Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Pengamat: Peringatan dari Prabowo Bukan hanya Soal Perang

M Ilham Ramadhan Avisena
10/3/2026 19:00
Pengamat: Peringatan dari Prabowo Bukan hanya Soal Perang
Presiden Prabowo Subianto (tengah).(Biro Pers Sekretariat presiden.)

ANALISIS politik Ray Rangkuti menilai peringatan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi masa sulit ke depan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan konflik global. Ia menilai persoalan internal pemerintahan justru memiliki pengaruh lebih besar terhadap situasi yang sedang dihadapi Indonesia.

Sebelumnya, Prabowo mengumpulkan sejumlah menteri dan mengingatkan kemungkinan dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah, termasuk perang yang melibatkan Iran. Prabowo juga menyatakan akan memberikan taklimat kepada masyarakat terkait situasi tersebut.

Namun menurut Ray, persoalan yang dihadapi Indonesia tidak hanya berasal dari faktor eksternal. "Kesulitan yang timbul, saya kira, bukan sekedar akibat perang Amerika-Israel vs Iran. Tapi juga sebab pengelolaan pemerintahan. Intinya bukan sebab eksternal tapi juga sebab internal," ujarnya saat dihubungi, Selasa (10/3).

Ia bahkan menilai faktor internal dapat menjadi penyebab utama memburuknya kondisi ekonomi dibandingkan dengan dampak konflik global. "Sebab internal bahkan bisa jadi faktor paling utama dan besar dibandingkan eksternal. Dan hal ini sudah terlihat," kata Ray.

Ia mencontohkan sejumlah indikator ekonomi yang dinilainya menunjukkan tekanan, mulai dari defisit anggaran hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.

Menurutnya, defisit anggaran yang telah menembus Rp100 triliun terlampau besar. Belum lagi harga kebutuhan pokok di lapangan mengalami kenaikan. "Entah disebabkan oleh kebutuhan pasar yang makin meningkat, tapi juga efek dari ketersediaan dan nilai dolar," ujarnya.

Di sisi lain, Ray menilai pemerintah belum mengeluarkan program stimulus ekonomi yang cukup untuk menahan dampak tekanan tersebut. Ia juga menyoroti meningkatnya pengangguran dan penutupan sejumlah pabrik.

Ray juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih yang menurutnya belum otomatis mendorong perputaran ekonomi masyarakat luas.

"MBG atau KMP tidak dengan sendirinya meningkatkan stimulus ekonomi. Uang mengalir dari negara ke orang-orang kaya. Banyak pejabat dan atau orang kaya yang mengelola MBG. Uang berputar di kalangan mereka saja," ujarnya.

Menurut dia, dampak konflik Amerika-Israel dengan Iran kemungkinan baru akan terasa beberapa bulan mendatang, terutama terkait pasokan energi. "Efek dari perang Amerika-Israel vs Iran baru akan terlihat bulan Mei seterusnya. Saat di mana stok BBM kita makin menipis," terang Ray.

Selain faktor ekonomi, ia juga melihat munculnya tekanan dari sisi politik. Ray menilai tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah menunjukkan tanda-tanda penurunan, meskipun sejumlah survei masih menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi.

"Tingkat kepercayaan pada pemerintah, nampaknya, terus merosot. Sekalipun ada pemeringkat yang menyebut tingkat kepuasan masih di angka 79,9%. Tapi gejala di lapangannya tidak menunjukan kesolidan itu," ujarnya.

Ia menilai meningkatnya kritik di ruang publik menjadi salah satu indikatornya. Menurut Ray, berbagai isu kebijakan pemerintah turut memicu munculnya sikap kritis masyarakat.

Ray menyebut sejumlah isu yang menurutnya menjadi sumber kritik publik, mulai dari kasus keracunan penerima program MBG, belum berjalan efektifnya Koperasi Merah Putih, hingga minimnya pembangunan infrastruktur.

Karena itu, ia menilai potensi masa sulit yang disebut presiden bukan sekadar peringatan. "Masa sulit itu bukan lagi bualan, tapi sudah di depan mata. Dan faktor utamanya adalah tata kelola pemerintahan oleh presiden Prabowo," pungkas Ray. (Mir/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya