami telah melihat anggota keluarga kami beremigrasi satu demi satu. Dan saya berhati-hati ketika saya menggunakan kata beremigrasi karena mereka menanggapi lingkungan yang sengaja dibuat memaksa oleh pendudukan Israel," ujarnya.

"Itu bukan imigrasi atas pilihan sendiri jika Anda tinggal di lingkungan di mana tidak ada martabat, tidak ada keamanan, tidak ada kebebasan, tidak ada hak," lanjutnya.

Pohon Natal tetapi tanpa Turis

Awal bulan ini, kerumunan warga memadati Alun-Alun Manger dalam acara penyalaan pohon Natal. Ini untuk pertama kali sejak sebelum perang Gaza dimulai. Acara itu menarik perhatian internasional.

Wali Kota Betlehem Maher Nicola Canawati menyebut peristiwa tersebut sebagai momen penuh harapan.

"Pada malam itu, merayakan bersama, kami merasakan getaran Natal yang telah lama kami rindukan selama dua tahun dan ini jelas membantu perekonomian lokal dan memberi harapan kepada masyarakat," katanya.

Namun, pengakuannya sendiri menyingkap realitas pahit. Dalam dua tahun terakhir, sekitar 4.000 penduduk atau 10% populasi Betlehem telah meninggalkan kota tersebut.

"Betlehem bergantung pada pariwisata dan sejak perang, pariwisata berhenti dan semua hotel serta industri ditutup sepenuhnya," ujarnya.

Para pemilik toko yang murung dan jalanan kosong menguatkan gambaran itu. Bahkan, saudara laki-laki Giacaman sendiri telah meninggalkan Betlehem untuk menetap di luar negeri.

"Media mencoba memberikan gambaran yang berbeda bahwa semuanya normal. Mereka memasang pohon Natal, tetapi 80%, bahkan 90% hotel kosong," kata Giacaman.

Akses yang terhambat oleh pos pemeriksaan Israel membuat warga desa sekitar enggan datang ke kota karena risiko terjebak semalaman.

"Seorang gadis berkata kepada ibunya, cepat, cepat, mereka akan menutup gerbang. Kita harus kembali ke desa sebelum mereka menutup gerbang," kenang Giacaman.

Ia menambahkan bahwa Pos Pemeriksaan 300 yakni pintu masuk utama Betlehem sebagian besar ditutup sepanjang Desember.

"Ini adalah sesuatu yang ilegal, yang benar-benar menghancurkan ekonomi di Betlehem," ucapnya.

Umat Kristen Diserang

Ancaman terhadap umat Kristen meluas hingga ke Jerusalem. Tembok pemisah Israel telah memutus hubungan historis antara umat Kristen Betlehem dan Jerusalem.

Di Kota Tua Jerusalem Timur, situs-situs suci Kristen berada di bawah tekanan. Pemukim ekstrem secara rutin melecehkan umat Kristen, termasuk meludahi mereka.

Pusat Data Kebebasan Beragama mencatat lonjakan kejahatan kebencian terhadap umat Kristen, dengan aparat penegak hukum dinilai tidak responsif.

Komunitas Armenia yang berjumlah sekitar 3.000 jiwa juga menghadapi peningkatan serangan. Grafiti bertuliskan "Kematian bagi orang Arab dan teman-teman Armenia mereka" kerap muncul. Poster peringatan genosida Armenia dirusak, bahkan diganti dengan tulisan "Waktunya telah tiba untuk menetap di Gaza".

Kegham Balian dari Save the ArQ menggambarkan upaya warga mempertahankan wilayah mereka.

"Sekitar 20 hingga 30 preman bersenjata datang ke sini dengan gergaji mesin listrik, pentungan, dan agresi penuh mencoba mengintimidasi kami untuk mengusir kami dari tanah kami," ujarnya.

"Kehadiran umat Kristen di Jerusalem sedang diserang," katanya. 

"Jika kita tidak bersatu, kita akan kehilangan itu," lanjutnya.

Para Pendeta untuk Israel

Di tengah tekanan tersebut, Perdana Menteri Netanyahu terus mengeklaim bahwa Israel adalah penjaga Kekristenan di Timur Tengah.

Awal bulan ini, delegasi pemimpin Kristen terbesar yang pernah berkunjung ke Israel tiba untuk kunjungan resmi yang seluruh biayanya ditanggung negara. 

Mereka bertemu Presiden Isaac Herzog, Menteri Luar Negeri Gideon Saar, dan duta besar AS Mike Huckabee.

Huckabee mendorong mereka pulang dengan api Tuhan yang menyala di tulang-tulangmu agar menjadi pro-Alkitab dan pro-Israel.

Para pemimpin itu juga dibawa ke Tepi Barat dan Betlehem.

"Saya bertemu dengan beberapa dari mereka," kata Canawati.

"Saya pikir adalah tugas kita untuk menceritakan kisah Palestina yang sebenarnya dan berbicara kepada orang-orang yang mungkin telah diberi gagasan berbeda oleh Israel," ujarnya.

Ia menolak keras klaim Netanyahu.

"Itu jelas pernyataan yang salah. Yang mendorong orang Kristen meninggalkan Betlehem adalah pendudukan dan semua kesulitan yang kami sebagai warga Palestina, baik Kristen maupun Muslim, hadapi," tegasnya.

Giacaman sendiri tidak tahu kapan Christmas House akan kembali dibuka. Berdiri di dalam toko kosongnya, ia memikirkan masa depan komunitasnya.

"Semua orang menangisi orang Kristen, tetapi kami dibunuh oleh pisau orang Kristen Eropa dan Amerika. Tidak ada perlindungan bagi kami, sebagai orang Kristen, dari negara-negara Kristen," katanya.

"Saya tidak melihat harapan atau masa depan apa pun bagi orang Kristen di Tanah Suci lagi. Dalam 20 tahun ke depan, saya pikir Anda akan datang dan mengunjungi Betlehem, mungkin Anda akan melihat satu atau dua keluarga yang tersisa," pungkasnya. (MEE/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik