Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Trump Klaim Putin Ingin Akhiri Perang Ukraina, Namun Pembicaraan di Moskow Masih Buntu

Thalatie K Yani
04/12/2025 07:53
Trump Klaim Putin Ingin Akhiri Perang Ukraina, Namun Pembicaraan di Moskow Masih Buntu
Presiden Donald Trump menyebut Vladimir Putin ingin mengakhiri perang Ukraina, meski pertemuan delegasi AS di Moskow belum menghasilkan terobosan. (White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin “ingin mengakhiri perang” di Ukraina, meski pembicaraan intensif antara utusan AS dan Kremlin belum mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Rabu waktu setempat, sementara pejabat AS bersiap melanjutkan putaran dialog berikutnya dengan negosiator utama Kyiv.

Utusan Trump, Steve Witkoff, bersama menantu Trump, Jared Kushner, menggelar pembicaraan hingga larut malam dengan Putin di Kremlin. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan terobosan untuk menghentikan konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Kremlin menegaskan bahwa sejumlah poin dalam proposal AS tidak dapat diterima. Salah satunya adalah klausul yang menuntut Ukraina melepaskan wilayah Donbas yang masih berada di bawah kendali mereka hampir empat tahun sejak invasi Rusia dimulai.

“Saya dapat katakan bahwa mereka mengadakan pertemuan yang cukup baik dengan Presiden Putin,” ujar Trump ketika ditanya AFP mengenai hasil pembicaraan tersebut. Ia menambahkan pertemuan itu “sangat baik,” namun masih terlalu dini untuk mengetahui hasil akhirnya. “Karena memang harus melibatkan dua pihak untuk bisa tercapai,” katanya.

Ketika ditanya apakah delegasinya menilai Putin sungguh-sungguh ingin menghentikan perang. “Dia ingin mengakhiri perang. Itu adalah kesan mereka," tegas Trump.

Trump juga mengatakan Ukraina “cukup mendukung” proposal AS. Meski menurutnya Kyiv seharusnya memberikan persetujuan lebih awal, merujuk pada pertemuan panasnya dengan Presiden Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Februari lalu.

Dua pejabat AS mengatakan kepada AFP, Witkoff dan Kushner dijadwalkan bertemu negosiator Ukraina, Rustem Umerov, di Florida pada Kamis.

Kremlin: Negosiasi Dipengaruhi Keberhasilan Militer Rusia

Meski Gedung Putih sebelumnya menyatakan optimisme, Kremlin menegaskan belum ada kompromi yang tercapai dan negosiasi masih membutuhkan upaya lanjutan. Rusia juga menyoroti kemajuan militernya di medan perang sebagai faktor penting yang mengubah dinamika pembicaraan.

“Kemajuan dan sifat operasi militer dalam beberapa minggu terakhir memengaruhi jalannya negosiasi,” ujar penasihat Kremlin, Yuri Ushakov.

Rusia membantah Putin menolak seluruh proposal AS dan menegaskan masih membuka pintu diplomasi. “Kami masih siap menggelar pertemuan sebanyak yang diperlukan demi mencapai penyelesaian damai,” kata juru bicara Dmitry Peskov.

Kyiv: Tekanan pada Rusia Tetap Diperlukan

Dalam pidato malamnya, Zelensky menilai peluang menuju perdamaian memang terbuka, tetapi harus dibarengi tekanan terhadap Moskow. “Dunia kini jelas merasakan adanya kesempatan untuk mengakhiri perang, dan aktivitas negosiasi harus didukung tekanan terhadap Rusia,” ujarnya.

Sementara pembicaraan berlangsung, NATO terus memperkuat dukungan dengan rencana pembelian senjata AS senilai ratusan juta dolar untuk Ukraina. Sekjen NATO Mark Rutte menyambut baik upaya diplomasi, namun menekankan pentingnya memastikan “Ukraina berada dalam posisi terkuat untuk melanjutkan perjuangan.”

Di medan perang, pasukan Rusia terus menekan pertahanan Ukraina. Moskow mengklaim telah merebut kota strategis Pokrovsk, meski unit militer Ukraina di kota tersebut menyatakan pertempuran perkotaan masih berlangsung.

Beberapa negara Eropa khawatir Washington dan Moskow bisa mencapai kesepakatan tanpa melibatkan mereka. Karena itu, dalam beberapa pekan terakhir mereka mendorong revisi terhadap proposal AS agar Kyiv tidak berada dalam posisi terpaksa menyerah. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya