Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Warga Betlehem Palestina Rayakan Natal dalam Tekanan Pemukim Israel

Ferdian Ananda Majni
23/12/2025 20:35
Warga Betlehem Palestina Rayakan Natal dalam Tekanan Pemukim Israel
Natal di Betlehem.(Al Jazeera)

LAMPU-LAMPU Natal kembali menyala di Betlehem, Tepi Barat, Palestina. Cahayanya berkelip di bawah bayang-bayang konflik yang belum sepenuhnya reda. 

Di Lapangan Palungan, alunan lagu rohani dan langkah marching band terdengar lagi setelah dua tahun keheningan. Umat Kristen Palestina mencoba merayakan Natal bukan dengan kemeriahan, melainkan keteguhan untuk bertahan. 

Di tengah kekerasan pemukim Israel, ketidakpastian politik, dan luka perang di Jalur Gaza, perayaan sederhana ini menjadi penanda bahwa kehidupan di tanah kelahiran Yesus belum sepenuhnya padam, meski rapuh. Di Betlehem, kota yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus menurut Injil, jalan-jalan dihiasi spanduk berbahasa Arab dan Inggris yang mengutip Kitab Yesaya, "Bangkitlah, bersinarlah, karena terangmu telah datang."

Namun, prosesi penyalaan pohon Natal yang digelar baru-baru ini terasa lebih sebagai simbol harapan kecil di tengah situasi yang masih muram. Dalam setahun terakhir, serangan pemukim ekstremis Israel terhadap komunitas Palestina di Tepi Barat meningkat tajam. 

Data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Palestina mencatat Oktober menjadi bulan paling brutal dengan 271 insiden atau sekitar delapan serangan per hari. Ini angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006.

Awal tahun ini, pemerintah Israel menyetujui perluasan permukiman terbesar dalam beberapa dekade. Pada Minggu (21/12), kabinet kembali mengesahkan proposal legalisasi 19 permukiman tambahan. 

Pariwisata kota

PBB dan Mahkamah Internasional secara konsisten menyatakan bahwa seluruh permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional. Wilayah Betlehem, yang menjadi salah satu pusat komunitas Kristen Palestina, turut merasakan dampaknya. 

Menurut data PBB, setidaknya 59 warga Palestina terluka akibat serangan pemukim sejak awal tahun hingga November. Angka ini lebih tinggi daripada sepanjang 2024.

Wali Kota Betlehem, Maher Canawati, mengatakan bahwa perayaan Natal kali ini menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan. "Kami menginginkan perdamaian. Kami menginginkan kehidupan," ujarnya. "Perdamaian diperlukan agar kami dapat terus hidup di kota-kota kami dan Palestina."

Selain makna spiritual, Natal memiliki arti penting bagi ekonomi Betlehem. Tanpa perayaan musiman, sektor pariwisata kota akan terpukul keras.

"Acara ini menyoroti semua yang bisa ditawarkan kota ini," ucap Yousef Handal, 47, seorang barista di kafe dekat alun-alun utama. "Namun, saya tidak bisa mengatakan bahwa kegembiraan semangat Natal benar-benar terasa," ujarnya.

Perasaan serupa dirasakan banyak umat Kristen di Tepi Barat pada Natal tahun ini. Perayaan berlangsung sederhana dan sunyi dengan tema ketahanan menggantikan kemeriahan.

"Rasanya luar biasa bisa melihat senyuman, dekorasi, dan lampu-lampu di jalanan kita," kata Yousef Oweis, 23, yang membuat donat di pasar Natal Ramallah. "Ini cara orang Palestina mengatakan, 'Kami ada di sini,'" lanjutnya.

Proyek ekowisata

Di Taybeh, desa Palestina terakhir yang seluruh penduduknya beragama Kristen, para pemimpin komunitas membuka pasar Natal baru. Mereka berharap kegiatan ini dapat meniru kesuksesan festival bir tahunan bergaya Oktoberfest di desa tersebut, sekaligus menciptakan titik cahaya di tengah bulan-bulan yang penuh tekanan.

Namun, pada 3 Desember, salah satu pemilik proyek ekowisata di sekitar Taybeh, Fuad Muaddi, mengaku mendengar suara buldoser di lahannya. Keesokan hari, ia menemukan jalur baru yang membelah propertinya dan mengarah ke pos pemukim. 

Muaddi melaporkan kejadian itu kepada otoritas Palestina. Seorang pejabat Palestina membenarkan bahwa laporan tersebut telah dicatat dan tengah ditinjau. "Kami mencoba untuk bernapas lega agar dapat melanjutkan kehidupan," kata Muaddi saat pembukaan pasar Natal.

Namun, seorang aktivis lokal yang memantau aktivitas pemukim, Sanad Sahlieh, mengatakan pada malam harinya, dua mobil dibakar di bagian timur desa. Militer Israel menyatakan telah mengerahkan pasukan ke lokasi setelah menerima laporan mengenai beberapa warga sipil Israel yang membakar kendaraan, tetapi tidak ada tersangka yang berhasil diamankan.

Meski demikian, pasar Natal Taybeh tetap berlangsung meriah. Paduan suara menyanyikan lagu-lagu perdamaian, sementara para pedagang menjajakan wafel, shawarma, dan cokelat panas.

Pulang kampung

Seorang konselor sekolah asal Taybeh yang kini tinggal di Ramallah, Rene Taye, mengatakan ia pulang kampung untuk Natal dengan harapan suasana pasar dapat mengangkat semangat. "Rasanya masih berat," katanya. 

Ia meyakini perayaan ini penting bagi anak-anak setempat yang selama bertahun-tahun hanya mengenal hari libur dalam bayang-bayang konflik politik. "Tahun ini mereka dapat mengalami kelahiran Kristus sebagai saat sukacita dan seruan untuk berkelanjutan," sebutnya.

Selama dua tahun terakhir, adegan kelahiran Yesus di Gereja Kristus Sang Penebus, Taybeh, digambarkan secara simbolis, yaitu bayi Yesus diletakkan di atas puing-puing, bukan jerami. Tahun ini, sebagai tanda untuk melangkah maju, adegan kelahiran tradisional kembali ditampilkan.

"Kita perlu memperbarui tanah dan kehidupan kita," kata Pastor Bashar Fawadleh dalam khotbah terbarunya. Ia menyerukan perdamaian dan keamanan bagi Taybeh serta berharap orang-orang dari seluruh dunia dapat kembali mengunjungi desa tersebut. "Di sini tempat Yesus berada," pungkasnya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik