Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Putin Tawarkan Diri Jadi Mediator Konflik Iran-Israel: Upaya Perdamaian atau Strategi Perang?

Thalatie K Yani
11/3/2026 03:19
Putin Tawarkan Diri Jadi Mediator Konflik Iran-Israel: Upaya Perdamaian atau Strategi Perang?
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump(White House)

DALAM sepekan terakhir, Presiden Rusia Vladimir Putin telah dua kali melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran. Di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, Putin kini mencoba memosisikan dirinya sebagai juru damai internasional.

Namun, upaya pencitraan ini menemui tantangan kredibilitas yang besar. Publik dunia masih mengingat jelas bahwa Putin adalah pemimpin yang memerintahkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022, sebuah tindakan yang dikutuk oleh Majelis Umum PBB sebagai pelanggaran Piagam PBB.

Kini, Kremlin secara aktif menyerukan "deeskalasi cepat dan resolusi politik" dalam konflik Iran, sementara di saat yang sama, Rusia terus melanjutkan perang atrisi yang melelahkan melawan Ukraina.

Upaya Mediasi dan Hubungan dengan Trump

Meskipun Rusia memiliki "Kemitraan Strategis Komprehensif" dengan Teheran, kesepakatan tersebut belum mencapai level pakta pertahanan bersama. Alih-alih terlibat secara militer, Moskow menawarkan diri sebagai mediator.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Senin lalu, Putin menyampaikan sejumlah gagasan untuk resolusi diplomatik. Menurut keterangan Kremlin, langkah ini didasarkan pada komunikasi Rusia dengan para pemimpin negara-negara Teluk dan Iran.

Bagi Rusia, ini adalah peluang emas untuk meningkatkan profil mereka di Timur Tengah sebagai kekuatan yang berpengaruh. Di sisi lain, Moskow juga berupaya memperdalam hubungan dengan pemerintahan Trump yang dianggap dapat menguntungkan tujuan perang Rusia di Ukraina.

Trump sendiri menanggapi tawaran tersebut dengan nada lugas. "Dia [Putin] ingin membantu," ujar Trump pada hari Senin. "Saya katakan, 'Anda bisa lebih membantu dengan mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Itu akan lebih membantu.'"

Keuntungan Ekonomi di Balik Konflik

Meski menyerukan perdamaian, Rusia secara pragmatis diuntungkan oleh ketegangan di Timur Tengah, terutama dari sisi ekonomi. Lonjakan harga minyak global menjadi napas segar bagi pendapatan negara Rusia untuk mendanai perang di Ukraina.

Anggaran federal Rusia disusun dengan asumsi harga ekspor minyak sebesar $59 per barel. Pekan ini, harga minyak mentah sempat melonjak drastis hingga mendekati $120 per barel sebelum akhirnya sedikit terkoreksi.

Kondisi ini semakin menguntungkan Moskow setelah Trump mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sanksi minyak pada "beberapa negara" guna mengatasi kelangkaan akibat perang Iran. Jika sanksi Rusia dilonggarkan, Moskow akan mendapatkan rejeki nomplok yang luar biasa.

Reaksi dari Kyiv dan Media Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan pelonggaran sanksi terhadap Rusia akan menjadi "pukulan serius" bagi Kyiv. Sebaliknya, media pro-Kremlin menyambut optimis peluang ini. Surat kabar Komsomolskaya Pravda menuliskan tajuk utama: "Minyak mahal adalah alasan [bagi Barat] untuk membatalkan sanksi."

Meski Putin menjaga komunikasi santun dengan Trump, beberapa media Rusia justru melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan perang AS di Iran. Tabloid Moskovsky Komsomolets bahkan menulis dengan keras, "Presiden damai itu telah kehilangan akal sehatnya." (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya