Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Hubungan Tokyo-Beijing Memanas, Jepang Tangkap Kapal Nelayan Tiongkok

Haufan Hasyim Salengke
13/2/2026 10:21
Hubungan Tokyo-Beijing Memanas, Jepang Tangkap Kapal Nelayan Tiongkok
Foto ini diambil pada 12 Februari 2026, menunjukkan kapal patroli perikanan Markas Besar Penegakan Perikanan Hakuo Maru (kiri) dan sebuah kapal penangkap ikan Tiongkok (kanan) di dalam zona ekonomi eksklusif Jepang .(Dokumen/Badan Perikanan Jepang)

OTORITAS Jepang mengonfirmasi penangkapan sebuah kapal nelayan asal Tiongkok beserta kaptennya pada Jumat (13/2). Insiden ini terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik kedua negara akibat pernyataan keras Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan.

Badan Perikanan Jepang menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada Kamis di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang, sekitar 165 km dari pulau Meshima, Prefektur Nagasaki.

"Kapten kapal diperintahkan berhenti untuk inspeksi oleh petugas perikanan, namun kapal tersebut menolak patuh dan melarikan diri," tulis pernyataan resmi badan tersebut.

Kapten kapal, seorang warga negara Tiongkok berusia 47 tahun, akhirnya ditangkap. Terdapat 11 orang di dalam kapal tersebut saat pengejaran terjadi. Ini merupakan penangkapan kapal nelayan 'Negeri Tirai Bambu' pertama oleh agensi tersebut sejak 2022.

Sentimen hawkish Sanae Takaichi

Ketegangan ini tidak lepas dari latar belakang politik di Tokyo. PM Sanae Takaichi, yang baru saja memenangkan pemilu awal secara telak, dikenal sebagai tokoh 'hawk' (garis keras) terhadap Beijing.

Pada November lalu, Takaichi memicu kemarahan Tiongkok setelah mengisyaratkan bahwa Jepang akan melakukan intervensi militer jika Beijing berupaya mengambil alih Taiwan dengan kekerasan.

Sebagai balasan atas sikap Takaichi, Beijing telah melakukan serangkaian langkah tekanan, antara lain, melakukan latihan udara bersama Rusia dan mengunci radar pesawat tempur J-15 ke arah pesawat Jepang di dekat Okinawa. Selanjutnya, mengetatkan ekspor mineral tanah jarang (rare-earth) dan menangguhkan impor makanan laut dari Jepang dan mengakhiri 'diplomasi panda' dengan memulangkan dua panda terakhir milik Jepang ke Tiongkok bulan lalu.

Peringatan dari Taiwan

Di sisi lain, Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam wawancaranya dengan AFP mendukung posisi tegas negara-negara kawasan. Ia memperingatkan bahwa jika Beijing berhasil menguasai Taiwan, target agresivitas berikutnya adalah Jepang dan Filipina.

"Hal itu akan merusak stabilitas di Indo-Pasifik dan tatanan internasional berbasis aturan," ujar Lai.

Meskipun Takaichi menyatakan terbuka untuk dialog, Beijing memberikan syarat berat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan bahwa dialog yang tulus hanya bisa terjadi jika Takaichi menarik kembali pernyataannya yang dianggap keliru mengenai Taiwan. (CNA/B-3)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya