Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Konflik Timur Tengah Jadi Ujian Ketahanan Nasional

Rahmatul Fajri
13/3/2026 12:57
Konflik Timur Tengah Jadi Ujian Ketahanan Nasional
ilustrasi(Anadolu)

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Bahrullah Akbar menilai meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah menjadi tantangan besar bagi stabilitas global sekaligus menguji ketahanan nasional berbagai negara. Hal tersebut disampaikan Bahrullah dalam sambutannya pada Dialog Nasional bertajuk Tantangan Kedaulatan Nasional di Tengah Gejolak Geopolitik Timur Tengah yang digelar di Auditorium Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta.

Menurutnya, konflik Iran vs AS beserta sekutu menunjukkan bahwa dinamika geopolitik di kawasan tersebut telah bergerak dari ketegangan terbatas menuju potensi konfrontasi terbuka dengan risiko strategis yang tinggi.

“Situasi ini memperlihatkan bagaimana politik kekuatan kembali menjadi faktor dominan dalam hubungan internasional. Eskalasi militer bergerak sangat cepat dan sering kali melampaui kecepatan diplomasi,” kata Bahrullah.

Ia menjelaskan bahwa karakter konflik modern tidak lagi terbatas pada aspek militer, tetapi juga berdampak pada psikologi publik, stabilitas ekonomi global, hingga persepsi politik internasional.

Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, Bahrullah menilai dampaknya tetap dapat dirasakan karena keterkaitan sistem ekonomi global dan stabilitas energi dunia.

Ia mencontohkan kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat sistem energi global. Apabila jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu, kondisi tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak dan gas, meningkatkan biaya logistik, hingga menekan stabilitas ekonomi negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

“Artinya kedaulatan negara saat ini tidak hanya diuji oleh ancaman militer langsung, tetapi juga oleh ketergantungan terhadap sistem global yang sedang terguncang,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, Bahrullah juga mengingatkan potensi ancaman perang informasi yang memanfaatkan disinformasi serta narasi identitas untuk memicu polarisasi sosial di berbagai negara.

Dalam konteks tersebut, ia menilai alumni Resimen Mahasiswa maupun kader Menwa memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik global. Menurut Bahrullah, sejak awal Resimen Mahasiswa dididik dengan nilai bela negara, kedisiplinan, serta wawasan kebangsaan yang kuat sehingga memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas nasional.

“Menwa dan Alumni Menwa tersebar di berbagai sektor strategis. Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memperkuat kesadaran geopolitik masyarakat, menangkal disinformasi, serta menjaga persatuan bangsa di tengah gejolak global,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa di tengah dinamika konflik internasional, alumni Menwa diharapkan dapat menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam menjaga stabilitas nasional.

“Ketahanan nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh komponen bangsa. Alumni Menwa harus hadir sebagai bagian dari kekuatan yang menjaga Indonesia tetap stabil, berdaulat, dan mandiri di tengah pusaran geopolitik global,” ujar Bahrullah.

Dialog nasional tersebut digelar bersamaan dengan kegiatan buka puasa bersama yang diikuti lebih dari 500 peserta secara hybrid dari keluarga besar Resimen Mahasiswa dan para alumni. Sejumlah tokoh juga hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, antara lain Ermaya Suradinata, Ulta Levenia, Aryo Wibowo, Heri Herdiawanto, serta Rasminto. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya