Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

AS Sita Kapal Venezuela, Kuba dan Iran Protes Keras

Khoerun Nadif Rahmat
15/12/2025 08:53
AS Sita Kapal Venezuela, Kuba dan Iran Protes Keras
Kapal tanker Venezuela yang disita AS.(NBC News)

KAPAL tanker minyak yang disita Amerika Serikat (AS) di lepas pantai Venezuela, Rabu (10/12), merupakan bagian dari upaya pemerintah Venezuela untuk mendukung Kuba. Demikian menurut sejumlah dokumen dan orang-orang di dalam industri minyak Venezuela yang dilaporkan The New York Times, Sabtu (13/12).

Kapal tanker yang bernama Skipper itu meninggalkan Venezuela pada 4 Desember. Menurut data internal dari perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, Skipper membawa hampir dua juta barel minyak mentah berat negara tersebut. Tujuan kapal tersebut tercantum sebagai pelabuhan Matanzas di Kuba.

Dua hari setelah keberangkatannya, imbuh perusahaan data perkapalan Kpler, Skipper menurunkan sebagian kecil minyaknya--sekitar 50.000 barel--ke kapal lain bernama Neptune 6 yang kemudian menuju utara ke arah Kuba. Seorang pejabat AS yang diberi informasi tentang masalah tersebut menambahkan, setelah transfer tersebut, Skipper menuju timur ke arah Asia.

Presiden Nicolas Maduro dari Venezuela dan pendahulunya, Hugo Chavez, selama beberapa dekade mengirimkan minyak ke Kuba dengan harga yang sangat disubsidi. Ini menyediakan sumber daya penting dengan biaya rendah bagi pulau miskin tersebut.

Sebagai imbalannya, pemerintah Kuba selama bertahun-tahun mengirim puluhan ribu tenaga medis, instruktur olahraga, dan semakin banyak para profesional keamanan untuk bertugas di Venezuela. Pertukaran tersebut menjadi sangat penting karena Maduro mengandalkan pengawal dan petugas kontra intelijen Kuba untuk melindungi dirinya dari peningkatan kekuatan militer AS di Karibia.

Dijual ke Tiongkok

Namun, berdasar dokumen PDVSA dan data pelacakan kapal tanker, dalam beberapa tahun terakhir hanya sebagian kecil minyak Venezuela dialokasikan untuk Kuba yang benar-benar sampai ke pulau tersebut. Sebagian besar minyak yang dialokasikan untuk Kuba justru dijual kembali ke Tiongkok

Beberapa orang yang dekat dengan pemerintah Venezuela mengungkapkan uang tersebut memberikan mata uang asing yang sangat dibutuhkan oleh pemerintah Kuba. Sebagian dari uang itu diyakini digunakan pejabat Kuba untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok, meskipun ketidaktransparan ekonomi negara itu menyulitkan untuk memperkirakan aliran uang itu atau kemungkinan masuk ke perantara bisnis yang memiliki hubungan dengan kedua pemerintah.

Pada Jumat (12/12), para pejabat Kuba mengutuk penyitaan kapal tanker oleh AS. Mereka menyebutnya dalam sebagai tindakan pembajakan dan terorisme maritim yang merugikan Kuba dan rakyatnya.

"Tindakan ini merupakan bagian dari eskalasi AS yang bertujuan menghambat hak sah Venezuela untuk secara bebas menggunakan dan memperdagangkan sumber daya alamnya dengan negara lain, termasuk pasokan hidrokarbon ke Kuba," demikian bunyi pernyataan tersebut. Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Tokoh utama yang mengelola arus minyak antara Kuba dan Venezuela ialah seorang pengusaha Panama bernama Ramon Carretero. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menjadi salah satu pedagang minyak Venezuela terbesar.

Baca juga: AS Diprediksi Kalah Perang jika Hadang Tiongkok Invasi Taiwan

Sanksi untuk Carretero

Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Carretero pada Kamis (11/12) karena memfasilitasi pengiriman produk minyak bumi atas nama pemerintah Venezuela. Carretero, melalui perwakilan hukumnya, menolak berkomentar tentang keputusan pemerintah tersebut. 

Ia tidak menanggapi pertanyaan rinci untuk artikel ini. Peran Carretero sebagai perantara ekonomi antara Kuba dan Venezuela pertama kali dilaporkan oleh Armando.info, media berita investigasi Venezuela.

Skipper membawa minyak yang dikontrak bersama oleh Cubametales, perusahaan perdagangan minyak milik negara Kuba, dan perusahaan perdagangan minyak yang terkait dengan Carretero. Secara keseluruhan, perusahaan perdagangan Carretero menguasai seperempat dari minyak yang dialokasikan PDVSA untuk ekspor tahun ini.

Baca juga: Bisnis Besar di Balik Perang AS Melawan Narkotika

Cubametales memenangkan kontrak untuk membeli sekitar 65.000 barel minyak Venezuela per hari hingga sepanjang tahun ini. Artinya, ada peningkatan 29% dari 2024 dan naik tujuh kali lipat dari 2023. Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi terhadap Cubametales pada 2019 karena membeli minyak Venezuela, bagian dari perseteruan antara Trump dan Maduro selama pemerintahan pertamanya.

Minyak dari Venezuela yang sampai ke Kuba menghasilkan listrik dan menyediakan bahan bakar untuk pesawat terbang dan mesin. Namun, itu tidak cukup untuk mencegah pemadaman yang melanda pulau itu di tengah krisis ekonomi.

Baca juga: Jerman Siapkan Rencana saat NATO Konflik dengan Rusia

Alokasi 1,1 juta barel minyak

Pelayaran yang direncanakan menunjukkan Kuba mendapat manfaat dari perdagangan minyak di Venezuela. Cubametales, perusahaan milik negara, mencantumkan tujuan kapal tersebut sebagai Kuba yang menunjukkan bahwa seluruh alokasi 1,1 juta barel minyak perusahaan tersebut akan menuju ke pulau itu.

Namun, menurut seseorang yang dekat dengan PDVSA, kapal tanker itu akhirnya menuju Tiongkok setelah hanya menurunkan sebagian kecil minyak ke kapal Neptune 6 dan mengirimkannya ke Kuba. Kemudian, pada Rabu, saat Skipper berlayar ke timur di perairan internasional antara pulau Grenada dan Trinidad, kapal itu jatuh dalam jebakan AS.

Agen penegak hukum Amerika bersenjata yang mengenakan perlengkapan tempur kamuflase turun dari helikopter ke dek kapal tanker itu. Awak kapal tidak memberikan perlawanan dan pejabat AS mengatakan tidak ada korban jiwa.

Baca juga: Negara-Negara yang Dibayar agar Terima Warga AS yang Dideportasi

Para pejabat AS mengatakan mereka akan meminta surat perintah untuk menyita minyak tersebut yang bernilai puluhan juta dolar. Awak kapal setuju mengarahkan kapal tersebut di bawah pengawasan Penjaga Pantai ke pelabuhan AS, kemungkinan besar Galveston, Texas.

Pemerintahan Trump dan oposisi Venezuela telah lama menggambarkan pemerintahan Maduro sebagai pusat bagi musuh-musuh mereka. Penyitaan dramatis kapal Skipper tampaknya bertujuan melemahkan aliansi Maduro sekaligus memutus aksesnya ke dana.

Contoh terbaru pembajakan

Menteri Komunikasi Venezuela, Freddy Nanez, menyebut penahanan kapal tanker itu sebagai contoh terbaru dari pembajakan, penculikan, pencurian harta benda pribadi, dan eksekusi di luar hukum di perairan internasional yang dilakukan Washington. Ia tidak memberikan komentar atas pertanyaan rinci yang dikirimkan untuk artikel ini.

Baca juga: Tiongkok Kuasai Mineral Langka Tanzania, Australia dan Barat Waspada

Sejarah pelayaran Skipper menunjukkan jaringan lebih besar dan lebih longgar yang menghubungkan industri energi Venezuela, Kuba, Iran, dan Rusia. Empat musuh AS tersebut pada berbagai tingkat telah terpinggirkan dari pasar minyak global formal oleh sanksi Washington.

Menurut seorang pejabat AS, sebagian besar awak kapal yang dipimpin oleh kapten itu berjumlah sekitar 30 pelaut ialah orang Rusia.

Sebelum mengangkut minyak Venezuela, Skipper menghabiskan empat tahun sebagai bagian dari armada rahasia Iran, mengangkut minyak Iran ke Suriah dan Tiongkok. Demikian menurut data dari Kpler dan seorang pejabat senior kementerian perminyakan Iran yang membahas isu-isu sensitif dengan syarat anonimitas.

Baca juga: Dituding Bawa Warga Palestina ke Afsel, Al-Majd Europe Menjawab

Pembajakan disponsori negara

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Jumat (12/12) mengutuk penyitaan kapal Skipper. Ia menyebutnya sebagai pembajakan yang disponsori negara dalam komentarnya kepada media lokal.

Di tempat lain di Venezuela, imbuh Homayoun Falakshahi selaku kepala analis minyak Kpler dan seorang ahli di sektor energi Iran, kontraktor Iran mengerjakan perbaikan dua kilang utama negara itu yakni El Palito dan Amuay.

Rusia memasok Venezuela dengan impor utama nafta, produk minyak ringan yang digunakan Venezuela untuk mengencerkan jenis minyak mentah utamanya yang kental dan membuatnya layak untuk diekspor. Perusahaan minyak milik negara Rusia, Rosneft, memproduksi hampir 100.000 barel minyak mentah per hari di Venezuela. Pada tahun-tahun sebelumnya perusahaan tersebut memainkan peran penting dalam mengekspor minyak Venezuela ke Tiongkok.

Baca juga: Cerita Tahanan Palestina di Penjara Bawah Tanah Israel Bernama Rakefet

Menurut para ahli, hubungan energi negara-negara ini lebih didorong oleh peluang komersial dan kebutuhan daripada sentimen anti-Amerika yang sama. Mereka belajar satu sama lain cara menghindari sanksi dan menjaga pendapatan minyak tetap mengalir.

Kemampuan Rusia untuk membangun armada tanker bayangan dan menemukan pasar minyak baru untuk mendanai perangnya di Ukraina, misalnya, sebagian disebabkan pengalaman para pedagang minyaknya dalam memindahkan minyak mentah Venezuela. Maklum, minyak Venezuela dikenai sanksi selama konfrontasi sebelumnya antara Trump dan Maduro pada 2019.

Baca juga: Bantuan untuk Gaza Menumpuk di Yordania dan Mesir akibat Ditolak Israel

Venezuela belajar dari Iran

Venezuela, di sisi lain, belajar dari Iran yang berupaya menghindari sanksi yang diberlakukan pemerintahan Trump pertama setelah menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018.

Namun, Venezuela, Iran, dan Rusia juga bersaing memperebutkan pasar minyak Tiongkok. Seorang ahli minyak di Universitas Rice di Houston, Francisco J Monaldi, ini memungkinkan Negara Panda itu untuk terus membeli minyak mentah yang dikenai sanksi AS. 

"Ini seperti OPEC dari penerima sanksi. Negara-negara ini memiliki kepentingan bersama, tetapi juga beberapa kepentingan yang bertentangan," kata Monaldi. "Sebagian besar waktu, ini hanya tentang bisnis." (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik