Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Di Tengah Ancaman Perang Timur Tengah, 7.000 Jemaah Sulsel Nekat Berangkat Umrah

Lina Herlina
10/3/2026 17:50
Di Tengah Ancaman Perang Timur Tengah, 7.000 Jemaah Sulsel Nekat Berangkat Umrah
Jemaah umrah di Jawa Timur berangkat dari Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo.(MI/Hery Susetyo)

DI tengah situasi Timur Tengah yang memanas akibat konflik antara Iran-Israel dan Amerika Serikat, geliat jemaah umrah asal Sulawesi Selatan justru menunjukkan grafik yang kontras. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulsel mencatat, tak kurang dari 7.000 jemaah nekat terbang ke Tanah Suci untuk meraih keistimewaan ibadah umrah di bulan Ramadan. 

Namun, di balik tingginya antusiasme masyarakat, Kemenhaj mengeluarkan imbauan yang tak biasa. Jemaah dan penyedia jasa perjalanan umrah diminta untuk lebih waspada dan mempertimbangkan ulang keberangkatan, khususnya jika menggunakan rute penerbangan tertentu. 

Masih Ada Penerbangan Langsung

Kepala Kantor Kemenhaj Sulsel, Ikbal Ismail, mengungkapkan bahwa pelaksanaan umrah untuk jemaah asal Sulsel secara umum belum terdampak langsung oleh konflik. 

Ia menyebut, keunggulan utama jemaah Sulsel adalah tersedianya penerbangan langsung (direct) rute Makassar-Jeddah yang menjadi primadona. 

"Yang menjadi persoalan krusial sebenarnya bukan pada ibadahnya, melainkan pada rute penerbangan. Jemaah kita yang menggunakan penerbangan tidak langsung (indirect) atau transit di bandara-bandara di kawasan Teluk, seperti Dubai atau Qatar, lah yang paling berisiko," ujar Ikbal. 

Pernyataan itu sontak menjadi perhatian, mengingat wilayah Negara Teluk, termasuk Arab Saudi, berada dalam radius yang dekat dengan eskalasi konflik. Sebaliknya, jemaah yang memilih penerbangan langsung Makassar-Jeddah dianggap lebih aman karena menghindari persinggahan di negara-negara yang berpotensi terdampak. 

Mantan Kepala Bidang Pelaksanaan Haji dan Umrah Kemenag Sulsel itu memaparkan data mengejutkan. Setiap bulannya, rata-rata 5.000 hingga 7.000 jemaah asal Sulsel berangkat umrah. 

"Bulan Ramadan ini adalah puncaknya. Angkanya bisa mencapai 7.000 lebih. Mereka ingin merasakan ibadah di waktu yang paling istimewa," ungkap Ikbal.

Saat ini, Kemenhaj mencatat masih ada 358 jemaah umrah asal Sulsel yang tengah berada di Arab Saudi. Ikbal memastikan bahwa kepulangan mereka tidak akan terganggu dan terus dipantau secara ketat oleh otoritas terkait. 

Meski jemaah yang sudah berada di Tanah Suci relatif aman, Kemenhaj memberikan lampu kuning bagi jemaah yang masih berada di Tanah Air. Ikbal menegaskan bahwa pihaknya saat ini tengah menunggu instruksi lebih lanjut, mengikuti arahan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahniel Azhar Simanjuntak. 

"Pak Wamen sudah menginstruksikan dengan tegas. Bagi jemaah yang belum berangkat, khususnya yang menggunakan penerbangan transit, sangat diharapkan untuk menunda keberangkatan sampai kondisi di Timur Tengah benar-benar dinyatakan aman dan kondusif," tegas Ikbal. Ia menambahkan, kalaupun pihak travel sudah terlanjur memesan tiket dan hotel, kami imbau untuk mengutamakan keselamatan. 

"Jika memungkinkan, ubah jadwal atau pilih penerbangan direct. Jangan memaksakan diri jika risikonya begitu besar," tutupnya. (LN/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya