Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Di Balik Kecepatan Rudal Iran, Ada Peran Teknologi Nuklir Modern

Cahya Mulyana
13/3/2026 22:46
Di Balik Kecepatan Rudal Iran, Ada Peran Teknologi Nuklir Modern
Pengamat nuklir Rahmat Sorialam Harahap.(dok.istimewa)

PERKEMBANGAN geopolitik dan militer saat ini, teknologi nuklir memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan kekuatan strategis suatu negara. Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah kemampuan rudal Iran yang dinilai memiliki kecepatan dan daya hancur yang sangat tinggi. Analisis ini menyoroti kemungkinan bahwa rudal-rudal Iran memanfaatkan teknologi nuklir modern yang berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir.

Iran diketahui tidak mengembangkan teknologi militernya secara terisolasi. Negara ini banyak belajar dan bekerja sama dengan negara-negara yang memiliki tradisi kuat dalam pengembangan teknologi nuklir dan militer, seperti Rusia dan Tiongkok. Sebelum konflik-konflik geopolitik terbaru terjadi, dilaporkan ada sekitar 80 teknisi nuklir dari Rusia yang bekerja di Iran, memberikan transfer pengetahuan dan pengalaman di bidang teknologi nuklir modern.

“Perkembangan teknologi nuklir saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada pendekatan lama. Dalam dunia nuklir modern, terdapat dua “mahzab” atau aliran teknologi utama yang menjadi dasar pengembangan energi maupun persenjataan nuklir,” kata pengamat nuklir Rahmat Sorialam Harahap dalam keterangannya, Jumat (13/3).

Pertama adalah mahzab uranium, kata Rahmat, yang dapat disebut sebagai teknologi nuklir generasi lama. Uranium telah digunakan sejak awal era nuklir dan menjadi fondasi bagi banyak reaktor serta persenjataan nuklir yang dikembangkan oleh negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat.

Kedua adalah mahzab thorium, yang dianggap sebagai pendekatan teknologi nuklir yang lebih modern. Thorium memiliki potensi energi yang jauh lebih besar dibandingkan uranium. Secara teoritis, satu kilogram thorium dapat menghasilkan energi yang setara dengan sekitar dua ratus kilogram uranium. Perbandingan ini menjadikan thorium sebagai bahan yang sangat menarik dalam pengembangan teknologi nuklir generasi baru.

“Perbedaan antara kedua mahzab ini sangat mempengaruhi arah modernisasi teknologi nuklir di dunia. Amerika Serikat diketahui masih banyak menggunakan uranium, salah satunya karena negara tersebut memiliki cadangan uranium yang sangat besar. Sebaliknya, Rusia mulai mengeksplorasi penggunaan thorium dalam berbagai aplikasi teknologi nuklir yang lebih maju,” paparnya.

Menurut Rahmat, langkah Rusia tersebut kemudian diikuti oleh Tiongkok, yang secara agresif mengembangkan teknologi nuklirnya, bahkan dalam beberapa aspek mengadaptasi atau meniru pendekatan teknologi Rusia. Dalam perkembangan selanjutnya, negara-negara seperti Iran dan Korea Utara juga diduga mengikuti arah pengembangan teknologi ini.

Jika melihat performa beberapa rudal Iran yang dilaporkan memiliki kecepatan sangat tinggi, bahkan mencapai kecepatan hipersonik hingga sekitar Mach 10, maka muncul analisis bahwa salah satu faktor yang memungkinkan kemampuan tersebut adalah penggunaan teknologi nuklir berbasis thorium. Dalam skenario ini, thorium tidak hanya berperan sebagai sumber energi, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem bahan bakar atau teknologi hulu ledak.

Dengan potensi energi yang sangat besar, satu sistem persenjataan berbasis teknologi tersebut secara teoritis dapat memiliki kekuatan yang jauh melampaui sistem konvensional. Inilah yang memunculkan pandangan bahwa satu rudal modern berteknologi tinggi dapat memiliki efek strategis yang sangat besar dalam keseimbangan kekuatan militer global.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi nuklir tidak hanya terjadi pada level energi sipil, tetapi juga dalam ranah militer dan pertahanan. Negara-negara yang mampu menguasai teknologi nuklir generasi baru berpotensi mengubah peta kekuatan strategis dunia dalam waktu yang relatif singkat,” pungkas Rahmat. (Cah/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya