Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Navigasi Geopolitik Prabowo: Membaca Alur Perang Dingin Baru Melalui Logistik dan Energi

Cahya Mulyana
11/3/2026 18:52
Navigasi Geopolitik Prabowo: Membaca Alur Perang Dingin Baru Melalui Logistik dan Energi
Kilang Minyak(MI)

​KONDISI dunia saat ini tidak sedang menghadapi ancaman kehancuran total lewat perang nuklir, melainkan sedang "menikmati" ketegangan yang panjang (sustained tension). Dalam kacamata geopolitik, Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto tampak memahami bahwa Proxy War masa kini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, melainkan penguasaan urat nadi kehidupan yakni energi, air, dan jalur logistik.

Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi, Bungas T Fernando Duling menyatakan langkah Presiden yang tetap berpijak pada Dasasila Bandung, di tengah gesekan blok Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bukan sekadar romantisime sejarah.

"Ini adalah kalkulasi intejen yang matang. Ketika AS di era Trump (dan pasca-Obama) cenderung proteksionis namun agresif terhadap titik panas seperti Iran, Indonesia mengambil posisi sebagai 'penyeimbang yang mandiri'," kata Fernando Duling dalam keterangannya, Rabu (11/3).

Ia menyatakan, ​Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo menyadari, bahwa menjadi pengikut salah satu blok hanya akan menjadikan sumber daya kita sebagai bahan bakar bagi kemajuan negara lain. "Maka, penguatan domestik adalah jawaban atas ancaman proxy war tersebut," ujarnya.

Indonesia sebagai eksportir batu bara termal nomor 1 dunia adalah kunci. Kebijakan memperketat ekspor melalui penguatan Domestic Market Obligation (DMO) bukan sekadar aturan dagang, melainkan senjata geostrategis. "​Logika barunya adalah, jika dulu kita bangga menyuplai listrik untuk Tiongkok, India, dan Jepang, kini logikanya dibalik. Batu bara tersebut harus menjadi "darah" bagi industri dalam negeri," kata Fernando Duling.

Dan dengan mengedepankan visi listrikisasi sebagai jantung kemandirian, akan mengubah ketergantungan pada BBM (yang impornya membebani APBN) menjadi listrik yang bersumber dari kekayaan bumi sendiri. "Ini adalah langkah defensif sekaligus ofensif dalam ekonomi global," ungkapnya.

Inilah poin paling krusial bagi PT KAI dan KAILOG. Perintah Presiden untuk membangun lintasan rel Trans-Kalimantan dan luar Jawa dengan fokus pada angkutan sumber daya alam (SDA) adalah pergeseran besar. Selama puluhan tahun, kereta api di Indonesia identik dengan angkutan penumpang (human-centric). Namun dalam peta geostrategis Prabowo, kereta api dikembalikan fungsinya sebagai Heavy Haul Railway (kereta angkutan berat).

"Peluang KALOG dalam jangka pendek adalah menjadi integrator logistik di mulut tambang dan pelabuhan. Penguasaan first mile dan last mile untuk memastikan batu bara mengalir ke pembangkit domestik tanpa hambatan," kata Fernando Duling.

Sementara untuk peluang KAI di jangka menengah dan/atau panjang adalah membangun ekosistem "Rel Komoditas" di luar Jawa. "Rel bukan lagi sekadar besi yang melintang, tapi merupakan alat mobilisasi kekayaan negara agar tidak bocor ke luar secara mentah," ucapnya.

Ia mengingatkan, dunia mungkin nyaman dengan gesekan AS-RRC Pasca Perang Dingin, tapi Indonesia harus nyaman dengan kekuatannya sendiri. "Dengan membentuk Satgas khusus dan memprioritaskan kedaulatan energi, Indonesia sedang membangun benteng," ucapnya lagi.

Terakhir, ia menegaskan, ​jika KAI dan KALOG mampu menterjemahkan visi ini ke dalam infrastruktur yang efisien, maka distribusi energi bukan lagi soal logistik semata, melainkan soal menjaga martabat negara di mata dunia. ​"Di tengah perebutan minyak dunia, siapa yang menguasai listrik dan jalur logistiknya, dialah yang memegang kunci kedaulatan," pungkas Fernando Duling. (Cah/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya