Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Surplus Perdagangan RI tak Menjamin Imunitas dari Risiko Geopolitik

Insi Nantika Jelita
05/1/2026 16:19
Surplus Perdagangan RI tak Menjamin Imunitas dari Risiko Geopolitik
KEPALA Ekonom Bank Permata Josua Pardede.(Dok. Antara)

KEPALA Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai surplus perdagangan yang dialami Indonesia selama 67 bulan berturut-turut, tidak serta-merta membuat perekonomian nasional kebal terhadap risiko geopolitik global. 

Ketidakpastian internasional yang meningkat, termasuk krisis Venezuela, dinilai tetap berpotensi menimbulkan gejolak melalui volatilitas harga energi serta gangguan pada rantai logistik global.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada November 2025 neraca perdagangan barang Indonesia membukukan surplus sebesar US$2,66 miliar atau setara Rp44,58 triliun (asumsi kurs Rp16.758). Dengan capaian tersebut, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan barang secara beruntun sejak Mei 2020.

Josua menjelaskan, surplus perdagangan pada dasarnya membantu menjaga pasokan devisa, menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta memberi ruang bagi cadangan devisa untuk tetap berada pada level yang memadai. 

"Namun, ketahanan ini bukan berarti Indonesia kebal terhadap guncangan geopolitik. Surplus Indonesia sangat dipengaruhi harga komoditas," ujarnya kepada Media Indonesia, Senin (5/12).

Ia menjelaskan, ketika harga komoditas global melemah, kinerja ekspor ikut tertekan. Kondisi ini tercermin pada ekspor yang masih mengalami kontraksi pada November 2025, sementara impor mulai tumbuh, terutama dari kelompok barang modal yang mengindikasikan penguatan aktivitas investasi domestik.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada November 2025 mencapai US$22,52 miliar atau setara Rp377,59 triliun. Angka tersebut menyusut 6,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat US$24,11 miliar atau sekitar Rp404,25 triliun.

"Ke depan, surplus perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut, namun dengan kecenderungan menyempit," kata Josua.

Hal ini, lanjutnya, seiring potensi pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor, didorong oleh kebijakan yang semakin pro-pertumbuhan. Dalam situasi tersebut, bantalan eksternal berisiko menipis ketika perekonomian global kembali dilanda gejolak.

Menurutnya, kerentanan Indonesia pada episode kepanikan global tidak hanya bersumber dari perdagangan barang, melainkan juga dari arus modal yang dapat berbalik arah secara cepat. Oleh karena itu, meskipun surplus perdagangan memberikan dukungan, gejolak geopolitik tetap berpotensi menekan perekonomian melalui pelemahan rupiah dan kenaikan biaya pendanaan, terutama ketika ketidakpastian global memicu penguatan dolar AS dan perubahan selera risiko investor.

Terkait eskalasi krisis Venezuela, Josua menilai dampaknya terhadap harga komoditas bersifat tidak simetris. Untuk energi, pengaruhnya terhadap harga minyak cenderung terbatas dan sementara, mengingat pasar minyak global masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan. 

Selain itu, kontribusi produksi Venezuela terhadap pasokan global telah menyusut, sehingga pelaku pasar lebih banyak menimbang prospek permintaan global dibandingkan sentimen geopolitik semata.

Dalam skenario yang lebih positif, pemulihan produksi minyak Venezuela secara bertahap justru berpotensi menahan kenaikan harga minyak dalam jangka menengah. Peningkatan pasokan, dengan produksi yang diperkirakan dapat mendekati 2,5 juta barel per hari, bahkan berpeluang menurunkan harga minyak global beberapa persen, meski membutuhkan waktu serta stabilitas politik dan ekonomi yang kuat.

Sementara itu, untuk komoditas logam, khususnya emas, ketegangan geopolitik lebih berdampak melalui meningkatnya rasa ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, emas cenderung menguat.

"Ini karena investor mencari aset aman, sehingga harga logam menjadi lebih mudah bergejolak meskipun harga minyak relatif stabil," tutur Josua. 

Kendati demikian, implikasi atas konflik tersebut terhadap ekspor non-migas Indonesia bersifat campuran. Sektor komoditas non-migas seperti mineral dan logam dapat menikmati kenaikan nilai ekspor ketika harga logam menguat. Namun, volatilitas harga membuat penerimaan ekspor rentan berfluktuasi dari bulan ke bulan, sehingga menyulitkan kepastian pendapatan.

Di sisi lain, apabila eskalasi geopolitik Venezuela memicu lonjakan harga energi meski bersifat sementara, biaya logistik dan biaya energi industri berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat menekan margin eksportir manufaktur dan produk olahan, terlebih jika ketidakpastian global turut melemahkan permintaan dunia. 

Josua pun berpandangan, meski surplus non-migas memberikan bantalan, kinerja ekspor Indonesia tetap sangat ditentukan oleh pergerakan harga komoditas dan arah arus modal global yang sensitif terhadap dinamika geopolitik yang memengaruhi nilai tukar rupiah.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik