Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Jerman Siapkan Rencana saat NATO Konflik dengan Rusia

Ferdian Ananda Majni
28/11/2025 07:41
Jerman Siapkan Rencana saat NATO Konflik dengan Rusia
Tank Jerman.(Al Jazeera)

SEKITAR 2,5 tahun lalu, lebih dari selusin perwira tinggi Jerman berkumpul di kompleks militer berbentuk segitiga di Berlin untuk menyusun rencana rahasia menghadapi kemungkinan perang dengan Rusia. Kini, rencana tersebut beralih menjadi implementasi.

Invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022 menghapus stabilitas Eropa yang terjaga selama beberapa dekade. Sejak itu, kawasan tersebut menjalani pembangunan kekuatan militer paling cepat sejak Perang Dunia II berakhir. 

Namun, potensi kemenangan di konflik masa depan tidak hanya bergantung pada jumlah pasukan dan senjata, tetapi juga pada kemampuan menjalankan operasi logistik berskala besar. Ini digariskan dalam Operasi Rencana Jerman, dokumen rahasia setebal 1.200 halaman yang disusun di Barak Julius Leber.

Cetak biru itu menggambarkan mobilisasi hingga 800 ribu personel Jerman, AS, dan NATO menuju garis depan timur. Ini termasuk rute pelabuhan, sungai, rel kereta, hingga jalan raya, serta tata cara distribusi suplai dan perlindungan selama pergerakan berlangsung.

"Lihat petanya," kata Tim Stuchtey dari Brandenburg Institute for Society and Security seperti dilansir Wall Street Journal, kemarin. Dengan Pegunungan Alpen menjadi penghalang alami, Jerman akan menjadi jalur utama bagi pergerakan pasukan NATO jika konflik dengan Rusia pecah.

Menyerang NATO

Pejabat Jerman memperkirakan Rusia akan siap untuk menyerang NATO pada 2029. Namun serangkaian insiden mata-mata, sabotase, dan pelanggaran wilayah udara di Eropa yang dikaitkan dengan Moskow menunjukkan ancaman itu bisa datang lebih cepat. 

Para analis juga menilai bahwa gencatan senjata di Ukraina berpotensi memberi waktu bagi Rusia untuk mempersiapkan langkah lanjutan terhadap anggota NATO. Seorang perwira senior, salah satu arsitek awal Oplan Deu, mengatakan tujuan utama rencana ini yaitu menjaga Eropa tetap tangguh. "Tujuannya mencegah perang dengan menjelaskan kepada musuh-musuh kita bahwa jika mereka menyerang kita, mereka tidak akan berhasil," katanya.

Di lapangan, perubahan besar tampak jelas, salah satunya dalam simulasi pembangunan kamp lapangan oleh Rheinmetall di Jerman timur yakni kompleks untuk 500 tentara lengkap dengan asrama, dapur, pompa bensin, hingga sistem drone, dibangun dalam dua minggu dan dibongkar dalam tujuh hari. "Bayangkan membangun kota kecil dari nol dan membongkarnya hanya dalam beberapa hari," sebut Marc Lemmermann, kepala penjualan logistik Rheinmetall.

Meski begitu, latihan tersebut menyoroti sejumlah kekurangan, seperti keterbatasan lahan dan titik kemacetan yang berpotensi menghambat pergerakan konvoi militer.

Oplan kini memasuki iterasi kedua dan disimpan dalam jaringan militer yang tidak tersambung internet. Beberapa kendala terbesar yang dihadapi para perencana militer Jerman bersifat nonfisik yaitu aturan pengadaan berbelit-belit, undang-undang perlindungan data yang memberatkan, dan peraturan lain yang dibentuk di era lebih damai.

Kerentanan terbesar 

Melaksanakan rencana tersebut membutuhkan penataan ulang mentalitas, menghapus kebiasaan yang telah ada selama hampir satu generasi. "Kita harus mempelajari kembali yang telah kita lupakan," kata Nils Schmid, wakil menteri pertahanan. "Kita harus menarik kembali orang-orang dari masa pensiun untuk memberi tahu kita bagaimana kita melakukannya saat itu."

Suatu ruas A44 di Jerman Barat menjadi gambaran kesiapan pertahanan Eropa menurun sejak akhir Perang Dingin. Jalur median beraspal, area istirahat luas, serta rancangan landasan pendaratan darurat dulu merupakan bagian dari infrastruktur dwiguna. Namun banyak fasilitas itu kini tak lagi layak digunakan ditambah investasi yang minim membuat sekitar 20% jalan raya dan seperempat jembatan memerlukan perbaikan.

Ketidakmampuan infrastruktur mendukung mobilitas militer menjadi salah satu kerentanan terbesar. "Hal ini menyebabkan jalan memutar, penundaan, dan membahayakan nyawa," kata peneliti NATO Jannik Hartmann.

Insiden pada 25 Februari 2024 memperlihatkan dampaknya. Kapal kargo Rapida menabrak jembatan kereta api di Sungai Hunte, menutup akses ke satu-satunya jalur menuju pelabuhan Nordenham yakni terminal penting untuk pengiriman amunisi ke Ukraina. 

Setelah jembatan sementara dibangun, insiden serupa kembali terjadi dua bulan kemudian. NATO terpaksa memindahkan pengiriman ke Polandia.

Jalur kereta

CEO Niedersachsen Ports, Holger Banik, menilai jalur kereta menuju pelabuhan merupakan titik lemah serius. Jerman kini menargetkan investasi US$192,6 miliar hingga 2029 untuk infrastruktur dengan prioritas pada revitalisasi jalur kereta dan pembangunan fasilitas dwiguna.

Setelah Rusia menginvasi Ukraina, Kanselir Olaf Scholz mengumumkan dana US$115,15 miliar untuk memperkuat pertahanan. Militer Jerman yang disebut Bundeswehr kemudian membentuk Komando Teritorial dan menugaskan Letjen Andre Bodemann menyusun Oplan.

Paul Strobel dari Quantum Systems menilai Jerman menjadi target ideal jika konflik terjadi. "Jika Jerman akan menjadi pusat NATO, sebagai musuh, saya ingin menargetkannya, memblokade pelabuhan, memutus aliran listrik, mengganggu jalur kereta api," sebutnya.

Quantum Systems memasok ribuan drone ke Ukraina, tetapi baru 14 unit ke Jerman karena regulasi yang dianggap tidak relevan untuk konteks militer, seperti larangan terbang di area padat penduduk. "Hal ini masuk akal untuk penggunaan sipil tetapi tidak efektif dalam konteks militer," kata Strobel.

Meski demikian, Bundeswehr menilai kemajuan Oplan signifikan. "Mengingat kami memulai dengan halaman kosong di awal tahun 2023, kami sangat puas dengan posisi kami saat ini. Ini produk yang sangat canggih," sebut salah satu perwira penyusun rencana.

Tetap saja, uji stres terbaru menunjukkan kesenjangan antara dokumen dan realitas. Meningkatnya sabotase, serangan siber, dan intrusi udara membuat batas antara damai dan konflik semakin tipis.

"Ancamannya nyata," kata Kanselir Friedrich Merz pada September. "Kita tidak sedang berperang, tetapi kita tidak lagi hidup di masa damai," pungkasnya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik