Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level di atas US$100 per barel. Ia menegaskan pemerintah masih terus memantau perkembangan harga sebelum mengambil langkah kebijakan.
Purbaya mengatakan kenaikan harga minyak tersebut baru terjadi dalam waktu singkat sehingga pemerintah belum bisa menarik kesimpulan mengenai dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kan baru satu hari (harga minyak US$100). Hitungan kita kan satu tahun penuh. Rata-rata setahun berapa? Kalau rata-rata setahun 100 berarti kan naik terus ke atas. Ya kita lihat kondisi APBN kita seperti apa. Yang jelas kita coba absorb shock semaksimal mungkin,” kata Purbaya di sela kunjungan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3).
Ia mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa harga minyak akan bertahan di level tinggi dalam jangka panjang.
“Teman-teman jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga akan 100 terus, bahkan ada yang bilang menuju 150 dan anggaran kita tidak kuat. Kita akan assess terus dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Menurut Purbaya, pemerintah akan mengevaluasi perkembangan harga minyak dalam waktu sekitar satu bulan sebelum memutuskan langkah lanjutan.
Ia juga menegaskan pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan terkait kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
“Asumsi kita kan setahun penuh. Kalau sekarang 100 lalu jatuh ke 50 rata-ratanya, kan bisa sama dengan kemarin. Jadi jangan terlalu cepat menilai. Setelah sebulan kita prediksi harga minyak seperti apa sehingga bisa mengambil kebijakan yang tepat,” jelasnya.
Purbaya menambahkan pemerintah telah beberapa kali menghadapi lonjakan harga minyak dunia dan mampu mengelola dampaknya melalui kebijakan fiskal yang tepat.
“Saya cukup pintar kok. Kita sudah mengalami harga minyak tinggi beberapa kali. Negara juga tidak hancur karena kebijakannya pas,” tegasnya.
Ia memastikan hingga saat ini belum ada kebijakan untuk menaikkan harga BBM subsidi.
“Dalam pengertian menaikkan harga BBM. Karena kita lihat seperti apa kondisinya ke depan. Kalau sebulan semuanya berubah kita akan evaluasi,” katanya.
Pemerintah juga akan mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
“Banyak juga masyarakat yang bayar subsidi. Jadi kita lihat apakah itu bagus atau tidak untuk ekonomi. Tapi sekarang belum saatnya mengambil keputusan karena uangnya masih cukup,” ujar Purbaya.
Sementara itu, lonjakan harga minyak dunia terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan laporan Sputnik, harga minyak mentah Brent sempat menembus US$118 per barel, level tertinggi sejak 17 Juni 2022.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel yang berhadapan dengan Iran, setelah kedua negara melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Update terbaru harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo per 9 Maret 2026. Simak rincian harga Pertamax hingga Diesel di tengah tensi geopolitik global.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah membuka kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) apabila harga minyak dunia melonjak.
Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku di berbagai SPBU di Indonesia.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan belum ada rencana menaikkan harga BBM bersubdisi meskipun harga minyak dunia saat ini melambung
Pemerintah perlu mempertimbangkan skema penyesuaian bertahap harga bahan bakar minyak (BBM) untuk meredam tekanan dari lonjakan harga minyak dunia.
Update terbaru harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo per 9 Maret 2026. Simak rincian harga Pertamax hingga Diesel di tengah tensi geopolitik global.
Harga minyak mentah melonjak melewati US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah berpotensi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi apabila lonjakan harga minyak dunia terus berlanjut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved