Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Tiongkok Gelar Latihan Besar Militer di sekitar Taiwan

Ferdian Ananda Majni
29/12/2025 21:37
Tiongkok Gelar Latihan Besar Militer di sekitar Taiwan
Jet tempur Tiongkok.(Al Jazeera)

TIONGKOK menggelar latihan militer berskala besar di sekitar Taiwan yang menyimulasikan penguasaan serta pemblokadean wilayah-wilayah strategis di pulau tersebut, Senin (29/12). Latihan ini disebut sebagai peringatan langsung kepada pasukan separatis.

Militer Tiongkok menyatakan bahwa unsur angkatan darat, laut, udara, dan roket dilibatkan dalam latihan ini, termasuk skenario tembak langsung. Latihan tersebut diberi sandi Misi Keadilan 2025.

Kegiatan militer itu berlangsung hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan penjualan salah satu paket persenjataan terbesarnya kepada Taiwan dengan nilai mencapai US$11 miliar. Keputusan Washington itu memicu kemarahan Beijing yang kemudian menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan pertahanan AS.

Langkah Taiwan yang terus meningkatkan kemampuan pertahanannya sepanjang tahun ini juga semakin memperuncing ketegangan dengan Tiongkok. Beijing tetap mengeklaim pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.

Kantor kepresidenan Taiwan mengkritik latihan militer Tiongkok. Tindakan itu dianggap menantang norma-norma internasional.

Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa mereka mendeteksi keberadaan pesawat dan kapal militer Tiongkok di sekitar wilayah Taiwan. Sebagai respons, Taiwan mengerahkan pasukan serta sistem rudalnya untuk memantau perkembangan situasi. "Pasukan Taiwan kini berada dalam kondisi siaga tinggi guna mempertahankan pulau tersebut dan melindungi rakyat kami," kata kementerian.

Hukuman berat

Dalam unggahan di platform Weibo, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok menyebut latihan tersebut sebagai perisai keadilan. "Semua yang merencanakan kemerdekaan akan dimusnahkan setelah bertemu dengan perisai itu," tulis unggahan tersebut.

Militer Tiongkok menyebutkan bahwa meskipun sejumlah latihan pendahuluan dimulai, latihan utama akan digelar pada hari ini dari pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menggambarkan latihan itu sebagai hukuman berat bagi pasukan separatis yang berupaya meraih kemerdekaan melalui kekerasan serta memperingatkan pasukan eksternal agar tidak menggunakan Taiwan untuk membendung Tiongkok.

"Segala rencana jahat untuk menghalangi reunifikasi Tiongkok pasti akan gagal," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian dalam konferensi pers rutin. Meski selama bertahun-tahun ingin melakukan reunifikasi damai dengan Taiwan, Tiongkok memiliki undang-undang yang memungkinkan penggunaan cara-cara nondamai untuk mencegah pemisahan wilayah itu.

Pemerintah Tiongkok menuduh Presiden Taiwan Lai Ching-te mendorong agenda kemerdekaan Taiwan. Namun, Lai menegaskan bahwa Taiwan berdaulat sehingga tidak perlu secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan.

Dalam wawancara dengan televisi lokal pada Minggu (28/12), Lai mengatakan bahwa Taiwan harus terus meningkatkan kekuatan sehingga Tiongkok tidak akan dapat melakukan invasi. Ia juga menekankan bahwa pemerintahannya berkomitmen mempertahankan status quo dan tidak berniat memprovokasi Beijing, meskipun perdamaian bergantung pada kekuatan pertahanan.

Status quo

Berbagai jajak pendapat secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas warga Taiwan mendukung status quo, yakni tidak bersatu dengan Tiongkok dan juga tidak secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan.

Sejak 2022, Tiongkok secara signifikan meningkatkan intensitas latihan militernya di Selat Taiwan. Langkah tersebut kerap dilakukan sebagai respons terhadap sejumlah kejadian yang dinilai sebagai ancaman, termasuk kunjungan mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan pada 2022 serta pelantikan Lai Ching-te pada 2024.

Latihan sejenis terakhir yang dilakukan Tiongkok di Selat Taiwan pada April lalu. Menurut pernyataan Tentara Pembebasan Rakyat saat itu, latihan menyimulasikan serangan terhadap pelabuhan utama dan fasilitas energi. Dalam waktu bersamaan, militer Tiongkok juga merilis serangkaian kartun yang menggambarkan Lai sebagai parasit.

Latihan militer pekan ini menjadi yang pertama digelar di bawah kepemimpinan Yang Zhibin, kepala baru Komando Teater Timur yang mulai menjabat pada Oktober lalu. 

Han Kuang

Di sisi lain, Taiwan secara rutin mengadakan latihan militernya sendiri, baik untuk mempersiapkan warga menghadapi potensi serangan maupun menunjukkan kemampuan pertahanannya kepada Beijing. Latihan Han Kuang tahun ini berlangsung selama 10 hari dan menjadi yang terbesar serta terlama sejauh ini.

Sejak menjabat, Lai berjanji meningkatkan anggaran pertahanan serta memperkuat kemampuan militer Taiwan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok. Pada Oktober lalu, ia mengumumkan rencana pembangunan sistem pertahanan udara berbentuk kubah guna melindungi pulau tersebut dari ancaman permusuhan, meskipun tidak secara langsung menyebut Tiongkok.

Sementara itu, hubungan Tiongkok dan Jepang memburuk ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan meningkat setelah pemimpin Jepang Sanae Takaichi bulan lalu menyatakan bahwa Pasukan Bela Diri Jepang dapat turun tangan jika Tiongkok menyerang Taiwan.

Beijing menanggapi pernyataan tersebut dengan melayangkan protes keras dan mengeluarkan peringatan kepada warganya agar menghindari perjalanan ke Jepang. Awal bulan ini, Jepang juga melayangkan protes setelah jet tempur Tiongkok mengunci radar pada pesawat Jepang. Sebaliknya, Beijing menuduh Tokyo mengganggu pasukannya selama latihan militer. (BBC/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya