Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Trump Buka Peluang Dialog dengan Iran di Tengah Ketegangan Militer

Media Indonesia
10/3/2026 22:58
Trump Buka Peluang Dialog dengan Iran di Tengah Ketegangan Militer
Presiden AS Donald Trump(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal diplomasi yang fluktuatif terkait hubungan Washington dengan Teheran. Meski ketegangan militer meningkat pasca serangan udara pada 28 Februari lalu, Trump mengaku tidak sepenuhnya menutup pintu perundingan dengan Republik Islam tersebut.

Dalam wawancara bersama Fox News, Selasa (10/3/2026), Trump menyatakan bahwa dialog mungkin saja terjadi, namun dengan catatan persyaratan yang ketat.

“Itu mungkin saja, tergantung pada syaratnya. Anda tahu, sebenarnya kita tidak perlu lagi berbicara, tetapi itu mungkin,” ujar Trump menanggapi kemungkinan negosiasi dengan kepemimpinan baru Iran.

Skeptisisme Terhadap Pemimpin Tertinggi Baru

Pernyataan Trump muncul di tengah transisi kekuasaan di Iran pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Putra mendiang, Mojtaba Khamenei, kini telah diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi baru, sebuah langkah yang sebelumnya disebut Trump "mengecewakan."

Trump meragukan kemampuan Mojtaba untuk membawa stabilitas di kawasan. “Saya tidak percaya ia (Mojtaba) dapat hidup dengan damai,” cetus sang Presiden.

Situasi di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan "preemptif" ke Teheran pada akhir Februari. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

AS dan Israel pada awalnya mengklaim bahwa serangan “preemptif” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang mereka anggap berasal dari program nuklir Iran, tetapi kemudian mereka segera menunjukkan secara jelas bahwa ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dibunuh pada hari pertama operasi militer tersebut. Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei memicu reaksi keras dari Kremlin. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut aksi tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang sinis.

Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak AS dan Israel untuk segera menghentikan permusuhan dan memulai proses deeskalasi guna mencegah perang terbuka yang lebih luas di kawasan energi global tersebut.

(Ant/Sputnik/RIA Novosti/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya