Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Surplus Perdagangan 2025 belum Cerminkan Pemulihan Domestik

Ihfa Firdausya
03/2/2026 06:40
Surplus Perdagangan 2025 belum Cerminkan Pemulihan Domestik
Ilustrasi(Antara)

Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal. Kondisi itu belum dapat dibaca sebagai sinyal pemulihan menyeluruh pada investasi dan permintaan domestik. Demikian disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede

Sepanjang Januari-Desember 2025, ekspor Indonesia tercatat meningkat menjadi US$282,91 miliar, sementara impor mencapai US$241,86 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$41,05 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja sektor nonmigas, sementara neraca migas masih mengalami defisit.

“Ini menunjukkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih sangat bergantung pada kinerja nonmigas. Surplus yang besar belum tentu mencerminkan pemulihan permintaan domestik secara penuh,” ujar, Josua Pardede saat dihubungi, Senin (2/2).

Dari sisi investasi, Josua menilai sinyal pemulihan justru terlihat lebih jelas dari struktur impor. Sepanjang 2025, impor barang modal melonjak 20,06% secara tahunan menjadi sekitar US$50,13 miliar. Kenaikan ini umumnya terjadi ketika proyek-proyek investasi, pembelian mesin, perluasan kapasitas, dan pembangunan fasilitas produksi mulai berjalan lebih kuat.

Kondisi tersebut, lanjut Josua, sejalan dengan realisasi investasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% dan melampaui target pemerintah. Kontribusi hilirisasi juga tercatat meningkat signifikan.

“Dengan lonjakan impor barang modal dan realisasi investasi yang melampaui target, ada dasar yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa investasi memang membaik,” imbuhnya.

Namun, Josua melihat bahwa gambaran pemulihan permintaan domestik dinilai masih bersifat campuran. Pasalnya, impor bahan baku atau penolong serta barang konsumsi justru mengalami penurunan tipis secara tahunan. Hal ini menjadi bukti pemulihan konsumsi rumah tangga dan siklus produksi belum merata di seluruh sektor ekonomi.

Meski demikian, pada level bulanan, impor sempat tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sehingga surplus perdagangan bulanan menyempit. Menurut Josua, pola ini lazim muncul ketika aktivitas ekonomi domestik mulai menguat secara bertahap.

Indikator aktivitas industri juga menunjukkan bahwa dorongan permintaan saat ini lebih banyak berasal dari pasar domestik. Pesanan baru tercatat membaik terutama dari dalam negeri, sementara pesanan ekspor masih relatif lemah.

“Artinya, penguatan permintaan domestik sudah mulai terlihat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan,” jelasnya.

Josua menegaskan, surplus perdagangan sepanjang 2025 paling aman dibaca sebagai kombinasi antara ekspor yang masih ditopang komoditas tertentu dan mulai pulihnya investasi yang tercermin dari lonjakan impor barang modal. Ke depan, jika pemulihan permintaan domestik semakin kuat dan meluas, impor berpotensi tumbuh lebih cepat sehingga surplus perdagangan cenderung menyempit.

“Ukuran pemulihan yang lebih akurat bukan hanya besarnya surplus, melainkan konsistensi kenaikan impor barang modal dan bahan baku, serta perbaikan indikator aktivitas usaha,” pungkasnya. (Fal)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya