Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan total nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau meningkat 18,21% dibandingkan Januari 2025 secara tahunan (year-on-year/y-on-y).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan kenaikan impor tersebut terjadi baik pada komponen migas maupun non-migas.
“Nilai impor migas sebesar US$3,17 miliar atau meningkat 27,52% secara tahunan. Sementara impor non-migas senilai US$18,04 miliar juga naik 16,71%,” ujar Ateng saat konferensi pers, Senin (2/3).
Ia menegaskan, secara andil, peningkatan impor terutama didorong oleh impor non-migas dengan kontribusi sebesar 14,40% terhadap total kenaikan impor.
Menurut golongan penggunaan, seluruh komponen impor mengalami peningkatan secara tahunan pada Januari 2026. Impor barang konsumsi naik 11,81%. Sementara impor bahan baku atau penolong—sebagai pendorong utama kenaikan impor—tumbuh 14,67% dengan andil 10,61% terhadap total kenaikan. Selain itu, impor barang modal melonjak 35,32% secara tahunan.
Tiga komoditas utama non-migas yang diimpor Indonesia pada Januari 2026 adalah mesin dan perlengkapan elektrik (HS85), mesin dan peralatan mekanis (HS84), serta plastik dan barang dari plastik. Ketiganya menyumbang 37,54% dari total impor non-migas.
Nilai impor mesin dan perlengkapan elektrik tercatat sebesar US$2,92 miliar dengan volume 0,18 juta ton. Mesin dan peralatan mekanis mencapai US$2,90 miliar dengan volume 0,41 juta ton. Sementara plastik dan barang dari plastik sebesar US$0,95 miliar dengan volume 0,62 juta ton.
Ateng menyebutkan, ketiga komoditas tersebut mengalami peningkatan baik dari sisi nilai maupun volume dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan negara asal, tiga besar penyumbang impor Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. Secara total, negara-negara tersebut menyumbang 54,92% dari total impor Indonesia.
Impor non-migas dari Tiongkok tercatat sebesar 7,89 miliar dolar AS, didominasi mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) dengan pangsa 23,42% dan tumbuh 49,79% secara tahunan.
Dari Australia, impor non-migas sebesar US$1,07 miliar, terutama berupa logam mulia dan perhiasan (HS71) dengan pangsa 47,54%. Impor komoditas ini melonjak 634,30% secara tahunan.
Sementara impor non-migas dari Jepang mencapai 0,95 miliar dolar AS, didominasi mesin dan peralatan mekanik (HS84) dengan pangsa 20,68%, namun mengalami penurunan 21,20% secara tahunan.
Ateng menegaskan, perkembangan impor Januari 2026 mencerminkan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal, yang berpotensi menjadi sinyal penguatan aktivitas produksi domestik pada awal tahun. (Fal/P-3)
BPS melaporkan luas panen padi Januari 2026 naik 35,72% dengan produksi 3,04 juta ton GKG. Namun, potensi panen Februari–April 2026 diperkirakan menurun dibanding tahun lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sejalan dengan usulan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meminta agar rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India ditunda
AS menetapkan tarif global 10 persen saat kesepakatan nol bea masuk RI untuk sawit hingga semikonduktor belum berlaku dan masih menunggu ratifikasi.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved