Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Perusahaan Tiongkok Dituding Gandeng Geng Kriminal Banjiri Sabu di Asia

Ferdian Ananda Majni
10/11/2025 12:48
Perusahaan Tiongkok Dituding Gandeng Geng Kriminal Banjiri Sabu di Asia
Ilustrasi.(Freepik)

PENGIRIMAN bahan kimia dari Tiongkok seharusnya tetap berada di dekat Bangkok. Namun, alat pelacak, yang dipasang otoritas narkotika Thailand berdasarkan informasi dari Badan Penegakan Narkoba AS, menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut bergerak ke utara menuju perbatasan Myanmar sepanjang 2.400 kilometer.

Petugas antinarkotika Thailand meyakini bahan kimia tersebut akan digunakan untuk menyintesis metamfetamin, stimulan sangat adiktif yang membanjiri negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Mereka tahu bahwa di seberang perbatasan, perbukitan berhutan yang diperintah panglima perang didukung Tiongkok, terdapat tempat yang dianggap PBB sebagai pusat produksi metamfetamin terbesar di dunia.

Masalahnya--yang berulang kali melumpuhkan para penyelidik di masa lalu--ialah mandat mereka hanya mencegat obat-obatan terlarang, bukan bahan-bahan yang dapat membuatnya. Pelacak itu akhirnya mendeteksi gudang, beberapa menit dari penyeberangan ke Myanmar. Di kantor pusat Badan Pengawas Narkotika di Bangkok, para pemimpin mengeluarkan perintah kepada personel di perbatasan untuk menggerebek gudang itu.

Investigasi Washington Post menemukan bahwa sejumlah produsen Tiongkok mengirimkan bahan kimia dalam jumlah semakin besar yang dapat digunakan dalam produksi narkoba sintetis ke wilayah-wilayah Asia Tenggara yang tidak memiliki hukum. Wilayah ini menjadi tempat para panglima perang dan geng kriminal memproduksi dan memperdagangkan sabu dalam jumlah yang memecahkan rekor.

Krisis narkoba

Perdagangan itu, yang menjadi dasar krisis narkoba meningkat di seluruh Asia-Pasifik, meluas sebagian karena otoritas di Tiongkok tidak memenuhi standar internasional untuk mencegah aliran semacam itu atau mengindahkan seruan pemerintah lain untuk mengendalikan unsur-unsur kriminal dalam industri kimia kolosalnya. Demikian menurut dokumen yang diperoleh The Post.

"Tiongkok memperkuat sektor ini," tuding John Coyne, mantan pejabat kepolisian Australia yang sekarang menjabat sebagai direktur program keamanan nasional di Australian Strategic Policy Institute, sebagaimana dilansir dari The Post, Sabtu (8/11). Produksi industri sabu dari Asia Tenggara tidak akan mungkin terjadi tanpa industri dan kejahatan terorganisasi Tiongkok.

Investigasi didasarkan pada dokumen intelijen dari pemerintah di kawasan Asia-Pasifik, pengarahan penegak hukum, catatan bea cukai, dan bukti foto penyitaan bahan kimia, serta wawancara dengan lebih dari 40 orang yang terlibat atau memantau aliran narkoba. Investigasi tersebut menemukan kesamaan mencolok dan sebagian besar tidak dilaporkan antara situasi di Asia-Pasifik dan Amerika. Kolaborasi antara kartel Amerika Latin dan pemasok mereka dari Tiongkok menjadi inti krisis fentanil.

Beberapa perusahaan Tiongkok yang didakwa atau dikenai sanksi AS atas penjualan bahan kimia untuk membuat fentanil ialah entitas yang diidentifikasi badan-badan AS sebagai pemasok bahan baku metamfetamin ke Myanmar, kata beberapa pejabat penegak hukum AS di Asia Tenggara, berbagi informasi yang belum pernah dilaporkan ke publik. "Ada hubungan jelas dan konkret bahwa ini benar-benar merupakan satu pertarungan besar global," kata seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang membagikan detail investigasi yang berlangsung.

Tarif Trump 

Presiden Donald Trump mengutip perdagangan Tiongkok atas bahan-bahan kimia ini, yang dikenal sebagai prekursor obat, sebagai alasan untuk putaran tarif pertamanya tahun ini. Ia menuduh Partai Komunis Tiongkok menyubsidi dan memberikan insentif untuk ekspor bahan itu sekaligus menyediakan tempat berlindung aman bagi produsen dan broker yang terlibat dalam industri ini.

Dalam pertemuan puncak dengan Trump di akhir Oktober, pemimpin Tiongkok Xi Jinping setuju menindak pengiriman prekursor fentanil ilegal, meskipun para analis skeptis akan ada perubahan berarti. Beijing sebelumnya menolak klaim bahwa mereka bertanggung jawab atas krisis narkoba di luar negeri dan berpendapat pihak berwenang memberlakukan peraturan lebih ketat terhadap prekursor narkoba. Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak menanggapi permintaan komentar.

Baca juga: Tangkis Sanksi AS, Diam-Diam Tiongkok Beli Minyak Iran

Namun, para penyelidik dari lembaga penegak hukum AS, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), serta perusahaan intelijen dan manajemen risiko swasta menemukan semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa jaringan kejahatan terorganisasi di Asia Tenggara berhasil dengan mudah menghindari kontrol Tiongkok dan terus mendapatkan bahan baku dasar dari mitra di Tiongkok.

Para penyelidik mengatakan mereka menemukan puluhan perusahaan berlisensi di Tiongkok yang secara terbuka memperdagangkan bahan baku prekursor metamfetamin seperti efedrin dan pseudoefedrin di pasar daring. Perusahaan-perusahaan ini menawarkan dukungan logistik menyeluruh, termasuk penghindaran aturan bea cukai, dan hanya menghadapi sanksi terbatas, jika ada dari otoritas Tiongkok, bahkan ketika terungkap sebagai pemasok prekursor.

"Tsunami metamfetamin yang membanjiri Asia dipicu langsung oleh bahan kimia prekursor dari perusahaan-perusahaan Tiongkok," ujar Brandon Yoder, mantan wakil asisten menteri di Biro Narkotika Internasional dan Penegakan Hukum Departemen Luar Negeri AS.

Produsen Tiongkok 

Para pejabat dari PBB dan organisasi multilateral lain memperingatkan pemerintah-pemerintah Asia Tenggara bahwa produsen Tiongkok ialah sumber terpenting dari bahan kimia prekursor yang mengalir ke Myanmar, mesin utama produksi metamfetamin di kawasan itu. Di Thailand, negara transit utama bahan kimia ini ke Myanmar, badan-badan antinarkotika mengatakan tantangannya sangat besar.

Operasi di perbatasan, yang dilakukan pada Oktober 2024, merupakan salah satu dari selusin penyitaan bahan kimia besar dalam setahun terakhir. Seorang mayor polisi di Departemen Investigasi Khusus Kementerian Kehakiman Thailand, Worranan Srilum, mengatakan ini bagian dari upaya baru yang menyasar bahan-bahan prekursor.

Di antara 800 ton bahan kimia yang disita dalam penyitaan itu yaitu toluena yang membantu memurnikan kristal sabu, pelarut aseton yang digunakan dalam pembersihan dan persiapan; dan natrium hidroksida untuk reaksi kimia dalam sintesis sabu. Namun, lanjut Worranan, membuktikan bahwa senyawa-senyawa ini dipindahkan untuk produksi narkoba cukup sulit. Setahun setelah penyelidikan, belum ada tuntutan yang diajukan. 

UNODC melaporkan rekor 236 ton sabu disita di Asia Tenggara dan Timur tahun lalu alias naik 24% dari tahun sebelumnya. Sumber utama, kata PBB, ialah negara bagian Shan di timur Myanmar, wilayah hutan pegunungan terlarang dan berbatasan dengan Tiongkok.

Wilayah itu diperintah beragam pemberontak etnis. Yang paling kuat di antara mereka ialah Tentara Negara Bagian Wa Bersatu (UWSA). Kelompok tertutup ini ditetapkan AS sebagai pengedar narkotika dan dianggap lembaga pemikir dan peneliti Washington sebagai proksi Tiongkok.

Komandan UWSA

Menurut laporan Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan AS, banyak komandan di UWSA, yang berakar dari Partai Komunis Burma, berbahasa Mandarin, dan memiliki kewarganegaraan Myanmar dan Tiongkok. Tiongkok membantah telah mempersenjatai UWSA. 

Namun, pada parade militer UWSA pada 2019 memamerkan peralatan Tiongkok. Para pejabat senior Tiongkok, termasuk utusan Tiongkok untuk Asia Tenggara, duduk di samping pemimpin kelompok pemberontak, Bao Youxiang, yang juga dikenal sebagai Pao Yu Hsiang. Ia didakwa AS atas tuduhan perdagangan heroin dan metamfetamin.

Setidaknya delapan komandan milisi tersebut dicari AS atas kejahatan narkoba, meskipun UWSA secara resmi membantah terlibat dalam narkotika. Seorang jurnalis yang bertahun-tahun mewawancarai orang-orang yang dekat dengan kelompok tersebut, termasuk mantan tentara dan penasihat, Patrick Winn, mengatakan UWSA pertama kali memasuki perdagangan narkoba dengan menyediakan lahan, keamanan, dan dukungan logistik kepada sindikat narkoba Tiongkok yang bermigrasi dari daratan untuk menghindari Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Winn mengatakan, dasar dari kesepakatan itu merupakan aturan kuat bahwa narkoba yang sudah jadi tidak boleh mengalir kembali ke Tiongkok. "Itulah penyebab kami melihatnya mengalir ke luar."

Seorang juru bicara Anggota UWSA, Nyi Rang, menolak menjawab pertanyaan seputar narkotika atau hubungan kelompok tersebut dengan Tiongkok.

Harga sabu anjlok

Pada 2021, militer Myanmar menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis, sehingga menjerumuskan negara tersebut ke dalam perang saudara. Upaya pemberantasan narkotika melemah seiring dengan runtuhnya ekonomi formal. Bagi UWSA dan mitra-mitranya di Tiongkok, ini awal dari masa keemasan.

Di beberapa wilayah Asia-Pasifik, harga eceran sabu kristal atau disebut ice turun setengahnya sejak 2021 meskipun kemurniannya tetap stabil. Ini menjadi tanda kelebihan pasokan, menurut UNODC.

Penggunaan sabu di Australia, yang melonjak 21% antara 2023 dan 2024, kini berada di ambang epidemi, menurut survei air limbah. Kepolisian Australia memperkirakan pada 2022 bahwa sekitar 70% ice di negara tersebut berasal dari negara bagian Shan.

Di Korea Selatan, Kementerian Kesehatan memperkirakan pada 2024 bahwa jumlah total pengguna narkoba ilegal meningkat lebih dari 60% dalam lima tahun menjadi lebih dari 400.000. Jejak metamfetamin terdeteksi di puluhan pabrik pengolahan limbah di seluruh negeri. Ini menunjukkan penggunaan yang meluas.

Namun, dampak ledakan produksi di negara bagian Shan tidak pernah lebih mengerikan daripada di Myanmar sendiri. Hidup di tengah konflik dan pengangguran yang meningkat, para pemuda di negara itumenjadi tempat uji coba utama bagi ramuan narkoba baru, mulai dari pil metamfetamin yang lebih kuat hingga koktail multinarkoba yang dikenal sebagai happy water, menurut organisasi masyarakat sipil.

Mayat korban overdosis

Tepat di seberang perbatasan dari pos terdepan Mae Sai di Thailand yang tidak mencolok, beberapa unit pria bersenjata dapat terlihat berpatroli di kasino dan bar karaoke di Tachileik, tempat, menurut penduduk setempat, narkoba dijual secara terbuka. Sudah menjadi hal yang biasa menemukan mayat korban overdosis dibuang di luar sarang narkoba, kata penduduk. 

Saat melewati permakaman di Tachileik yang menjadi tempat perkemahan bagi para pecandu, para reporter Post melihat para remaja berjalan sempoyongan seperti zombi. Pon Li, seorang aktivis hak asasi manusia dari Tachileik yang kini tinggal di Thailand, mengatakan bahwa kampung halamannya telah menjadi kota mafia. 

UWSA memiliki dan mengendalikan properti tersebut, tetapi delegasi bisnis Tiongkoklah yang membawa uang, material, dan keahlian. "Setiap warga lokal tahu ini," tambah Pon Li. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa."

Pada Juli 2020, seorang petugas bea cukai Laos menandai pengiriman yang tidak biasa ke kantor regional UNODC di Bangkok. Tujuh puluh dua ton propionil klorida--bahan prekursor untuk narkoba sintetis, termasuk sabu-- dikirim dari Laos bagian barat ke negara bagian Shan di Myanmar.

Bahan kimia tersebut diproduksi oleh Goldlink Industries Co., anak perusahaan BUMN Tiongkok, yang kemudian diangkut melalui Thailand, menurut dokumen bea cukai. Ketika pengiriman dihentikan di Laos, seorang pialang yang mewakili Xinye Import and Export Development Corp. di negara bagian Shan mengirimkan surat yang meminta pembebasannya.

"Perusahaan kami ingin menggunakan propionil klorida sebagai bahan baku produksi pupuk dan pemisahan mineral, oleh karena itu mohon dukungan Anda," demikian isi surat tersebut. Atas saran UNODC, otoritas Laos memblokirnya. Baik Goldlink maupun Xinye tidak menanggapi permintaan komentar.

Penahanan tersebut merupakan, "Keberhasilan yang langka dan penting," kata Jeremy Douglas yang hingga tahun lalu menjabat sebagai kepala UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik. Namun, hal itu juga merupakan konfirmasi yang mengerikan atas hal yang mulai dicurigai oleh para penyelidik UNODC saat itu. 

Katanya, bersembunyi di balik arus perdagangan legal, terdapat operasi canggih untuk memindahkan sejumlah besar prekursor metamfetamin dari Tiongkok ke negara bagian Shan. "Mengingat volume perdagangan keluar dari Shan, jelas banyak sekali pengiriman lain yang berhasil," kata Douglas.

Wingroup Pharmaceutical

Pada 2023, penyidik PBB di Asia mengidentifikasi perusahaan lain Tiongkok, Wingroup Pharmaceutical, yang mengiklankan bahan kimia beserta tutorial yang menunjukkan cara bahan kimia tersebut dapat disintesis menjadi prekursor obat. Ini menurut dokumen yang disebarkan kepada penegak hukum di Asia Tenggara dan ditinjau oleh The Post.

Berlokasi di Wuhan, Wingroup terverifikasi di platform Alibaba, Tiongkok, tempat perusahaan tersebut menawarkan layanan tambahan berupa pemberian label yang salah pada bahan kimia dalam botol sabun cuci tangan dan tabung lilin lebah kepada klien, menurut tangkapan layar unggahan perusahaan yang telah dihapus. Wingroup mencantumkan mata uang kripto seperti bitcoin sebagai metode pembayaran pilihannya dan mempublikasikan instruksi tentang cara menukar kartu hadiah dengan kripto.

Pesan ke nomor dan email yang terkait dengan perusahaan tidak dijawab. Alibaba menyatakan bahwa Wingroup bukan lagi penjual terverifikasi di platformnya. Perusahaan menambahkan bahwa mereka memiliki kebijakan tanpa toleransi terkait daftar produk yang dapat digunakan untuk aktivitas ilegal.

Penyelidik PBB mengatakan Wingroup telah menjual prekursor fentanil langsung kepada pembeli di AS, Kanada, dan Meksiko. Pada Februari, pengadilan AS memutuskan dua warga negara Tiongkok, salah satunya bekerja sebagai manajer penjualan untuk Wingroup, bersalah atas konspirasi untuk mengimpor sejumlah ton prekursor fentanil dan metamfetamin dari Wuhan ke AS. Meskipun demikian, perusahaan tersebut tetap beroperasi dan menunjukkan tanda bahaya dalam transaksi bisnisnya yang ekstensif di Asia Tenggara, menurut pejabat penegak hukum AS.

Bayar dengan kripto

TRM Labs, perusahaan intelijen blockchain berkantor pusat di San Francisco, tahun lalu mengidentifikasi lebih dari 120 perusahaan kimia Tiongkok serupa yang mereka tetapkan sebagai pemasok precursor. Hampir semua menerima pembayaran dalam mata uang kripto. 

Ditemukan bahwa simpanan ke dompet kripto yang terhubung dengan perusahaan-perusahaan ini meningkat lebih dari 600% dari 2022 hingga 2023, kemudian berlipat ganda dalam empat bulan pertama pada 2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada 2023, dompet-dompet tersebut secara kolektif menerima lebih dari US$26 juta.

TRM juga menemukan bahwa hampir dua pertiga penjual prekursor fentanil juga mengiklankan prekursor untuk obat-obatan lain yaitu ekstasi untuk Eropa Barat. Mefedron untuk Rusia. Metamfetamin untuk Asia. Jaringan di jantung perdagangan fentanil merupakan tulang punggung bagi hampir setiap obat sintetis lain di dunia, kata TRM dalam laporan.

"Menjadi jelas bagi kami bahwa ini melampaui fentanil dan melampaui AS," kata Alois Afilipoaie, analis ancaman senior di TRM. "Tiongkok adalah pusat dari seluruh krisis obat-obatan terlarang global."

Ramuan Baru

Aroma vanila yang manis dan menyengat tercium dari lantai satu Kantor Badan Pengawas Narkotika (ONCB) di pusat kota Bangkok. Di bawah lampu neon, para petugas bermasker membuka bungkusan tablet sabu beraroma yang disita dengan merek 999. Ini merek dagang laboratorium di negara bagian Shan, menurut DEA.

Ada sekitar 10 juta tablet yang dikirim pagi itu dari penggerebekan di Thailand utara. Lima tahun lalu, jumlah ini akan menjadi rekor. Namun, kini hal itu menjadi hal rutin, menurut Tassawan Korsetthaphong, ilmuwan yang mengawasi penghitungan. 

Kantor-kantor polisi di seluruh negeri mengantre untuk menyerahkan hasil buruan mereka ke divisi analisis ONCB untuk diuji. Hingga September, katanya, antrean tersebut penuh hingga akhir tahun. Namun, tumpukan pekerjaan ini bukanlah yang membuatnya terjaga di malam hari.

Pada awal 2010-an, ketika bahan kimia seperti efedrin dan pseudoefedrin mulai dialihkan dari obat flu ke sabu, Thailand melarang penjualannya kepada publik. Untuk sementara waktu, perdagangan gelap bahan kimia ini melonjak yang memicu penyitaan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, hampir tidak ada larangan penggunaan bahan kimia ini meskipun jumlah metamfetamin dari wilayah tersebut melonjak.

Alasannya, kata Tassawan, adalah ada lusinan cara untuk merekayasa efedrin dan pseudoefedrin dari zat-zat yang tidak terkontrol. Hal ini, katanya, merupakan isu paling mendesak yang dihadapi badan tersebut.

Hubei Aoks

Tahun lalu, dewan juri federal AS mendakwa empat pemimpin perusahaan yang berbasis di Wuhan--Hubei Aoks Bio-Tech Co Ltd--atas tuduhan menjual prekursor fentanil, setelah itu mereka ditangkap oleh otoritas Tiongkok, menurut Departemen Kehakiman AS. 

Namun, hingga Oktober, Hubei Aoks masih memiliki halaman publik di platform bisnis ekspor yang mencantumkan Thailand sebagai salah satu pasar utamanya. Aparat penegak hukum di Thailand mengatakan mereka mencurigai bahwa anak perusahaan spin-off perusahaan tersebut masih aktif berbisnis di Asia Tenggara.

Pesan ke nomor telepon dan email yang terkait dengan Hubei Aoks tidak dijawab.

Pengiriman yang dilacak oleh penegak hukum AS menunjukkan rekor volume bahan kimia seperti natrium sianida dan benzil klorida yang masuk ke Thailand tanpa justifikasi yang sesuai dalam ekonomi legal. DEA sekarang ingin memfokuskan dukungan baru untuk upaya antinarkotika Thailand pada pencegatan bahan prekursor, bukan obat jadi.

Namun mandat ONCB tidak mencakup pengawasan zat-zat yang tidak diawasi.

Bantuan otoritas Tiongkok

Prin Mekanandha, direktur Biro Penegakan Hukum Narkotika ONCB, memberikan persetujuan akhir untuk operasi penggerebekan gudang di perbatasan Myanmar, tempat personel ONCB menemukan lebih dari 4.000 tangki plastik berisi bahan kimia prekursor. Namun, setelah penyitaan, kasus tersebut diserahkan kepada Departemen Investigasi Khusus Kementerian Kehakiman, yang memiliki kewenangan lebih luas daripada ONCB untuk menyelidiki.

Sebenarnya, kata Prin, ia merasa lega. Sangat sulit untuk membuktikan bahan kimia ini diangkut ke Myanmar untuk produksi narkoba. "Jika perusahaan-perusahaan di Myanmar mengatakan mereka membutuhkan bahan-bahan ini untuk alasan yang sah, Thailand hanya punya sedikit pilihan untuk melawan," kata Prin.

Mungkinkah meminta bantuan otoritas Tiongkok? Prin terdiam sejenak.

Hubungan kerja dengan otoritas Tiongkok kuat. Namun, imbuh Prin, pertanyaan apakah Thailand dapat mendesak Tiongkok untuk berbuat lebih banyak dalam mengatur ekspor bahan kimia sulit dijawab. 

Thailand adalah negara kecil, tidak seperti AS. Negara-negara kecil, katanya, tidak menuntut negara adidaya.

Rute baru

Dua tahun lalu, sebagai tanggapan atas tekanan dari PBB dan Badan Pengawas Narkotika Internasional, Tiongkok memperketat pengawasan atas prekursor narkoba yang diangkut dari provinsi Yunnan di barat daya--provinsi Tiongkok yang berbatasan dengan Myanmar dan Laos--ke negara bagian Shan. Namun, seiring melambatnya ekspor melintasi perbatasan darat ini, rute-rute baru melalui negara-negara transit termasuk Thailand dan Laos meluas, kata penyelidik PBB.

Dalam diskusi tertutup tentang prekursor kimia di Shanghai tahun lalu, Ohn Khaing, seorang wakil kolonel polisi di junta Myanmar, menjelaskan pengalihan rute kepada otoritas Tiongkok dalam presentasi tentang interdiksi kimia.

"Penyelundupan prekursor dari daerah perbatasan untuk memproduksi obat-obatan sintetis telah meningkat secara signifikan," kata pejabat tersebut dalam dokumen yang ditinjau oleh The Post. Foto-foto menunjukkan tong dan karung senyawa prekursor yang disita di Myanmar dengan cap Buatan Tiongkok. Barang-barang tersebut meliputi:

  • 7,5 ton asam tartarat pada September 2023.
  • 2,75 ton natrium asetat pada November 2023.
  • 14,9 ton natrium sianida pada Juli 2024.

Kementerian Keamanan Publik Tiongkok mengakui dalam laporan tahun lalu bahwa seiring dengan semakin beragamnya rute penyelundupan bahan kimia dan berkembangnya metode, pengendalian bahan kimia menghadapi tantangan yang lebih besar. Para profesor di perguruan tinggi kepolisian di Yunnan juga memperingatkan bahwa penyelundupan bahan kimia prekursor yang tidak terdaftar menjadi risiko keamanan serius yang dapat berdampak negatif terhadap citra Tiongkok.

Partai Komunis Tiongkok

Namun, menurut para analis dan penegak hukum, regulasi pemerintah Tiongkok terhadap prekursor masih terbatas. Perdagangan bahan prekursor terjadi secara terbuka di pasar Tiongkok, kata para peneliti, dan pembatasan aktivitas semacam itu hampir sepenuhnya bergantung pada PKT, kata Coyne, mantan pejabat kepolisian Australia. 

"Bisakah PKT, jika mau, mengejar pabrik-pabrik kimia ini? Bisakah mereka menegakkan kepatuhan? Tentu saja," katanya.

PBB, Interpol, dan badan-badan lain meminta pemerintah untuk menggunakan sistem Notifikasi Pra-Ekspor global guna mendapatkan detail lebih lanjut dari negara-negara penerima tentang prekursor narkoba potensial akan digunakan. Namun, Tiongkok memiliki tingkat penggunaan rendah dibandingkan dengan skala industri kimianya dan frekuensi pengalihan bahan kimianya ke narkoba, menurut dokumen pengarahan yang disebarkan kepada lembaga penegak hukum di seluruh Asia Tenggara dan ditinjau The Post.

Meskipun otoritas Tiongkok mengatakan mereka sedang membangun sistem untuk melacak bahan kimia yang tidak dikontrol, hanya sedikit informasi yang dibagikan tentang sistem ini, menurut dokumen tersebut.

Dalam laporan terbaru kepada Kongres, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa meskipun otoritas Tiongkok tampak mengambil tindakan terhadap perusahaan yang didakwa atau diberi sanksi oleh AS, seperti dengan mencabut izin, operasi ilegal sering kali dengan cepat disalurkan ke perusahaan lain. Hingga September, tidak ada penangkapan atau penuntutan atas tuduhan terkait narkotika di Tiongkok bagi mereka yang terlibat dalam perdagangan prekursor global, demikian menurut laporan tersebut.

Efek Trump

Selama pemerintahan Biden, Tiongkok meningkatkan kerja sama antinarkotika dengan AS, termasuk memperluas daftar prekursor narkoba yang menjadi sasaran pengawasan ketat. Namun, sebagian besar kerja sama ini telah mengering di bawah Trump, menurut para analis dan mantan pejabat AS.

Perselisihan perdagangan Trump dengan Tiongkok menggagalkan kerja sama bilateral terkait arus narkoba. Pemerintahannya juga membongkar program-program di Departemen Luar Negeri dan Departemen Kehakiman yang memfasilitasi pembagian informasi intelijen, pelatihan, dan kolaborasi dengan kepolisian dan pengadilan di negara lain terkait narkotika, sehingga mempersulit penuntutan kasus terhadap pemasok prekursor Tiongkok.

"Di pemerintahan Biden, ada pengakuan bahwa jika Anda ingin memberantas kartel, Anda harus berpikir secara global tentang seluruh rantai pasokan prekursor," kata Samantha Sultoon, mantan direktur sanksi di Dewan Keamanan Nasional yang kini menjabat sebagai peneliti senior nonresiden di Atlantic Council, lembaga riset. "Strategi itu tampaknya tidak lagi berlaku."

Seorang juru bicara Departemen Kehakiman, Natalie Baldassarre, membantah bahwa program apa pun yang menargetkan aliran precursor dihentikan. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa pemerintahan Trump memberantas program dan kemitraan dengan upaya saling tumpang tindih tetapi tetap menggunakan semua alat yang diperlukan untuk mencegah dan membongkar aliran fentanil.

Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, mengatakan bahwa kebijakan status quo Washington selama bertahun-tahun gagal membendung krisis narkoba. "Pemerintah secara agresif memperbaiki kegagalan ini dan akan segera membentuk kelompok kerja dengan pejabat Tiongkok untuk bekerja sama dalam isu fentanil dengan langkah-langkah objektif guna menyelamatkan lebih banyak nyawa warga Amerika," kata Desai.

Amerika Latin

Sementara itu, para pengedar narkoba memperluas jangkauan mereka. "Kartel-kartel Amerika Latin sudah merambah hingga ke pinggiran kawasan Asia-Pasifik, menunjukkan tanda-tanda perdagangan dan persilangan dengan sindikat narkoba di sini," kata David Caunter, direktur kejahatan terorganisasi dan yang sedang berkembang di Interpol.

Di Pegunungan Shan, mitra-mitra yang andal menanti. Antara 1970-an dan 1990-an, negara bagian Shan merupakan produsen utama heroin yang masuk ke AS. UWSA dan mitra-mitranya beralih selama dekade terakhir dari bertani tanaman opium menjadi memproduksi sabu.

"Namun akan mudah bagi mereka untuk berevolusi lagi dan mulai memproduksi opioid sintetis seperti fentanil yang semakin menguntungkan di seluruh dunia," kata Andrew Sorrells, mantan agen khusus DEA yang ditugaskan di Bangkok. Produsen obat dari negara bagian Shan sudah bekerja sama dengan pemasok Tiongkok yang memproduksi bahan-bahan yang tepat.

"Ini langkah logis selanjutnya," kata Sorrells. "Pada suatu saat, mereka akan beralih." (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya