Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

AS Bantah Kawal Tanker di Selat Hormuz: Sempat Picu Gejolak Harga Minyak Dunia

Thalatie K Yani
11/3/2026 04:58
AS Bantah Kawal Tanker di Selat Hormuz: Sempat Picu Gejolak Harga Minyak Dunia
Selat Hormuz(Media Sosial X)

GEDUNG Putih menegaskan Angkatan Laut Amerika Serikat belum memberikan pengawalan bagi tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul sebagai klarifikasi atas unggahan Menteri Energi AS yang sempat memicu kebingungan publik dan fluktuasi harga minyak mentah dunia pada Selasa waktu setempat.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memastikan hingga saat ini belum ada operasi pengawalan yang dilakukan. "Saya dapat mengonfirmasi Angkatan Laut AS belum mengawal tanker atau kapal saat ini. Meski tentu saja, itu adalah opsi yang menurut Presiden akan sangat mungkin digunakan jika dan ketika diperlukan, pada waktu yang tepat," ujar Leavitt dalam pengarahan di Gedung Putih.

Kesalahan Teknis yang Fatal

Kekacauan informasi ini bermula ketika akun resmi Menteri Energi, Wright, di platform X mengunggah sebuah video dengan keterangan bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal tanker minyak untuk menjaga kelancaran pasokan pasar global. Unggahan tersebut dihapus hanya beberapa menit kemudian.

Seorang juru bicara Departemen Energi menjelaskan video tersebut "salah diberi keterangan oleh staf Departemen Energi." Ia menambahkan saat ini Presiden Trump beserta tim energinya terus memantau situasi dan meminta militer menyiapkan berbagai opsi untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Dampak Langsung ke Pasar Minyak

Informasi prematur tersebut sempat mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah AS yang awalnya berada di level US$84 per barel, merosot tajam ke angka US$76,73 sesaat setelah unggahan Wright muncul. Namun, harga kembali terkoreksi ke posisi US$84,70 setelah unggahan tersebut dihapus. Meski demikian, secara keseluruhan harga minyak AS masih mengalami penurunan lebih dari 10% pada hari itu.

Situasi "Lembah Kematian" di Hormuz

Ketegangan di Selat Hormuz semakin meningkat menyusul laporan intelijen yang menyebutkan Iran mulai memasang ranjau di jalur pelayaran vital tersebut. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia melintasi selat ini.

Meski pemasangan ranjau dilaporkan belum dalam skala besar, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan memiliki kemampuan untuk menyebarkan ratusan ranjau menggunakan kapal-kapal kecil dan kapal cepat. IRGC bahkan sebelumnya telah mengeluarkan ancaman akan menyerang setiap kapal yang melintas, hingga jalur tersebut dijuluki sebagai "Lembah Kematian".

Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menyatakan kesiapan militer jika sewaktu-waktu perintah pengawalan turun. "Jika ditugaskan untuk mengawal kapal minyak melalui selat, militer akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengatur kondisi militer agar mampu melaksanakan tugas tersebut," tegasnya.

Presiden Trump pertama kali melontarkan ide pengawalan angkatan laut pekan lalu, meskipun ia berharap langkah drastis tersebut tidak perlu dilakukan. Saat ini, koordinasi internal mengenai waktu dan syarat operasi militer di wilayah tersebut masih menjadi fokus utama administrasi Trump. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya