Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

2 Tahun Kematian Alexei Navalny, Ibu dan Istri Klaim Bukti Racun Validasi Pembunuhan

Thalatie K Yani
17/2/2026 12:32
2 Tahun Kematian Alexei Navalny, Ibu dan Istri Klaim Bukti Racun Validasi Pembunuhan
Peringatan 2 Tahun Kematian Navalny(BBC)

PERINGATAN dua tahun kematian tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, diwarnai dengan pernyataan keras dari pihak keluarga. Lyudmila Navalnaya, sang ibu, menegaskan penilaian terbaru mengenai penggunaan racun dalam kematian putranya telah memvalidasi keyakinannya sejak awal Navalny memang dibunuh.

Pernyataan ini muncul setelah Inggris dan sekutu Eropa merilis pernyataan bersama pada Sabtu lalu. Mereka menyebut Navalny, yang tewas pada 2024, dibunuh menggunakan racun yang dikembangkan dari toksin katak panah (dart frog toxin). Para sekutu menyatakan hanya negara Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan toksin mematikan ini.

"Ini mengonfirmasi apa yang kami ketahui sejak awal," ujar Lyudmila saat mengunjungi makam putranya di Moskwa pada Senin (16/2). "Kami tahu bahwa putra kami tidak sekadar meninggal di penjara, dia dibunuh."

Kremlin Bantah Keras Tuduhan

Pemerintah Rusia dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut klaim tersebut bias dan tidak berdasar.

"Tentu saja kami tidak menerima tuduhan semacam itu. Kami tidak setuju, kami menganggapnya bias dan tidak beralasan. Faktanya, kami dengan tegas menolaknya," kata Peskov pada Senin waktu setempat.

Di sisi lain, janda Navalny, Yulia, turut memperingati dua tahun kepergian suaminya melalui unggahan media sosial. Ia mengeklaim hasil analisis laboratorium dari dua negara terhadap sampel biologis yang diselundupkan telah membuktikan adanya pembunuhan. "Kami telah meraih kebenaran dan kami akan meraih keadilan suatu hari nanti," tulis Yulia.

Warisan Perlawanan di Tengah Tekanan

Meski pengawasan ketat dan represi di Rusia terus meningkat, puluhan warga Moskwa serta beberapa diplomat asing tetap mendatangi pemakaman Borisovskoye pada Senin kemarin untuk menaburkan bunga di makam Navalny.

Navalny meninggal pada usia 47 tahun di koloni penjara Siberia saat menjalani hukuman 19 tahun penjara atas tuduhan "ekstremisme". Sebagai kritikus paling vokal terhadap Presiden Vladimir Putin, ia dikenal luas karena kampanye antikorupsi yang mampu menggerakkan ratusan ribu orang ke jalanan.

Sebelum kematiannya yang misterius di penjara "Polar Wolf" di Lingkaran Arktik, Navalny sempat selamat dari upaya peracunan zat saraf Novichok pada 2020. Ia memilih kembali ke Rusia setelah menjalani perawatan di Jerman karena tidak ingin menyerah pada keyakinannya.

Kini, gerakan oposisi Rusia harus menghadapi tantangan berat. Banyak rekan Navalny yang dipenjara atau melarikan diri ke luar negeri. Yulia, yang kini memimpin Yayasan Antikorupsi (FBK) peninggalan suaminya, juga terancam ditangkap jika kembali ke Rusia dan saat ini menetap di luar negeri bersama kedua anaknya. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik