Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 yang baru dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) penuh kejanggalan dan tanda tanya. Ia pun tidak percaya bahwa data yang disampaikan mewakili kondisi perekonomian nasional yang sebenarnya.
1. Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama terasa janggal. Pasalnya, dia kuartal pertama, yang terdapat momentum Ramadan dan Lebaran, angka pertumbuhan justru lebih kecil.
"Kuartal 1 2025 saja hanya tumbuh 4,87%, jadi cukup janggal ketika pertumbuhan triwulan 2 mencapai 5,12%," ujar Huda dalam keterangan yang dikutip, Rabu (6/8).
2. Pertumbuhan industri pengolahan yang mencapai 5,68%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan 1 2025. Ini tidak sejalan dengan PMI manufaktur Indonesia yang di bawah 50 poin dalam waktu April-Juni 2025.
"Artinya perusahaan tidak melakukan ekspansi (tambahan produksi) secara signifikan. Selain itu, kondisi industri manufaktur juga tengaj memburuk, dengan salah satu leading indikatornya adalah jumlah PHK yang meningkat 32% (YoY) selama periode Januari-Juni," paparnya.
3. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,96%. Dengan sumbangan mencapai 50% dari PDB, tampak janggal karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga triwulan 1 2025 hanya 4,95% tapi pertumbuhan ekonomi di angka 4,87%.
"Tidak ada momen yang membuat peningkatan konsumsi rumah tangga meningkat tajam. Indeks keyakinan konsumen (IKK) juga melemah dari Maret 2025 sebesar 121,1 turun menjadi 117,8 (Juni 2025). Apabila dikaitkan dengan PMTB yang meningkat 6,99% tapi PMI Manufaktur di bawah batas ekspansi," jelasnya.
"Ketidaksinkronan antara data pertumbuhan ekonomi dengan leading indikator, membuat saya pribadi tidak percaya terhadap data yang dirilis oleh BPS," ujarnya
Menurutnya, BPS harusnya menjadi badan yang mengedepankan informasi data yang akurat tanpa ada intervensi pemerintah. Ia juga mendorong BPS untuk menjelaskan secara detail metodologi yang digunakan, termasuk indeks untuk menarik angka nilai tambah bruto sektoral dan juga pengeluaran. (E-3)
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dunia usaha menilai pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 belum sepenuhnya mencerminkan akselerasi pertumbuhan yang optimal.
Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perekonomian nasional yang solid di sepanjang 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum berencana memangkas insentif pajak meskipun nilai belanja perpajakan terus meningkat.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali menegaskan posisinya sebagai fondasi utama perekonomian Indonesia.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Terdapat 1.236 perusahaan industri yang menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kali pada 2026.
Mengawali 2026, kinerja sektor manufaktur Indonesia menguat. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang tetap ekspansif dan meningkat ke 52,6 pada Januari 2026.
Tiongkok membidik target ekonomi 4,5-5% pada 2026. Fokus beralih ke kualitas pertumbuhan dan stabilitas domestik guna menghindari stagnasi jangka panjang ala Jepang.
Fokus kebijakan, sebaiknya diarahkan pada segmen industri perakitan, pengujian, dan pengemasan (assembly, testing, and packaging) serta manufaktur komponen pendukung.
PEMERINTAH menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh solid seiring penguatan fundamental domestik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved