Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Apindo: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Biasa Saja, harus Ada Akselerasi

Naufal Zuhdi
05/2/2026 15:55
Apindo: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Biasa Saja, harus Ada Akselerasi
Ilustrasi(Antara)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39% secara tahunan (year on year/YoY) menunjukkan bahwa fundamental perekonomian nasional tetap tangguh di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian. Namun, dunia usaha menilai capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan akselerasi pertumbuhan yang optimal.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, secara tahunan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11% YoY, meski sedikit di bawah target APBN 5,2%, pada dasarnya sejalan dengan proyeksi Apindo sejak awal tahun.

“Ini mencerminkan pertumbuhan yang stabil, tetapi belum bisa dikatakan break out ke fase akselerasi yang lebih tinggi,” ujar Shinta saat dihubungi, Kamis (5/2).

Menurutnya, momentum pertumbuhan pada kuartal IV 2025 menjadi penting karena mencerminkan konsolidasi akhir tahun yang kuat, yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga, aktivitas manufaktur, serta keberlanjutan investasi di sektor-sektor strategis. Kontribusi lima lapangan usaha utama yakni manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan yang mencapai hampir 64% terhadap PDB, menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sektor-sektor produktif utama.

Namun demikian, Shinta mengingatkan adanya variasi kinerja antar sektor yang perlu dicermati lebih lanjut. Secara tahunan, dua dari lima sektor kontributor terbesar justru tumbuh di bawah rata-rata nasional.

“Sektor konstruksi hanya tumbuh 3,81%, sementara sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 0,66%. Ini menandakan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi kita belum sepenuhnya merata,” jelasnya.

Memasuki kuartal I 2026, dunia usaha melihat peluang momentum pertumbuhan untuk tetap bertahan, bahkan menguat secara musiman. Hal ini didorong oleh terkonsolidasinya berbagai faktor musiman seperti Tahun Baru, Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri dalam satu periode.

“Secara historis, kondisi ini menciptakan dorongan permintaan yang signifikan, khususnya bagi sektor manufaktur, perdagangan, logistik, dan jasa,” kata Shinta.

Meski demikian, perhatian dunia usaha justru tertuju pada periode setelah kuartal I 2026, ketika dorongan musiman tidak lagi menjadi penopang utama pertumbuhan. Dalam konteks tersebut, Apindo menekankan pentingnya penguatan kembali kelas menengah sebagai jangkar utama pertumbuhan konsumsi domestik.

“Kepercayaan dan daya beli kelas menengah harus diperkuat melalui stabilitas lapangan kerja yang produktif dan berkelanjutan agar momentum ekonomi tetap terjaga,” ujarnya.

Dari perspektif dunia usaha, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1%-5,2% mencerminkan stabilitas, namun masih tergolong stable but suboptimal. Untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas dan berdaya ungkit tinggi, Apindo menilai perbaikan iklim usaha harus dilakukan secara konsisten.

“Pemangkasan biaya ekonomi tinggi seperti energi, logistik, dan pembiayaan, serta kelanjutan agenda deregulasi, menjadi kunci. Tanpa itu, ruang bagi sektor swasta untuk memperluas kapasitas dan menyerap tenaga kerja akan tetap terbatas,” tegas Shinta.

Ke depan, tantangan utama bukan hanya menjaga pertumbuhan tetap berkelanjutan, tetapi memastikan arah pertumbuhan semakin produktif, inklusif, dan berorientasi jangka panjang.

“Mengubah stabilitas menjadi jalur akselerasi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia benar-benar scalable dan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional,” pungkasnya. (Fal)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik