Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Indonesia kembali mencatatkan kinerja perdagangan positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Capaian ini dinilai sebagai indikator kuatnya fondasi ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan eksternal, mulai dari perlambatan ekonomi dunia hingga fluktuasi harga komoditas internasional.
Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib, menilai surplus perdagangan yang konsisten ini menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia berada di jalur yang tepat. Namun demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak semata dipandang sebagai angka statistik, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas dan struktur perdagangan nasional.
“Surplus 68 bulan berturut-turut adalah prestasi, tetapi yang lebih penting adalah memastikan surplus ini bersumber dari sektor yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi,” ujar Labib dikutip dari siaran pers yang diterima, Senin (2/2).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Desember 2025 Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$2,51 miliar, dengan surplus nonmigas mencapai sekitar US$4,60 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit. Ia menilai dominasi surplus nonmigas ini menunjukkan peran strategis sektor industri dan pengolahan, namun juga menegaskan perlunya penguatan hilirisasi agar ketergantungan pada komoditas primer dapat terus dikurangi.
Lebih lanjut, dirinya mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, untuk menjadikan tren surplus ini sebagai dasar mempercepat transformasi ekspor nasional. Ia menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor serta peningkatan daya saing produk dalam negeri, termasuk produk UMKM.
“Kita harus memastikan bahwa ekspor Indonesia tidak hanya besar secara volume, tetapi juga kuat dari sisi nilai tambah, kualitas, dan daya saing global,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan surplus perdagangan harus diiringi dengan kebijakan yang berpihak pada penguatan industri nasional dan penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, surplus perdagangan yang sehat adalah surplus yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Surplus ini harus kita jaga, bukan hanya sebagai pencapaian jangka pendek, tetapi sebagai fondasi menuju kemandirian ekonomi nasional,” pungkas Labib. (E-3)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS.
Surplus perdagangan yang dialami Indonesia selama 67 bulan berturut-turut, tidak serta-merta membuat perekonomian nasional kebal terhadap risiko geopolitik global.
Angka surplus tersebut didapat dari nilai ekspor Indonesia mencapai US$209,80 miliar atau setara Rp3.497,7 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Studi terbaru NEXT Indonesia Center mencatat capaian historis ekonomi Indonesia dalam satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Surplus perdagangan barang yang sudah berlangsung selama 62 bulan berturut-turut menjadi bantalan utama ketahanan ekonomi eksternal Indonesia.
Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang belum tergarap maksimal.
MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akan memanggil sejumlah eksportir untuk membahas potensi gangguan pasokan akibat penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved