Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

AS Diprediksi Kalah Perang jika Hadang Tiongkok Invasi Taiwan

Ferdian Ananda Majni
12/12/2025 09:15
AS Diprediksi Kalah Perang jika Hadang Tiongkok Invasi Taiwan
Ilustrasi.(Al Jazeera)

LAPORAN rahasia Pentagon menyingkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami kekalahan besar dan berpotensi kehilangan kapal induk utamanya jika berusaha menggagalkan invasi Tiongkok ke Taiwan. Hasil simulasi perang menunjukkan bahwa kekuatan AS akan kewalahan menghadapi sekitar 600 senjata hipersonik Tiongkok ditambah rudal jarak jauh serta armada kapal selam bertenaga nuklir.

Temuan yang diungkap The New York Times itu, kemarin, tidak hanya menegaskan hasil simulasi terdahulu, tetapi juga menyoroti kekhawatiran lebih luas mengenai arah masa depan militer AS yang masih mengandalkan konsep dan platform kuno. Laporan tersebut memicu kritik bahwa para pemimpin Pentagon ialah jenderal yang berperang di masa lalu karena tidak mampu menyesuaikan strategi dengan perkembangan senjata modern yang lebih murah, cepat diproduksi, dan bisa dikorbankan, seperti drone.

Dominasi segelintir kontraktor besar dalam industri pertahanan AS juga dipertanyakan setelah muncul kabar bahwa seorang pejabat Gedung Putih disebut pucat pasi ketika membaca laporan itu. Kapal induk senilai US$13 miliar seperti USS Gerald R Ford berulang kali hancur dalam simulasi konflik di sekitar Taiwan, meski Pentagon tetap berencana membangun sembilan kapal sejenis lagi.

Pertahanan siber

Kelompok yang mengusulkan pendekatan baru menilai sebagian anggaran tersebut seharusnya dialihkan untuk mengembangkan drone dan kemampuan pertahanan siber. Mereka berargumen bahwa perang Ukraina telah memperlihatkan semakin melemahnya efektivitas sistem persenjataan tradisional, termasuk tank.

Laporan itu muncul setelah Presiden Xi Jinping memberi instruksi kepada militernya untuk siap menghadapi kemungkinan operasi terhadap Taiwan paling cepat pada 2027. Beijing tetap bersikeras bahwa pulau itu merupakan bagian dari wilayahnya dan tidak menutup opsi penggunaan kekuatan. 

Jika konflik pecah dan AS turun tangan, Negeri Panda diperkirakan dapat melancarkan serangan siber ke jaringan listrik serta infrastruktur air Negeri Paman Sam. Dokumen rahasia Pentagon berjudul Overmatch, yang dikirim ke Gedung Putih, disebut-sebut memuat rincian mengkhawatirkan mengenai kemampuan Tiongkok untuk melumpuhkan kapal, pesawat tempur, hingga satelit AS. 

Ancaman nyata

Menteri Perang Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa AS selalu kalah dalam simulasi Pentagon terkait konflik Taiwan. Ia juga pernah mengatakan bahwa Tiongkok sedang berlatih untuk menghadapi situasi sebenarnya dan memperingatkan bahwa ancaman yang ditimbulkan Tiongkok itu nyata dan bisa segera terjadi. 

Beijing menolak pernyataan Hegseth itu. Bahkan, Negeri Tirai Bambu menuduhnya melontarkan tuduhan tanpa dasar.

Baca juga: Jerman Siapkan Rencana saat NATO Konflik dengan Rusia

Selama masa jabatan kedua Presiden Trump, sebagian sumber daya militer AS berkali-kali dialihkan dari Indo-Pasifik ke Timur Tengah dan Eropa. Pada era Biden, Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan juga pernah memperingatkan bahwa AS berisiko cepat kehabisan amunisi artileri jika terjadi perang di sekitar Taiwan.

Peneliti senior Program Asia Timur dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, Michael D Swaine, menilai seruan untuk meninggalkan sistem persenjataan lama ialah langkah yang tepat. Namun, ia mempertanyakan asumsi bahwa AS perlu mempertahankan dominasi militer global sepenuhnya.

Baca juga: Bisnis Besar di Balik Perang AS Melawan Narkotika

Prioritas utama 

"Apakah AS benar-benar membutuhkan ratusan pangkalan di luar negeri yang menampung puluhan ribu tentara? Dan apakah berperang dengan Tiongkok atas Taiwan merupakan kepentingan vital AS?" tanya dia.

Sementara itu, Dokumen Strategi Keamanan Nasional Trump yang dirilis pekan lalu menegaskan bahwa AS harus mencegah invasi Tiongkok dengan mempertahankan keunggulan militer. Dokumen itu menyoroti bahwa sepertiga arus perdagangan global melewati Laut Tiongkok Selatan sehingga stabilitas kawasan sangat penting bagi perekonomian AS. 

Baca juga: Negara-Negara yang Dibayar agar Terima Warga AS yang Dideportasi

Karena itu, mencegah konflik di Taiwan dinyatakan sebagai prioritas utama. Jika Tiongkok memutuskan untuk merebut Taiwan, langkah awal yang paling mungkin yaitu blokade laut. 

Simulasi perang terdahulu yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan dampak yang sangat besar dari skenario itu. Dalam sejumlah simulasi, AS diperkirakan kehilangan ribuan personel, ratusan pesawat, kapal selam, serta puluhan kapal permukaan termasuk kapal induk.

Baca juga: Tiongkok Kuasai Mineral Langka Tanzania, Australia dan Barat Waspada

Skenario terburuk

Blokade semacam itu, tanpa invasi darat langsung, dapat menekan Taiwan hingga menyerah serta memaksa dilakukan evakuasi sekitar satu juta warga negara asing dari pulau tersebut. 

Trump nanti dihadapkan pada keputusan strategis, yakni berusaha menembus blokade dengan konvoi militer atau membiarkan Taiwan menghadapi tekanan sendiri. Ia juga mungkin harus mempertimbangkan operasi pengangkutan udara jangka panjang seperti Berlin Airlift usai Perang Dunia II.

Baca juga: Perusahaan Tiongkok Dituding Gandeng Geng Kriminal Banjiri Sabu di Asia

CSIS sudah menjalankan 26 simulasi perang berbeda. Dalam skenario terburuk, upaya memecah blokade dapat menelan korban hingga 21.000 personel AS, 45 kapal permukaan, satu kapal induk, dua kapal selam, dan lebih dari 1.000 pesawat. 

Tiongkok dalam skenario yang sama diperkirakan menderita 13.000 korban, kehilangan 42 kapal selam, hampir 100 kapal permukaan, dan sekitar 1.000 pesawat. (Daily Mail/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik