Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kebijakan AS Makin Agresif, Negara Kaya Sumber Daya Alam dalam Radar Tekanan

Rahmatul Fajri
01/2/2026 11:52
Kebijakan AS Makin Agresif, Negara Kaya Sumber Daya Alam dalam Radar Tekanan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Dok. US Embassy Vietnam)

LEMBAGA think tank Global Insight Forum (GIF) menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan yang semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik. Negara-negara yang memiliki sumber daya energi strategis namun memiliki kapabilitas pertahanan terbatas disebut menjadi sasaran utama tekanan tersebut.

Penilaian ini mengemuka dalam webinar nasional bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenland, ‘Siapa’ Target Selanjutnya?” yang digelar pada Sabtu (31/1/2026). Para pakar menyebut tekanan AS tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti pola strategis terkait dominasi sumber daya dan kompetisi kekuatan besar melawan Tiongkok dan Rusia.

Direktur Eksekutif GIF, Teuku Rezasyah, mengungkapkan bahwa negara dengan kepemimpinan nasional yang terfragmentasi dan legitimasi politik yang lemah sangat rentan menjadi sasaran.

“Kasus Venezuela menunjukkan bagaimana fragmentasi elite dan lemahnya legitimasi membuka ruang intervensi yang luas. Berbeda dengan Iran yang sulit ditundukkan karena kepemimpinan ideologis yang mengakar dan militer yang mandiri,” ujar Rezasyah.

Sementara itu, Greenland kini menjadi incaran strategis baru karena kekayaan sumber daya alam berupa logam tanah jarang (rare earth) serta posisinya di kawasan Arktik. Peneliti Senior GIF, Chandra Purnama, menambahkan bahwa langkah AS terhadap negara-negara tersebut merupakan sinyal taktis untuk menunjukkan dominasi.

“Jika praktik ini terus dinormalisasi, maka hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara akan semakin tertekan,” tegas Chandra.

Direktur GIF, Muhammad Farid, menilai kebijakan Presiden AS Donald Trump sengaja menggunakan pendekatan Madman Theory yakni membangun citra sebagai aktor yang tidak dapat diprediksi untuk meningkatkan daya tawar. Farid menyebut negara-negara seperti Meksiko, Irak, Kanada, hingga Nigeria berpotensi masuk dalam radar tekanan selanjutnya dengan narasi keamanan energi, imigrasi, atau terorisme.

Senada dengan itu, Peneliti Senior GIF Faisal Nurdin Idris menyoroti bangkitnya kembali pola pikir Doktrin Monroe. “AS memandang kawasan tertentu sebagai halaman belakang strategisnya, terutama ketika merasa terancam oleh dominasi Tiongkok,” jelas Faisal.

Meski tidak menjadi target langsung seperti Venezuela atau Iran, Indonesia dinilai tetap memiliki kerentanan struktural. Kedaulatan Indonesia disebut bisa terkikis secara bertahap melalui ketergantungan ekonomi yang terlalu berat pada satu blok kekuatan atau jika konsensus strategis nasional melemah.

Faisal merekomendasikan agar pemerintah Indonesia memperkuat ketahanan nasional dan meningkatkan solidaritas dengan ASEAN, G20, serta negara-negara Global South.

“Ancaman terhadap Indonesia lebih bersifat pengikisan kedaulatan secara bertahap melalui narasi dan ketergantungan struktural, bukan invasi militer terbuka. Karena itu, strategi keamanan nasional harus dirumuskan secara jelas,” pungkasnya.

(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya