Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Efek Domino Perang Timur Tengah, Thailand Mulai Dibayangi Kelangkaan dan Aksi Borong BBM

Haufan Hasyim Salengke
05/3/2026 11:57
Efek Domino Perang Timur Tengah, Thailand Mulai Dibayangi Kelangkaan dan Aksi Borong BBM
Pengendara mengantre untuk mengisi kendaraan mereka di sebuah SPBU di Provinsi Chiang Mai, Rabu, di tengah kekhawatiran tentang harga yang lebih tinggi.(Panumet Tanraksa)

ESKALASI konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah mulai memicu gelombang kecemasan di Thailand. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, terutama di Selat Hormuz, telah memicu aksi borong (panic buying), lonjakan harga, hingga ancaman krisis logistik di 'Negeri Gajah Putih' tersebut.

Meskipun pemerintah Thailand menyatakan cadangan energi nasional masih mencukupi, tekanan di tingkat akar rumput mulai terasa. Di Chiang Mai, antrean panjang kendaraan terlihat di berbagai SPBU sejak Rabu (4/3) pagi. Warga bergegas mengisi penuh tangki kendaraan mereka karena khawatir akan terjadinya kelangkaan dalam waktu dekat.

Senator Thailand sekaligus juru bicara Komite Militer dan Keamanan Negara Senat, Chaiyong Maneerungsakul, mengeluarkan peringatan serius terkait kerentanan pasokan energi di wilayah selatan Thailand. Meski secara nasional Thailand memiliki cadangan minyak untuk 60 hari, distribusi di tingkat regional, khususnya di Surat Thani dan Songkhla, disebut hanya mampu bertahan selama 15 hari jika terjadi gangguan rantai pasok global.

Sebagai mantan pedagang grosir minyak, Chaiyong memahami betul anatomi logistik energi di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan dapat memaksa pemerintah menerapkan skema penjatahan (rationing) untuk menjaga stabilitas stok lokal.

"Situasi ini menuntut kesiapsiagaan tinggi. Jika distribusi dibatasi, depot di selatan akan menghadapi tekanan besar hanya dalam waktu dua minggu," ungkap Chaiyong.

"Masyarakat mungkin tidak akan kekurangan minyak secara total, namun dampaknya akan sangat terasa pada harga," ujar Chaiyong. Ia memprediksi adanya potensi pembatasan jam operasional SPBU hingga pengurangan alokasi pengiriman BBM hingga 50% jika situasi memburuk.

Sektor industri kecil juga mulai terpukul. Oranuch Deeduaychat, pengusaha pakan ternak di Nakhon Ratchasima, mengaku telah menginstruksikan stafnya untuk menimbun cadangan solar guna menjaga operasional alat berat. Jika kondisi tidak segera membaik, kata dia, tak menutup kemungkinan dirinya akan menaikkan harga produk agar dapat bertahan. Saat ini, harga solar di tingkat lokal telah mencapai 30,36 baht (sekitar Rp16.240) per liter, melampaui batas atas yang ditetapkan pemerintah sebesar 29,94 baht.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menegaskan bahwa Kementerian Energi terus memantau situasi dengan ketat. Namun, para pelaku usaha khawatir jika disrupsi terus berlanjut, kenaikan biaya produksi tidak akan terhindarkan dan akan dibebankan kepada konsumen, yang pada akhirnya memicu inflasi nasional. (Bangkok Post/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya