Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Harga Minyak Dunia Bisa Tembus US$130 jika Konflik tak Mereda

Andhika Prasetyo
11/3/2026 04:44
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus US$130 jika Konflik tak Mereda
ilustrasi(Antara)

Pakar energi dari Universitas Padjajaran, Yayan Satyakti, memperkirakan harga minyak dunia masih berpotensi melonjak ke level US$130 per barel jika konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel terus mengalami eskalasi. Yayan mengatakan penurunan harga minyak yang terjadi belakangan ini dipicu oleh langkah Amerika Serikat yang menambah pasokan minyak ke pasar global.

“Ini disebabkan oleh AS mengeluarkan pasokan minyak yang cukup besar sehingga harganya turun. Tetapi penurunan tersebut hanya bersifat sementara,” ujar Yayan.

Sebelumnya, harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh US$118 per barel. Itu menjadi level tertinggi sejak Juni 2022 dan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Januari 2026 ketika Brent berada di kisaran US$64 per barel dan minyak jenis WTI sekitar US$57,87 per barel.

Namun pada Selasa, harga minyak global kembali turun ke kisaran US$80-US$85 per barel setelah para menteri energi dari kelompok G7 membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi untuk menstabilkan pasar energi. Penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh sinyal meredanya konflik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran sudah 'very complete'.

Meski demikian, pemerintah Iran menyatakan tidak akan menyetujui gencatan senjata sebelum pihak yang menyerang diberi pelajaran agar tidak kembali melakukan tindakan militer terhadap Teheran. Pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Yayan menilai ketegangan tersebut dapat kembali memicu lonjakan harga minyak global, terutama jika konflik meningkat ke tahap yang lebih serius.

Menurutnya, eskalasi konflik berpotensi semakin besar jika Amerika Serikat benar-benar mengirimkan pasukan darat ke Iran.

“Jika itu terjadi, kerusakan infrastruktur energi dan gangguan pada jaringan rantai pasok akan semakin besar dan sulit diperkirakan kapan akan pulih,” kata Yayan.

Ia menilai pengerahan pasukan darat biasanya berdampak lebih luas terhadap stabilitas kawasan, bahkan berpotensi berlangsung dalam jangka waktu lama, sebagaimana yang pernah terjadi dalam konflik di Irak dan Afghanistan.

Selain faktor militer, Yayan juga menilai terdapat kepentingan geopolitik dalam dinamika pasar minyak global. Ia memperkirakan Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk menggeser pangsa pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat sekitar 20 persen, dengan tujuan menekan harga minyak pada pertengahan atau akhir 2026. Menurutnya, harga minyak yang lebih rendah dapat membuat biaya rantai pasok di Amerika Serikat menjadi lebih murah dan efisien.

Secara global, konflik Timur Tengah memang menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas harga minyak karena kawasan tersebut merupakan jalur penting distribusi energi dunia, termasuk Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Para analis memperingatkan bahwa jika gangguan terhadap produksi dan distribusi minyak terus berlanjut, harga minyak bahkan berpotensi melampaui US$120 hingga US$150 per barel. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya