Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

CPJ: Israel Negara Pembunuh Jurnalis Terbanyak Sepanjang Sejarah di 2025

Haufan Hasyim Salengke
26/2/2026 09:45
CPJ: Israel Negara Pembunuh Jurnalis Terbanyak Sepanjang Sejarah di 2025
@HossamShabat via X(Hossam Shabat, koresponden Al Jazeera Mubasher dan kontributor Drop Site News, terbunuh pada 24 Maret 2025, dalam serangan Israel terhadap mobilnya di dekat rumah sakit Indonesia di Beit Lahia, Gaza utara.)

KOMITE Perlindungan Jurnalis (CPJ) merilis laporan tahunan yang mencatat tahun 2025 sebagai periode paling kelam bagi kebebasan pers global. Sebanyak 129 pekerja media tewas di seluruh dunia, angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1992. Dari jumlah tersebut, Israel bertanggung jawab atas kematian setidaknya 84 jurnalis, menjadikannya negara pembunuh jurnalis terbanyak dalam sejarah modern.

Laporan CPJ yang dirilis Rabu (25/2) waktu setempat menyoroti adanya "budaya impunitas yang langgeng" di lingkungan militer Israel. Lebih dari dua pertiga total kematian jurnalis global tahun lalu disebabkan oleh serangan Israel, yang menyasar jurnalis Palestina di Gaza serta staf media di Yaman.

Target Pembunuhan Berencana

CPJ mengklasifikasikan 47 insiden kematian jurnalis sebagai "pembunuhan berencana" atau targeted killings. Mirisnya, Israel menjadi aktor di balik 38 kasus dari kategori tersebut. Beberapa nama yang masuk dalam daftar korban termasuk jurnalis Al Jazeera seperti Anas al-Sharif dan Hossam Shabat.

"Israel kini telah membunuh lebih banyak jurnalis dibandingkan pemerintahan mana pun sejak CPJ mulai mengumpulkan data," tulis pernyataan resmi lembaga tersebut.

Pihak CPJ juga memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Pembatasan akses pers dan hancurnya bukti-bukti fisik akibat perang di Gaza menyulitkan investigasi mendalam terhadap dugaan kejahatan perang tersebut.

Menanggapi kritik internasional, Israel kerap berdalih bahwa jurnalis yang menjadi target memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata. Namun, CPJ dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "fitnah mematikan" (deadly smears) untuk melegitimasi serangan terhadap warga sipil.

Selain konflik di Timur Tengah, laporan tersebut mencatat Sudan sebagai wilayah mematikan berikutnya dengan 9 korban jiwa akibat perang saudara, diikuti Meksiko dengan 6 korban, serta Ukraina dengan 4 jurnalis yang tewas akibat invasi Rusia. (Al-Jazeera/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya