Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Imbas Perang Iran–Israel, Ekspor Sarung Tegal ke Timur Tengah dan Afrika Batal

Supardji Rasban
02/3/2026 22:19
Imbas Perang Iran–Israel, Ekspor Sarung Tegal ke Timur Tengah dan Afrika Batal
Owner PT Asaputex Jaya dengan merk Sarung Pohon Korma, Jamaludin Al Katiri sedang mengawasi pekerja di pabriknya.(MI/Supardji Rasban)

PERSETERUAN Amerika Serikat (AS) yang bersekongkol dengan Israel untuk menyerang Iran, berimbas langsung pada sektor ekspor di daerah. Seperti yang terjadi pada industri sarung alat tenun bukan mesin (ATBM) di Kota Tegal, Jawa Tengah. Pengiriman atau ekspor sarung ke sejumlah negara di Timur Tengah (Timteng) dan Afirika, tertunda bahkan batal.

Pengusaha sarung asal Kota Tegal, Jamaludin Al Katiri, menyampaikan jika sedikitnya ada dua kontainer berisi sekitar 50 ribu potong sarung batal diekspor. Pengiriman sarung yang sudah dijadwalkan berangkat pada Selasa (3/3) dan Sabtu (7/3) ini.

“Iya pengiriman sarung ke Timur Tengah sudah tertunda sejak Minggu. Ada kabar pembatalan pengiriman ke semua negara tujuan. Jadi mulai kemarin sudah tidak ada kiriman sama sekali dari Indonesia ke Afrika maupun Timur Tengah,” ujar Jamaludin kepada sejumlah jurnalis  di pabrik sarungnya di Desa Pacul, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Senin (2/3).

Jamaludin menyebut pembatalan sarung merek Pohon Korma produksinya menimbulkan kerugian besar bagi usahanya. Padahal menjelang Lebaran 2026 ini sudah dijadwalkan ada dua kali ekspor tambahan.

“Imbasnya sangat besar, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena ini di luar kewenangan kita. Bukan hanya Indonesia, tapi seluruh dunia terdampak perang ini. Kami hanya bisa bersabar,” ucapnya.

PERMINTAAN LOKAL MENINGKAT
Kendati terjadi pembatalan ekspor, lanjut Jamaludin, permintaan pasar dalam negeri justru mengalami lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan omzet mulai terasa sejak awal Februari 2026. Seperti produksi sarung ATBM untuk pasar lokal saat momentum Lebaran bisa meningkat hingga tiga kali ketimbang hari biasa.

“Untuk ekspornya kami baru bisa memenuhi sekitar 30% dari total permintaan. Tapi untuk pasar lokal memang naik signifikan menjelang Lebaran,” jelas Jamaludin.

Di sisi lain, Jamaludin mengapresiasi sejumlah perusahaan di Tegal yang memilih sarung produksi lokal sebagai hadiah bagi para karyawan. Hal itu membantu mengompensasi kondisi ketidakmenentuan global.

Jamaludin juga menjelaskan jika lonjakan juga terjadi pada penjualan melalui marketplace. Bila pada hari biasa penjualan berkisar 20–50 potong per hari, dalam sebulan terakhir angka pre-order mencapai lebih dari 500 potong per hari dengan pengiriman ke berbagai provinsi di Indonesia. Peningkatan bisa sampai 300% dalam sebulan terakhir. Tapi kalau jual di marketplace, margin keuntungannya memang lebih tipis. 

Menurut Jamaludin harga sarung ATBM produksi Tegal berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp800 ribu per potong, tergantung motif dan kualitasnya. Kalau ongkos produksi mencapai sekitar 50% dari harga jual.

“Khusus menjelang Lebaran, harga sarung ATBM bakal mengalami kenaikan sekitar 10–15% mengikuti tingginya permintaan pasar. Tapi biasanya naiknya pas Lebaran dan setelahnya," papar Jamaludin.

Dia juga menegaskan tetap berkomitmen mengembangkan kapasitas produksi, termasuk melalui pelatihan tenaga kerja dan peningkatan kualitas produk.  “Di beberapa negara Afrika, sarung ATBM asal Tegal tidak hanya digunakan saat perayaan keagamaan, tetapi telah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat,” pungkasnya. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya