Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Purbaya Sebut Fiskal masih Aman dan Kuat di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia

M Ilham Ramadhan Avisena
10/3/2026 18:58
Purbaya Sebut Fiskal masih Aman dan Kuat di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa(MI/Ihfa Firdausya )

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan anggaran negara untuk memenuhi kebutuhan BBM subsidi masih mencukupi. Dia menyebut dompet negara masih cukup tebal untuk menanggung subsidi kendati terjadi gejolak harga minyak dunia

"Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun US$70 (per barel) asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja. Jadi belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb," ujarnya kepada pewarta di Istana Kepresidenan, Selasa (10/3). 

Purbaya menuturkan, pergerakan harga minyak dunia jauh lebih cepat dibanding harga saham. Karenanya, pemerintah tak serta merta reaktif menanggapi pergerakan harga minyak dunia. 

Pengambil keputusan disebut masih akan terus memonitor perkembangan dan menghitung potensi kenaikan harga minyak dunia terhadap pos belanja negara. 

"Jadi menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham," kata Purbaya. 

"Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya. Sekarang ini berubah-rubah kan. US$120 (per barel) yang kemarin tinggi, sekarang US$90 (barel) Kalau turun lagi gimana? Kan berubah terus. Jadi kita nanti tebak arahnya yang sebetulnya seperti apa," lanjutnya. 

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tak akan mengalami kenaikan harga meski harga minyak dunia sempat melambung. 

"Jadi negara hadir untuk memastikan bahwa sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga, untuk minyak subsidi ya," terangnya. 

Dinamika pergerakan harga minyak dunia itu, kata Bahlil, akan amat terasa dampaknya pada sisi anggaran negara. Kendati menkeu telah memastikan kondisi fiskal masih cukuo kuat, pemerintah juga terus mencari sumber-sumber energi lain. 

"Kita sedang memitigasi bahwa kita harus juga mencari sumber-sumber energi lain selain energi fosil termasuk energi nabati," tutur Bahlil. 

Menyoal adanya panic buying BBM di sejumlah daerah. Bahlil menilai itu merupakan tindakan yang tak perlu. Sebab, sedianya kecukupan BBM amat memadai.

"Tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup. Jadi yang dimaksud dengan 21 hari sampai 25 hari itu adalah storage kita. Tapi itu kan dia pergi dan datang lagi, industri kita jalan terus, dan impor kita gak ada masalah. Apalagi di Timur Tengah itu kita cuma impor crude minyak mentahnya, sementara minyak jadinya kita impor dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri. Jadi harusnya tidak perlu ada sampai begitu ya," pungkas Bahlil. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya